Seruan Al Qur'an


Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK

Ramadhan identik dengan al-Quran. Hal tersebut karena pada bulan inilah al-Quran pertama kali diturunkan. Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan QS al-Baqarah ayat 285, menyatakan bahwa Allah SWT memuji dan mengagungkan bulan suci Ramadhan dari bulan-bulan lainya, dengan memilih bulan ini sebagai bulan turunnya al-Quran al-Karim. Oleh karena itu, bulan Ramadhan sering disebut Syahrul Quran.

Al-Quran sejatinya diturunkan oleh Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi orang-orang yang memenuhi seruan-seruannya. Allah SWT berfirman:

تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ – كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Diturunkan dari Zat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (QS Fushilat [41]: 2-3).

Penyebutan dua sifat Allah SWT, yakni ar-Rahmân dan ar-Rahîm, merupakan menegaskan kedudukan al-Quran sebagai rahmat bagi manusia. Hanya saja, rahmat yang terkandung dalam al-Quran itu hanya akan terwujud bila seruan-seruannya dipenuhi. Oleh sebab itu, sering Allah SWT menisbahkan kerahmatan al-Quran itu kepada kaum yang beriman dan mengamalkan pentunjuknya. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah kitab (al-Quran) kepada mereka yang telah Kami jelaskan atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman (QS al-A’raf [ 7]: 52).

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ – هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ

Inilah ayat-ayat al-Quran yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang berbuat kebaikan (QS Luqman [31]:1-3).

Seruan-seruan al-Quran setidaknya memiliki dua aspek: aspek ruhiah dan aspek politik. Aspek ruhiah mencakup pengaturan hubungan manusia dengan Allah SWT seperti salat, puasa, dll. Aspek politik mencakup pengaturan hubungan sesama manusia, khususnya yang menyangkut urusan publik yang dijalankan oleh negara dan dikontrol pelaksanaanya oleh umat. Politik pada hakikatnya adalah pengaturan urusan umat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Menjadikan bulan Ramadhan sebagai Syahrul Quran, seharusnya ditunjukkan dengan memenuhi seruan al-Quran dalam kedua aspeknya itu. Menelantarkan salah satu dari keduanya sama-sama dianggap mengabaikan al-Quran.

Namun sayang, kini ayat-ayat yang bersifat politis itu belum mendapat perhatian sebagaimana ayat-ayat yang menyangkut aspek ruhiah. Oleh sebab itu, pantas kerahmatan Islam itu belum sepenuhnya terwujud.

Di antara ayat al Quran yang bersifat politis itu, misalnya: Pertama, ayat-ayat yang menyangkut kewajiban penerapan hukum Islam dalam aspek publik baik terhadap kaum Muslim ataupun non-Muslim, yang hakikatnya merupakan politik dalam negeri dalam Islam, seperti firman Allah SWT:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Tuhanmu, mereka hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka atas putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS An-Nisa [4]: 65).

Ayat ini menegaskan kewajiban menjadikan Rasulullah saw. sebagai hakim. Ketika Rasulullah saw sudah wafat, ayat ini bermakna kewajiban berhukum dengan syariah yang dibawa oleh beliau. Siapa pun yang menjadi penguasa wajib terikat dengan syariahnya. Siapa pun yang ingin memutuskan perkara dalam hal peresengketaan mereka wajib membawanya kepada hakim atau pengusa yang berhukum dengan hukum Islam.

Ayat sebelumnya juga menegaskan larangan berhukum kepada thâgût. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan, makna thaghût meliputi al-ma’bûd (setiap yang diibadahi selain Allah SWT), al-matbû’ (setiap yang diikuti tanpa dasar pengetahuan) dan al-muthâ’ (setiap yang ditaati bukan dalam hal ketaatan kepada Allah SWT). Beliau pun menegaskan bahwa berhukum kepada selain syariah yang dibawa oleh Rasulullah saw. adalah termasuk berhukum pada hukum thâgût (Ibn al-Qayyim, I’lam al-Muwaqi’în, 1/50).

Apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw dan dijadikan dasar dalam memutuskan perkara di tengah-tengah manusia tiada lain adalah wahyu. Dengan kata lain, keputusan Rasulullah saw. merupaka perkara agama. Inilah di antara aspek politik yang diajarkan al-Quran kepada kita. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepada kamu dengan membawa kebenaran agar kamu mengadili manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepada kamu. Janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat (QS an-Nisa’ [4]:105).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post