Islam Dan Perlindungan Kehormatan


 Taufik S. Permana 


Amuriyyah menjadi kota terpenting di Romawi selain Konstantinopel.  Penaklukan kota ini pada Ramadhan 223 H sebenarnya sangat erat kaitannya dengan upaya pembelaan atas penindasan yang dialami salah seorang Muslimah di sana.


Dalam kitab Ma’âtsir al-Inâfah, Al-Qalqasyandi menceritakan, bahwa penguasa ‘Amuriyyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa, lalu berteriak, ”Wahai Mu’tashim!”


Raja Romawi pun berkata kepada dia, ”Tidak akan ada yang membebaskan kamu, kecuali menaiki beberapa Balaq (kuda yang mempunyai warna hitam-putih).”


Jeritan itu pun sampai kepada Khalifah al-Mu’tashim, lalu dia memberikan komando kepada pasukannya untuk mengendarai kuda Balaq. Dia pun keluar, memimpin di depan pasukannya, dengan 4.000 Balaq, tiba di ‘Amuriyah dan menaklukkannya. Dia membebaskan wanita mulia tersebut, dan berkata, ”Jadilah saksi untukku di depan kakekmu (Nabi Muhammad saw.), bahwa aku telah datang untuk membebaskan kamu. Dengan memimpin pasukanku, yang terdiri dari 4.000 Balaq.”  


Ibn Khalikan juga menuturkan dalam Wafyah al-A’yan wa Anbâ’ Abnâ’ az-Zaman, dan Ibn al-Atsir dalam Al-Kâmil fi at-Tarikh. Dinyatakan di dalamnya, ”Ketika berita tersebut sampai ke telinga dia, saat itu dia berada di atas tempat tidurnya. Lalu dia menyambut jeritan itu seraya berkata, “Aku memenuhi panggilanmu. Aku memenuhi panggilanmu.” Kemudian dia berteriak di dalam istananya, “Berangkatkan pasukan! Berangkatkan pasukan!”


Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa ketika itu ada seorang wanita Muslimah di pasar, kemudian ada orang Romawi yang berjalan di pasar tersebut melihat wanita tadi, dan berusaha untuk menggodanya dan menarik jilbab atau jubahnya. Wanita Muslimah itu pun teriak, “Wahai Mu’tashim, di manakah Anda!” Jeritan itu pun terdengar oleh aparat Khalifah al-Mu’tashim, dan mereka menyampaikan hrl itu kepada sang Khalifah. Al-Mu’tashim pun menyiapkan tentara dalam jumlah besar untuk melakukan serangan.


Semua riwayat itu menunjukkan bahwa sejumlah besar pasukan yang dikerahkan untuk menaklukkan Amuriyah karena di sana ada seorang Muslimah teraniaya meminta tolong kepada Khalifah.  Demikianlah bentuk perhatian Khalifah al-Mu’tashim kepada rakyatnya. Jeritan seorang Muslimah saja telah mengusik hatinya.  Kehormatan perempuan wajib dilindungi meski harus dengan mengerahkan ribuan pasukan.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post