Kiprah Ulama: Dakwah, Perjuangan, Pergolakan


 Fajar Kurniawan (analis senior PKAD)

 

Sejarah Indonesian sesungguhnya dihiasai dengan tinta emas perjuangan para ulama dalam membebaskan bangsa ini dari penjajahan dan membangun masyarakat islami. 


Para ulama di Indonesia terlibat langsung dalam pembentukan institusi politik di Indonesia pada masa-masa kesultanan Islam. Pada tahun 808 H (1404 M) berangkatlah sembilan ulama dari berbagai tempat di wilayah Daulah Khilafah atas sponsor Sultan Muhammad Jalabi dari Kesultanan Turki Utsmani ke Tanah Jawa melalui Kesultanan Samudera Pasai untuk berdakwah.


Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga dai ulama ke Jawa menggantikan dai yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).


Pada masa penjajahan di Nusantara, para ulama pun ikut berjuang mengusir penjajah. Tuanku Imam Bonjol adalah ulama yang pada tahun 1812-1837 di Minangkabau memimpin  Perang Paderi 1812-1837 melawan Belanda. Tahun 1825-1830 di Jawa, Pangeran Diponegoro memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa, juga lawan penjajah Belanda, dalam rangka mengembalikan nilai-nilai keislamaan dalam tatantan kehidupan masyrakt Jawa. Konsep Perang Jawa ini adalah perang sabil. Penjajah Portugis, saat Masuk ke Sunda Kelapa, dihadang oleh Fatahillah (Menantu Syarif Hidayatullah/Sunan Gunung Jati). Di Makasar, Sultan Hasanuddin juga melakukan perlawanan global melawan penjajah.


Di Aceh, pada 1879-1904, terjadi Perang Aceh, yakni antara Kesultanan Aceh melawan Penjajah Salibis Belanda. Bagi masyarakat Aceh, perang tersebut merupakan perang sabil (Perang di jalan Allah), karena melawan kape (orang kafir) Belanda.  Kekuasaan pelaksanaan perang dipimpin oleh ulama dan uleebalang seperti Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman (Wilayah Aceh Barat dan Aceh Pidie), Teungku Chik Di Paya Bakong bersaudara, Teungku Syeh Ibnu Hajar, Tengku Chik Di Paya Bakong Chatib, Teungku Chik Di Paya Bakong Seupot Mata (wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur), Teuku Cut Ali (Aceh Selatan), dan lain-lain.


Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang sebelumnya Sarekat Dagang Islam. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia, bukan Budi Utomo yang berdiri 1908 dengan digerakkan oleh para didikan Belanda. Lalu tahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan. Sejatinya KH Ahmad Dahlanlah sebagai bapak pendidikan. Pada 17 September 1923  KH Zamzam mendirikan Persis (Persatuan Islam) di Bandung. Melalui organisasi ini, beliau berusaha mengembalikan kaum Muslim pada al-Quran dan al-Hadis; menghidupkan jihad dan ijtihad; membasmi bid‘ah, khurafat, tahayul, taklid dan syirik; serta memperluas tablig dan dakwah Islam. Pada 31 Januari 1926, KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Muhammad Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdhatul Ulama (NU) di Surabaya.


Perjuangan para ulama berlanjut dalam penyusunan konstitusi negara. Perjuangan Islam berhasil dengan menetapkan pemerintah wajib menjalankan syariah Islam bagi umat Islam. Di antara tokoh Islam yang menandatanganinya adalah Abikoesno Tjokrosujoso (Partai Syarikat Islam Indonesia), Abdul Kahar Muzakir (Muhammadiyah), Haji Agus Salim (Partai Penyadar), dan KH A. Wahid Hasyim (Nahdhatul Ulama).  Diproklamasikanlah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.  Ternyata, usianya hanya 1 hari.  Sebab, pada 18 Agustus 1945 tujuh kata ‘dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dalam Piagam Jakarta dicoret oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.  Kejadian yang menyolok mata ini, dirasakan umat Islam sebagai suatu permainan sulap yang diliputi kabut rahasia.


Pasca kemerdekaan, para ulama yang tergabung dalam Masyumi mengelurakan seruan jihad. Masyumi  mengatakan, 60 juta rakyat siap berjihad (7 November 1945). Hal yang sama diserukan oleh ulama NU dengan keluarnya resolusi jihad. Poros perjuangan pun dipimpin oleh para ulama dan pesantren. Perjuangan ulama terus berlanjut hingga kini.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post