Janji Tinggal Janji, Kalau Ingat Segeralah Kembali


 Eko Susanto (Direktur CEPS)


Dunia muslim masih mengadopsi sistem sekuler. Rezim telah beberapa kali berganti. Pemilu, baik legislatif, presiden, maupun kepala daerah sudah diadakan berkali-kali. Namun perubahan lebih baik tak kunjung terjadi. Janji manis para politisi tinggal janji. Keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan hanya mimpi.


Bagaimana keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bisa diwujudkan, sementara sistem yang diberlakukan justru menciptakan ketimpangan, kemiskinan, dan kesengsaraan. Bagaiaman bisa negeri ini terbebas dari penjajahan, sedangkan sistem yang diterapkan justru melempangkan penjajahan. Maka, siapa pun pemimpinnya, jika tidak menyentuh yang diterapkan, tidak akan membawa perubahan.


Inilah yang terjadi di negeri ini. Pangkal penyebab aneka problema di negeri ini adalah sistem batil dan rusak. Sistem itu adalah demokrasi dan liberalisme. Keduanya bersumber dari ideologi kufur, yakni Sekularisme-Kapitalisme.


Prinsip dasar demokrasi adalah kedaulatan rakyat. Prinsip ini menjadikan manusia menjadi pembuat hukum satu-satunya. Ini jelas menafikan otoritas Allah SWT sebagai pembuat hukum. Sedangkan prinsip dasar liberalisme dalam ekonomi adalah kebebasan kepemilikan beserta pengelolaannya.


Ketika sistem tersebut diterapkan oleh negara, maka akan memiliki daya paksa terhadap rakyatnya. Rakyat dipaksa berpaling dari syariah-Nya. Hal itu akan menjerumuskan manusia ke jurang kesengsaraan. Allah SWT berfirman:


﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا﴾


“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit” (QS Thaha [20]: 124). 


Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahul-Lâh dalam tafsirnya, “berpaling dari peringatan-Ku” maknanya adalah menyelisihi perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada para rasul-Ku, berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selainnya sebagai petunjuk.


Maka akibatnya “fa inna lahu ma’îsyatan dzanka”. Maknanya adalah, tiada ketenteraman baginya, tiada kelapangan di dadanya, bahkan dadanya terasa sempit karena kesesatannya, meskipun secara lahir terlihat nikmat, berpakaian dan makan apa pun yang diinginkan, dan tinggal di mana pun dia suka. Maka hatinya tidak akan sampai pada keyakinan dan petunjuk, hatinya akan merasa gelisah, tidak menentu, dan keraguan. Hatinya selalu diliputi dengan sangsi dan kebimbangan.


Bukan hanya menyebabkan penderitaan di dunia, penolakan terhadap syariah juga akan menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Kelanjutan ayat tersebut menegaskan:


﴿وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾


“Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS Thaha [20]: 124).


 Karena itu, negeri ini dan penduduknya bahkan dunia memerlukan Khilafah. Dengan Khilafah, syariah dengan seluruh bagiannya dapat diterapkan. Sebagai hukum yang berasal dari Dzat Maha Benar dan Maha Adil, syariah adalah hukum yang benar dan adil. Dan ketika diterapkan, niscaya akan menghasilkan keadilan dan kebaikan. Kesejahteraan dan keberkahan juga akan didapatkan. Allah SWT berfirman:


﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾


“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS al-A’raf [7]: 96).


 Harus diingat kembali bahwa Khilafah adalah kewajiban syar’i dan sumber kemuliaan kita: al-khilâfatu fardhu Rabbina wa mashdaru ‘izzinâ, Khilafah adalah kewajiban Tuhan kita dan sumber kemuliaan kita.


Wajibnya Khilafah telah diterangkan oleh para ulama mu’tabar. Tidak ada perselisihan di antara mereka. Kemuliaan juga hanya kita dapatkan tatkala kita menerapkan syariah. Sedangkan syariah secara kaffah hanya bisa diterapkan dalam daulah khilafah.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post