DERITA PALESTINA, DERITA DUNIA MUSLIM


Aminudin Syuhadak
Direktur LANSKAP

Di tengah ramainya dukungan dan pembelaan Palestina atas panjajahan Zionis Israel masih saja ada oknum-oknum yang membela Israel, atau yang secara naif menyatakan bahwa Palestina memang perlu dibela tapi jangan lupakan problem dalam negeri yang terus saja sarat kasus korupsi, kemiskinan, pandemi, bla bla bla.

Tentu saja ini hal yang wajar, sudah kodrati ada blok yang mendukung keadilan, kebenaran dan ada yang sebaliknya memihak kepada kezaliman, kebatilan (yang dalam pandangan blok ini justru 'dilihat' sebagai keadilan dan kebenaran). Ini persoalan standar yang dipakai.

Namun yang pasti, bagi seorang Muslim yang beriman maka tidak ada standar lain dalam melihat persoalan Palestina selain standar Islam. Aneh ketika ada Muslim yang menggunakan standar kapitalisme, imperialisme yang seringnya dibalut dengan istilah kemanusiaan, HAM atau sejenisnya dalam melihat dan menyikapi soal Palestina ini.

Silakan saja berkutat dalam polemik asal-usul Palestina secara historis emporis maupun secara mistis dogmatis. Tapi jangan pernah silap bahwa Palestina yang hari ini dicaplok Zionis Israel adalah negeri Muslim yang sejak 1948 hingga detail ini terus saja mengalami penderitaan akibat invasi dan aneksasi Israel. Silakan googling berapa juta jiwa dan berapa milliar dollar kerugian materi akibat zionisme Israel tersebut. 

Silakan dicek pula berapa ratus resolusi perdamaian yang sudah dikeluarkan dan semuanya tumpul tak mampu dijadikan solusi pembebasan Palestina. Kenapa? 

Pertama, perlu dipahami secara utuh bahwa pangkal masalah Palestina adalah masalah penjajahan, zionisme. Sebuah negeri yang merdeka kemudian diserang, diinvasi secara militer, dilumpuhkan secara politik, dicaplok wilayahnya dan diusir warganya oleh sebuah entitas yang bukan negara, karena sebelumnya tidak ada yang namanya negara Israel. Jadi ini awalnya bukan soal konflik dua negara. 

Kedua, selama resolusi perdamaian tersebut mendudukkan Palestina dan Zionis Israel sebagai  entitas yang setara maka ini sama saja mengakui eksistensi Zionis Israel yang sebenarnya tidak ada, karena entitas ini ada setelah mencaplok wilayah Palestina. Artinya resolusi perdamaian ala PBB justru merestui dan melegalkan keberadaan Zionis Israel sebagai satu entitas. Ini kekeliruan terbesar.

Ketiga, maka solusi yang mendasar adalah dengan membatalkan legalitas eksistensi Zionis Israel, lalu mengembalikan seluruh wilayah Palestina seutuhnya dan mengusir Zionis Israel dari tanah Palestina.

Pertanyaannya adalah apakah solusi semacam ini bisa diharapkan dari PBB yang notabene adalah pihak yang melegalkan eksistensi Israel? Atau dari Amerika Serikat dan sekutu Baratnya yang justru bidan kelahiran Zionis Israel? Atau dari pemimpin-pemimpin 50 lebih negeri Islam yang sudah "tunduk" kepada imperialisme global hari ini? Silakan dirasionalisasi sendiri.

Terakhir, tentu tak tepat mengomparasi antara pembelaan terhadap Palestina dengan penyelesaian problem dalam negeri. Keduanya adalah problem yang berbeda namun dengan penyebab yang sama yaitu dirampasnya kemerdekaan manusia oleh hegemoni tangan-tangan rakus imperialis global. Dan akibatnya bukan hanya telah menimpa Palestina, atau negeri ini, atau negeri-negeri tertindas lainnya semisal Rohingya, Uyghur, Khasmir, Afghanistan dan lainnya. Karena  hakikatnya ketika penjajahan satu entitas terhadap entitas lainnya di dunia ini dibiarkan maka sebenarnya penderitaan itu akan menimpa dan dirasakan seluruh Dunia, bukan hanya Palestina atau Indonesia. Dan kezaliman itu akan menimpa bergenerasi, bisa Anda bayangkan jika yang menimpa Pestina menimpa wilayah Anda dan  anak turun Anda hidup?

Dan bagi seorang muslim yang beriman, solusi tuntas atas Palestina maupun negeri lainnya yang menderita akibat hegemoni imperialisme global adalah dengan kembali kepada Islam seutuhnya, karena Islam adalah rahmatan lil 'alamin. Islam menebarkan perdamaian dan mengeliminasi penjajahan. 

Secara praktis, kembali kepada Islam bukan sekedar seruan atau jargon heroik yang kosong dari kenyataan. Kembali kepada Islam adalah kembali menerapkan Islam sebagai aturan hidup global (awas! Bukan menjadikan semua orang harus Islam). Ketika Islam diterapkan dan ditegakkan sebagai peraturan gidup global maka tidak ada tempat bagi kezaliman dan penjajahan dalam format apapun, karena itu sudah menjadi janji Allah SWT. 

Dan yang paling penting sebagai catatan adalah mustahil kedudukan Islam sebagai aturan hidup global itu akan mewujud dalam sistem yang eksis hari ini apakah kapitalisme maupun sosialisme dengan format kerajaan atau republik, melalui demokrasi atau teokrasi. Aturan Islam itu hanya bisa mewujud dalam satu dan satu-satunya sistem yaitu Khilafah ala metode kenabian, layaknya era Khilafah Rasyidin. Karena hanya itu yang diwajibkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post