Berlomba dalam Kebaikan dalam Bingkai Syariah Islam


 Oleh : Kurdiy At Tubany


Ada sebuah fragmen menarik antara sahabat Umar Bin Khatab ra dan Sahabat Abu Bakar ra pada suatu hari menjelang perang Tabuk, sebuah kisah tentang sedekah antara Umar bin Khatthab dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. 


Saat itu, Rasulullah Saw memerintahkan kepada mereka untuk memberikan infak terbaik.


Umar saat itu membatin, ia ingin melampaui Abu Bakar dalam memberikan infak terbaik ini. Kebetulan saat itu ia sedang memiliki kelebihan harta. "Ini kesempatan terbaik!" Ujarnya dalam hati.


Ia pun pulang ke rumah dengan hati gembira. Sesampainya di rumah, Umar membagi dua harta miliknya. Setengah ditinggalkannya untuk keluarga, setengah lagi ia serahkan kepada Rasulullah Saw.


Menerima pemberian Umar, Rasulullah Saw bertanya kepadanya, apakah ada harta yang ia tinggalkan untuk keluarganya. Umar pun menjawab, ada. Rasulullah Saw lanjut bertanya, apa yang ditinggalkannya. "Saya tinggalkan untuk mereka setengah dari harta saya," jawab Umar.


Tak berapa lama datanglah Abu Bakar dengan hartanya. Rasulullah Saw pun bertanya kepada Abu Bakar, apakah ia meninggalkan hartanya untuk keluarga. "Saya tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya," jawab Abu Bakar mantab.


Jawaban Abu Bakar begitu menyentak. Abu Bakar memberikan seluruh hartanya sebagai infak terbaiknya untuk Rasulullah Saw. Melihat apa yang dilakukan Abu Bakar, Umar berkata, "Saya tidak akan pernah dapat mengalahkan Abu Bakar."


Kedua sahabat Nabi Saw ini saling berlomba dalam amal saleh dan kebaikan dengan memberikan infak atau sedekah terbaik mereka. Anjuran sedekah di jalan Allah ini disambut penuh suka cita oleh para sahabat, meski melebihi kemampuan mereka. 


Naungan Sistem Islam Jadi Pembeda


Sebuah fragmen episode kehidupan sahabat dalam urusan sedekah ini tentu luar biasa, tetapi yang jarang terekspos adalah mengapa sahabat bisa memiliki sifat dan sikap yang seperti itu?


Setidaknya ada 2 faktor yang membuat sahabat menjadi sosok-sosok yang sepertinya tidak pernah eman dalam urusan pengorbanan harta untuk dakwah Islam, yakni factor keyakinan/keimanan kepada Allah dan yang kedua adalah keberadaan para sahabat yang dinaungi oleh sistem kehidupan Islam, dipayungi oleh syariat Islam.


Dengan  dengan pengaturan ekonomi-politik berdasarkan syariat Islam yang dijalankan oleh daulah Islam yang pada saat itu dipimpin oleh Rosulullah SAW langsung, Daulah Islam telah menjamin Kebutuhan dasar masyarakat berupa Keamanan, Pendidikan dan Kesehatan serta pula menjamin Kebutuhan dasar individu berupa Sandang, Pangan dan Papan.


Dengan pengaturan yang adil, Islam mampu mewujudkan kebutuhan dasar masyarakat dan kebutuhan dasar individu. 

Dengan kondisi kehidupan  dimana sistem telah menjamin kebutuhan dasar masyarakat dan juga kebutuhan dasar individu serta didukung dengan pengaturan ekonomi yang berjalan adil maka bisa dipastikan tak sedikit orang yang akan dengan mudah untuk bersedekah sebanyak harta yang dia punya. 


Bedakan dengan kondisi sekarang, dimana kebutuhan dasar masyarakat, kebutuhan dasar individu tidak ada yang menjamin, semua harus mengusahakan sendiri..sementara pendidikan mahal, kesehatan mahal, harga rumah makin mahal maka tentu tak mudah untuk menemukan orang-orang yang dengan ringan menginfakkan seluruh hartanya.


Kondisi dimana kapitalisme-sekuler menaungi kita semua kini benar-benar menyulitkan bagi kita, kaum muslimin untuk memaksimalkan ikhtiar dalam rangka pengabdian terbaik kepada Allah SWT.


Jadi bicara sedekah, bicara sholat khusyu' dll itu semua tidak bisa dilepaskan dari keberadaan daulah Islam, penerapan syariat Islam.. Disitulah ibadah apapun bentuknya menjadi kian mudah dan dampaknya Ridho Allah, surgaNya Allah.. insyaAllah..biidznillah makin.mudah kita raih.

Wallahu a'lam..

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post