Rasulullah S.A.W Teladan Terbaik (2)


Rahmad Abu Zaki (Majelis Taklim Al Ukhuwah)

Rasulullah adalah sosok teladan yang hidup bersahaja. Meski beliau merupakan kepala negara, beliau tetap bersahaja dalam menjalani kehidupannya. Padahal dengan kekuasaan yang dimilikinya beliau dapat saja berperilaku layaknya pemimpin negeri-negeri Islam saat ini yang bergelimang harta dan fasilitas namun abai terhadap rakyatnya. Bahkan ketika meninggal dunia, baju besi beliau masih di tangan seorang Yahudi yang sebelumnya beliau gadaikan untuk mendapatkan makanan senilai 30 sha’ gandum. Hal yang sama juga berlaku pada keluarga beliau. Hasan telah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Tidak ada makanan sebanyak satu sha’ yang tinggal sampai sore hari di keluarga Muhammad padahal jumlahnya ada sembilan rumah.”

Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Rasulullah saw. duduk di atas tanah, makan di atas tanah, mengikat kambing dan memenuhi undangan para budak.” (HR at-Thabrani dan menurut al-Haitsami sanad hadis ini hasan).

Rasulullah adalah orang melayani dengan kasih sayang. Sikap kasih sayang beliau tidak terbatas hanya kepada keluarga dan para sahabatnya, namun juga kepada umatnya. Bahkan penghormatan beliau terhadap non-Muslim yang hidup dalam Negara Islam juga sangat tinggi. Beliau bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

Siapa saja yang membunuh orang mu’ahad (non-Muslim yang terikat perjanjian dengan Negara Islam) tidak akan mencium bau surga, padahal baunya tercium dari jarak 40 tahun perjalanan (HR al-Bukhari dan Ibnu Majah).

Rasulullah adalah teladan yang tegas dalam menerapkan hukum Allah SWT. Rasulullah saw. tidak pernah berpaling sedikit pun dari apa yang diwahyukan Allah, termasuk dalam menerapkan aturan syariah dalam kehidupan publik. Ketika ada seorang wanita terpandang dari Makzumiyah yang mencuri, sejumlah orang melalui perantara Usamah bin Zaid meminta pengampunan kepada Rasulullah saw. Namun, beliau menolak dan bersabda:

وَاللَّهِ لَوْ كَانَتْ فَاطِمَةُ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Demi Allah, andai Fatimah mencuri, niscaya akan saya potong tangannya. (HR Muslim).

Ketegasan lain terhadap pelaksanaan syariah dan tanpa kompromi juga ditunjukkan oleh sikap beliau yang menolak permintaan delegasi Tsaqif yang akan masuk Islam, namun dengan sejumlah syarat. Mereka meminta agar berhala-berhala mereka tidak dihancurkan hingga tiga tahun. Namun, hal itu ditolak oleh beliau. Mereka lalu mereka meminta ditunda setahun, tetapi juga ditolak. Bahkan mereka meminta sebulan, namun lagi-lagi tidak dikabulkan. Mereka lalu memohon agar tidak dibebankan untuk menjalankan shalat, namun lagi-lagi ditolak oleh beliau. Beliau hanya menyetujui satu syarat—yang bersifat teknis—yakni agar berhala-berhala mereka tidak dihancurkan oleh mereka sendiri. Beliau lalu mengutus Abu Sufyan bin Harb dan Mughirah bin Syu’bah untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut.

Rasulullah juga ahli strategi yang ulung. Rasulullah juga dikenal memiliki kecanggihan strategi, baik dalam urusan pemerintahan maupun militer. Dengan kekuataan SDM yang terbatas, beliau dapat menaklukkan jazirah Arab dalam waktu singkat. Untuk menaklukkan Khaibar dan sejumlah suku-suku yang bersekutu dengan Suku Qurays, beliau terlebih dulu mengikat kafir Qurays dengan Perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah yang juga dibantu oleh Sahabatnya menerapkan strategi perang yang belum masyhur di jazirah Arab namun efektif mengalahkan musuh, seperti penggunaan parit pada Perang Ahzab, pengepungan Makkah dengan empat jalur penyerangan, dan penggunaan dababah dan manjaniq untuk meruntuhkan benteng-benteng Bani Tsaqif dan Thaif.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post