Tragedi Palestina Sekedar Masalah Kemanusiaan? - SpeakUP-Community

Breaking

Breaking News:

test banner

Saturday, April 3, 2021

Tragedi Palestina Sekedar Masalah Kemanusiaan?



Abu Inas (Tabayyun Center) 

Jika dihitung sejak pendudukan Israel sekaligus pendirian Negara Israel itu di Palestina pada tahun 1948 hingga hari ini, maka Tragedi Palestina sudah berumur lebih dari 73 tahun. Selama itu pula sudah tak terhitung korban di pihak rakyat Palestina. Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina seolah tak pernah akan berhenti, terus berulang dari waktu ke waktu.

Anehnya, setiap kali muncul kasus kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina, hal itu sekadar dianggap sebagai masalah kemanusian; apalagi jika yang menjadi korban tidak hanya pihak Muslim, tetapi juga non-Muslim.

Padahal Tragedi Palestina tentu bukan semata-mata masalah kemanusiaan, tetapi masalah akidah (Islam). Kita harus menyadari, saat kita memandang Isu Palestina bukan lagi sebagai masalah akidah/agama, dan semata-mata masalah kemanusiaan, kita sesungguhnya sudah menjadi korban manipulasi opini yang dikembangkan Barat. Sebabnya jelas, Barat imperialis selalu berusaha menggeser isu Palestina semata-mata sebagai masalah kemanusiaan, bukan masalah agama. Pasalnya, barat itu amat paham, sekali kaum Muslim mengaitkan isu Palestina dengan masalah agama (Islam), mereka akan dengan mudah menyuarakan perang melawan penjajah Palestina itu. 

Bagi kaum Muslim, akar persoalan Palestina (sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga hari ini) sesungguhnya bersinggungan dengan aspek akidah/syariah Islam

Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum Muslim. Di tanah ini berdiri al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki al-Quds. Pertama: tanah wahyu dan kenabian. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi).

Kedua: Tanah kiblat pertama. Arah kiblat pertama bagi Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslim adalah Baitul Maqdis (al-Quds) sampai Allah SWT menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144).

Ketiga: Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi. Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja  kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidil Haram (di Makkah) dan Masjid al-Aqsha.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali shalat di Masjidil Haram sama dengan 100.000 shalat. Sekali shalat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1000 shalat. Sekali shalat di Masjid al-Aqhsa sama dengan 500 shalat.”  (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar).

Keempat: tanah ibukota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibukotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir).
 

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here