Kepemimpin Umum Dan Khusus


 Ahmad Rizal (Direktur ELFIKRA)


Kata imârah bentuk jamaknya imârât. Kata ini berasal dari amara–ya’muru–amr[an] wa imâr[an] wa imârat[an].


Menurut al-Khalil bin Ahmad dalam Kitâb al-’Ayn, al-imârah adalah amir[un] muammar[un] (amir yang diberi hak perintah untuk ditaati).


Al-Jauhari dalam Ash-Shihah fî al-Lughah dan al-Minawi dalam At-Ta’ârif mengartikan imârah dengan al-wilâyah (pemerintahan atau kekuasaan yang mengurusi urusan).


Menurut para ulama, imârah ada dua macam: imârah yang umum (imârah ‘âmah) dan imârah khâshah. Imârah ‘âmah mencakup berbagai urusan dan tidak dibatasi pada satu atau beberapa urusan tertentu. Imârah khâshah dibatasi pada satu atau beberapa urusan atau pada wilayah tertentu.


Imârah ‘âmah yang sebenarnya adalah Khilafah. Jabatan mu’awin tafwidh termasuk imârah ‘âmah. Begitu juga wali atau ‘amil jika diberi wewenang yang umum dalam berbagai urusan, meski dibatasi dari segi cakupan wilayahnya. Namun, dilihat dari segi wilayahnya yang dibatasi, imârah mu’awin tafwidh, wali dan ‘amil itu bisa juga disebut imârah khâshah.


Adapun yang benar-benar imârah khâshah di antaranya imârah dari amir pasukan, qadha’, amil zakat, amirul hajj, amir jamaah atau partai, dan amir safar.


Asal kewenangan imârah khalifah adalah asli dan pokok diperoleh melalui baiat umat dengan ridha dan ikhtiar. Adapun kewenangan imârah lainnya baik mu’awin tafwidh, wali, ‘amil, amir pasukan, qadha’, amil zakat dan amirul hajj diperoleh karena pendelegasian wewenang dari Khalifah/Amirul Mukminin.


Adapun kewenangan imârah amir safar dan amir jamaah/partai, merupakan kewenangan asli bukan dari pendelegasian, tetapi diperoleh dari anggotanya.


Imârah merupakan amanah. Imârah harus diberikan kepada orang yang memang layak. Pemegang imârah harus menunaikan apa yang menjadi kewajibannya. Saat Abu Dzar meminta kepada Rasul saw. agar dijadikan amir (diberi imârah), beliau bersabda:


إنَّكَ ضَعِيفٌ، وإنّها أمانةٌ، وَإنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أخَذَهَا بِحَقِّهَا، وَأدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا


Engkau lemah. Sesungguhnya imârah itu adalah amanah dan pada Hari Kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mendapatkannya dengan benar dan menunaikan kewajibannya di dalamnya (HR Muslim dan al-Baihaqi).


Ada larangan meminta imârah. Rasul saw. bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:


لاَ تَسْأَلِ الإمَارَةَ؛ فَإنّكَ إن أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْألَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْألَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا


Jangan meminta imârah. Sungguh jika engkau diberi imârah tanpa meminta, pasti engkau dibantu dalam imârah itu. Jika engkau diberi imârah karena memintanya, engkau akan dibiarkan dalam imârah itu (Muttafaq ‘alayhi).


Rasul saw. juga enggan memberikan imârah kepada orang yang berambisi memegang jabatan itu. Rasul sw. bersabda:


إنَّا وَاللهِ لاَ نُوَلِّي هَذَا العَمَلَ أحَداً سَألَهُ، أَوْ أحَداً حَرَصَ عَلَيْهِ


Kami, demi Allah, tidak menyerahkan tugas ini kepada seseorang yang memintanya atau seseorang yang berambisi terhadapnya (Muttafaq ‘alayhi).

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post