Kisah Tanah Suci Yang Bersimbah Luka



Lukman Noerochim

Palestina yang merupakan tempat isra dan mi’rajnya Rasullah saw, kiblat pertama dan kota suci ketiga kaum muslimin Islam hingga saat ini masih terjajah oleh Israel. Konflik nyaris tak pernah padam. Bukan hanya dengan Palestina dengan Israel yang sejak tahun 1948 telah mencaplok sebagian wilayah kaum muslimin tersebut tapi juga perseteruan internal kaum muslim sebagaimana yang terjadi antara Hamas dan Fatah.

Penyiksaan dan pembantaian yang dilakukan secara sadis oleh tentara Israel terhadap kaum muslim hampir tak pernah sepi dari pemberitaan media. Ribuan nyawa kaum muslimin telah melayang dan mereka yang nasibnya terlunta-lunta di daerah pengusian terus bertambah. Saat ini diperkirakan jumlahnya mencapai sembilan juta orang.

Berbagai keprihatinan dan perhatian telah ditunjukkan oleh masyarakat Internasional termasuk pemimpin-pemimpin negeri-negeri Islam terhadap kawasan tersebut, namun kondisinya semakin tidak menentu. Penguasa negeri - negeri muslim sendiri bahkan menegaskan sikap politik luar negerinya terhadap Palestina yakni mendukung berdirinya negara Palestina. Sekilas nampak bahwa dukungan itu bernilai positif bagi perjuangan rakyat Palestina, padahal sejatinya dukungan tersebut justru memperkokoh eksistensi negara Israel dan membuktikan sikap politik dunia muslim sebenarnya tidak berbeda dengan para penguasa negeri-negeri Islam lainnya yang menjadi kaki tangan AS dan Negara-negara Eropa.

Sikap tersebut, pada dasarnya merupakan skenario negara-negara Barat yang dimotori oleh Amerika dan Inggris. Berbagai perundingan telah dirancang untuk merealisasikan tujuan tersebut. Salah satunya adalah Peta Jalan Damai yang digagas oleh Bush yang dikukuhkan pada Perjanjian Anapolis Desember 2007.

Berdirinya negara Palestina dianggap merupakan jalan terbaik untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan di Timur Tengah khususnya bagi rakyat Palestina. Hal tersebut tercermin dari pernyataan Bush yang mengomentari Peta Jalan Damai tersebut yang berjudul A Performance-Based Road Map to a Permanent Two-State Solution to the Israeli-Palestinian Conflict:

The roadmap represents a starting point toward achieving the vision of two states, a secure State of Israel and a viable, peaceful, democratic Palestine, that I set out on June 24, 2002. It is a framework for progress towards lasting peace and security in the Middle East.”(Peta jalan damai tersebut merupakan titik awal untuk mencapai visi dua negara, negara Israel yang aman, dan Palestina yang bergairah, damai dan demokratis yang telah saya rancang pada tanggal 22 Juni 2002. Hal tersebut merupakan kerangka untuk mencapai perdamaian dan keamanan di Timur tengah).(www.whitehouse.gov)

Terampasnya tanah Palestina oleh Israel dan dominasi negara-negara Barat terhadap negeri-negeri Islam lainnya seperti Irak dan Afganistan merupakan buah pahit akibat lenyapnya persatuan umat, sehingga umat butuh institusi yang menjadi tameng kaum muslimin menghadapi negara-negara imperialis. Rasulullah saw bersabda:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ

”Barangsiapa yang mentaati saya maka ia telah mentati Allah dan barangsiapa yang mentaati pemimpin maka ia telah mentaati saya. Barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpin maka ia telah bermaksiat kepada saya. Sesungguhnya imam adalah perisai di mana (kaum muslimin) berperang dan berlindung di baliknya. Jika ia memerintahkan dengan ketakwaan kepada Allah dan berbuat adil maka ia akan mendapat pahala dan jika ia berkata sebaliknya maka ia akan mendapatkan dosa.” (HR. Bukhari-Muslim)


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post