Tidak Memilih-Milih Perintah Dan Larangan Allah SWT


Suardi Basri 

Allah SWT berfirman di ujung ayat QS al-Baqarah [2]: 183: la’allakum tattaqûn. Imam ath-Thabari menafsirkan ayat ini, “Maksudnya adalah agar kalian bertakwa (menjauhkan diri) dari makan, minum dan berjimak dengan wanita ketika berpuasa.”

Imam al-Baghawi memperluas tafsiran tersebut dengan penjelasannya, “Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertakwa dengan sebab berpuasa. Puasa adalah wasilah menuju takwa karena dapat menundukkan nafsu dan mengalahkan syahwat. Sebagian ahli tafsir juga menyatakan, maksudnya: agar kalian waspada terhadap syahwat yang muncul dari makanan, minuman dan jimak.”

Dalam Tafsir Jalalayn dijelaskan dengan ringkas, “Maksudnya, agar kalian bertakwa dari maksiat. Sebab, puasa dapat mengalahkan syahwat yang merupakan sumber maksiat.”

Dalam bahasa Arab, takwa berasal dari kata kerja ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Bertakwa dari maksiat maksudnya waspada dan takut terjerumus dalam maksiat. Adapun secara istilah, definisi takwa yang terindah adalah yang diungkapkan oleh Thalq bin Habib al-’Anazi:

اَلْعَمَلُ بِطَاعَةِ اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، رَجَاءَ ثَوَابِ اللهِ، وَتَرْكِ مَعَاصِي اللهِ، عَلَى نُوْرٍ مِنَ اللهِ، خَافَةَ عَذَابِ اللهِ

Takwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah dengan cahaya Allah (dalil), mengharap ampunan-Nya, meninggalkan maksiat dengan cahaya-Nya (dalil) dan takut terhadap azab-Nya.”

Demikianlah sifat orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa beribadah, bermuamalah, bergaul, mengerjakan kebaikan karena ia teringat dalil yang menjanjikan pahala dari Allah SWT; bukan atas dasar ikut-ikutan, tradisi, taklid buta, atau orientasi duniawi. Orang bertakwa juga senantiasa takut mengerjakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena ia selalu mengingat ancaman-Nya yang pedih. Dari sini kita tahu bahwa ketakwaan tidak mungkin tercapai tanpa memiliki ilmu tentang al-Quran dan as-Sunnah.

Orang yang bertakwa tidak akan berani memilih-milih dan memilah-milah perintah dan larangan Allah SWT. Semua perintah dan larangan-Nya akan diperhatikan secara seksama agar tidak ada yang dilanggar. Semua ajaran Islam diyakini dan ditaati tanpa bersikap mendua, termasuk kewajiban menegakkan Khilafah. Bahkan Khilafah merupakan tajul furudh (mahkota kewajiban) karena begitu banyak kewajiban syariah yang bergantung pasa keberadaan Khilafah. Karena itu orang yang bertakwa pasti sangat bersemangat memperjuangkan Khilafah. Apalagi dengan raihan spirit Ramadhan, yakni dengan peningkatan derajat ketakwaan. Inilah  bahan bakar untuk berjuang yang tak akan padam.

Sudah sepantasnya umat Islam seluruhnya berlomba-lomba untuk berjuang menegakkan Khilafah sebagai bukti ketakwaannya kepada Allah SWT. Jika seseorang memenuhi kriteria ini, layaklah ia menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian (QS al-Hujurat [49]: 13).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post