Israel, Penyakit Ganas Yang Ditanam Di Jantung Dunia Muslim


Eko Susanto (Direktur CEPS)

Sultan Abdul Hamid II pernah memberi peringatan kepada Theodore Hertzel tokoh utama pendirian negara Israel:

“Nasehatilah Dr. Hertzel agar tidak mengambil langkah-langkah serius dalam masalah tersebut. Karena saya tidak dapat melepaskan Palestina meski sejengkal. Ia bukan milikku, akan tetapi milik ummat Islam. Kaumku telah berjihad dan menumpahkan darah mereka untuk merebut tanah tersebut. Jika suatu saat daulah Khilafah telah tercerai-berai, maka pada saat itu mereka dapat mengambil Palestina tanpa kompensasi apapun.Namun, selama nyawa masih di kandung badan saya, maka dibedahnya tubuh ini lebih ringan bagi saya daripada melihat Palestina lepas dari negara Khilafah. Kami tidak akan pernah setuju jasad kami dibedah sementara kami masih hidup.”

Namun setelah lengsernya Abdul Hamid II pada tahun 1909, orang-orang Yahudi pun dapat melenggang ke Palestina setelah orang-orang Turki Muda menjual tanah-tanah sebagian tanah tersebut kepada orang-orang Yahudi. Jika bukan karena pecahnya perang Dunia I dan penolakan kaum muslimin Palestina menjual tanah-tanah tersebut mungkin seluruhnya telah dikuasai Yahudi. Dari tahun 1909-1914 saja jumlah orang Yahudi yang melakukan migrasi ke Palestina sekitar 12 ribu Orang (Shahwah ar-Rajul al-Marîdh: 220).

Kemudian pada perang Dunia I, yakni 11 Desember 1917 Inggris berhasil menguasai wilayah Palestina. Bahkan pemimpin pasukan sekutu Jendral Allenby berkata:”Sekarang perang Salib telah usai.” Demikianlah dendam kesumat orang-orang kafir yang selama ratusan tahun dapat terbalaskan setelah berhasil melemahkan kekhilafahan Islam.

Kemudian pada tanggal 2 November 1917 Inggris menjanjikan pembentukan negara kepada Yahudi di Palestina melalui perjanjian Balfour. Setelah perang Dunia I berakhir Inggris mendapat mandat dari Liga Bangsa-Bangsa untuk mengontrol Palestina yang salah satu agendanya adalah mempersiapkan berdirinya negara Palestina. Inggris pun mengambil sejumlah langkah untuk merealisasikan perjanjian Balfour. Salah satunya adalah melatih dan mempersenjatai orang-orang Yahudi.

Setelah berakhirnya perang dunia II, Majelis Umum PBB pada tanggal 29 Oktober 1947 mengeluarkan resolusi No. 181 yang membagi tanah Palestina menjadi dua bagian yakni tanah Arab dan tanah Israel. Selanjutnya pada tahun 1948 Israel terlibat perang dengan enam negara Arab—yang juga merupakan kaki tangan Inggris yang bermaksud mencegah berdirinya negara Israel. Perang tersebut sebenarnya merupakan rekayasa Inggris untuk menujukkan kehebatan Israel. Akhirnya tanggal 15 Mei 1948, Israel mengukuhkan dirinya sebagai sebuah negara merdeka. (al-Qadhayâ as-Siyâsiyyah: 6-8)

Setelah itu berbagai perundingan mulai dari Perjanjian Madrid, Oslo hingga Anapolis terus digelar. Tujuannya tidak lain untuk mengokohkan eksistensi negara Yahudi tersebut sambil menyibukkan kaum Muslimin solusi-solusi murahan yang sarat dengan konspirasi negara-negara Barat. Pokok perundingan hanya terbatas pada persoalan perdamaian kedua negara dan upaya pegembalian tanah Palestina yang direbut pada perang 1967 dan bukan meminta pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah Palestina dan penghapusan negara Israel dari peta Arab.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post