Agar Spirit Ramadhan Tidak Pudar


Hadi Sasongko

Bulan Ramadhan yang telah kita jalani sejatinya merupakan medium perubahan. Ramadhan harus menjadi ‘pembeda’ antara kondisi pra Ramadhan dan pasca Ramadhan. Jika sebelum Ramadhan seorang Muslim masih banyak melakukan keharaman, misalnya, maka pasca Ramadhan tentu ia akan meninggalkannya. 

Begitupun jika sebelumnya ia banyak meninggalkan kewajiban, pasca Ramadhan idealnya ia akan melaksanakannya. Singkatnya, pasca Ramadhan idealnya seorang Muslim semakin terikat dengan hukum-hukum Allah SWT. Itulah cerminan dari takwa sebagai hasil dari ibadah shaum yang dia lakukan selama Ramadhan.

Ketakwaan individual dari mayoritas kaum Muslim sebagai hasil shaum Ramadhan idealnya juga tercermin dalam kehidupan kolektif atau sosial mereka. Paling tidak, itu mestinya tercermin dari kerinduan dan keinginan mereka untuk diatur dengan hukum-hukum Allah SWT. Bahkan harusnya mereka berupaya dan berjuang bersama-sama untuk menegakkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. 

Pasca Ramadhan, para penguasa mereka harusnya juga tak ragu lagi untuk segara mencampakkan hukum-hukum kapitalistik dan bersegera menerapkan secara total hukum-hukum Islam. Itulah wujud dari ketakwaan mereka yang sesungguhnya sebagai hasil dari shaum mereka selama Ramadhan.

Sayang, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, kondisi kaum Muslim tidak banyak berubah. Dunia muslim masih terbebani wabah korupsi, pornografi-pornoaksi dan perzinaan tetap merajarela; kejahatan makin meningkat; narkoba dan seks bebas di kalangan remaja masih membuat miris, dsb. Penegakan hukum pun masih amburadul: biaya pendidikan dan kesehatan masyarakat masih tinggi, ekonomi rakyat makin morat-marit, kemiskinan dan pengangguran makin marak, kelaparan dan gizi buruk makin meningkat; sementara kekayaan alam milik rakyat makin banyak dikuasai pihak asing. Semua ini terjadi justru di tengah berlimpah-ruahnya kekayaan alam negeri ini. Tentu, semua ini terjadi karena negara ini dan penguasanya tetap enjoy berkubang dalam sistem Kapitalisme yang justru menjadi biang dari semua krisis multidimensi yang dialami bangsa ini. Mereka tetap enggan menerapkan syariah Islam.

Kondisi ini jelas bertentangan dengan realitas ketakwaan yang sejatinya mereka tunjukkan pasca Ramadhan. Karena itu, penting bagi setiap Muslim, rakyat maupun penguasanya, untuk tetap memelihara spirit Ramadhan, juga Idul Fitri yang berarti kembali pada fitrah ketaatan kepada sang Pencipta, meski Ramadhan telah berakhir.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post