Sukses Ramadhan (2)



Abu Inas (Tabayyun Center)


Untuk meraih kesuksesan pada bulan Ramadhan kita harus memperhatikan dan menyiapkan input dan proses selama Ramadhan. Dari sisi aktivitas, ada tiga hal yang perlu dilakukan. 


Pertama: ilmu. Walaupun puasa Ramadhan sudah kita jalani setiap tahun, kita perlu mengkaji kembali hukum-hukum, ketentuan puasa dan semua amal yang terkait. Kajian kembali terhadap semuanya itu bisa saja mendatangkan pemahaman yang lebih dalam dan lebih kuat, sehingga kita bisa menjalankan puasa dan amal-amal Ramadhan itu secara lebih mantap.


Lebih dari itu, pengkajian kembali itu akan menciptakan kesadaran baru atau memperbarui kesadaran untuk melaksanakan puasa. Dengan begitu, puasa Ramadhan dan seluruh amal yang ada di dalamnya tidak akan dijalani sekadar ritual rutin tahunan, karena hakikat puasa adalah penghambaan dan pengorbanan untuk Allah. Dengan bekal ilmu itu, kita akan lebih berhati-hati menjalani puasa dan semua amal lain, disertai kesadaran sedang menjalankan ibadah kepada Allah. Dengan begitu kita akan senantiasa merasa berhubungan dengan Allah SWT.


Kedua: aspek ruhiah dan upaya “memperbarui” keimanan. Ini perlu agar kita memasuki bulan Ramadhan betul-betul dengan sepenuh keimanan dan kesadaran melaksanakan perintah Allah; penuh dengan kesungguhan untuk menggapai keridhaan-Nya serta berharap betul untuk mendapatkan ampunan-Nya. Sebab, keberhasilan proses selama Ramadhan itu memang bergantung pada landasan iman dan niat semata-mata untuk mencari ridha Allah. Allah sendiri menyerukan kewajiban berpuasa itu kepada orang-orang yang beriman (QS al-Baqarah [2]: 183). Artinya, hanya mereka yang menjalani puasa dengan landasan iman —juga yang selama berpuasa Ramadhan dan melaksanakan amal-amal di dalamnya diliputi oleh suasana keimanan saja— yang akan berhasil meraih output sebagai insan takwa. Hal itu juga ditegaskan dalam hadis Rasul di atas.


Ketiga: proses. Kita perlu melakukan program Ramadhan dan apa saja yang akan kita kerjakan selama bulan Ramadhan. Dengan begitu, tidak ada kesempatan yang terabaikan dan Ramadhan bisa kita jalani secara maksimal. Bagus kiranya dibuat rencana, jadwal dan programnya; juga tolok ukur dan pengawasan atas capaiannya serta solusi-solusi alternatifnya. Dengan begitu amal ibadah dan peningkatannya akan lebih disiplin. Sebab, sekecil apapun suatu aktivitas —apalagi amal besar— jika dijalankan secara langgeng dan disiplin, hasilnya tentu akan luar biasa. Dalam bahasa hadis, amal yang kontinu (terus-menerus), sekalipun kecil, adalah amal yang terbaik dan dicintai Allah.


Inti dari amalan-amalan Ramadhan itu adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Bisa jadi banyak dari kaum Muslim yang memahami taqarrub itu hanya terkait dengan amal ibadah ritual saja, atau bahkan hanya terkait dengan ibadah-ibadah sunnah saja. Hal itu bisa jadi karena keawaman dan kekurangilmuan mereka; bisa jadi pula karena paham Sekularisme —pemisahan agama (Islam) dari kehidupan— yang tanpa disadari telah tertanam dalam diri mereka. Bahkan Sekularisme itu tanpa disadari telah dijadikan dasar untuk memahami ajaran Islam.


Kesuksesan menjalani proses selama Ramadhan hanya akan bisa kita raih jika pemahaman tentang Sekularisme itu kita tanggalkan dan kita tinggalkan, kemudian kita mengambil Islam secara utuh sebagai sebuah sistem kehidupan.

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post