Masih Ada Sisa Waktu Penting


Romadhon Abu Yafi (Penfasuh Bengkel IDE)

Bulan Ramadhan yang agung akan meninggalkan kita. Semoga kita masih bersemangat untuk menggunakan waktu - waktu terbaik untuk meraih takwa. Sebab wajib bagi orang-orang Mukmin meraih takwa bila mereka mengharapkan keridhaan Allah SWT. Apalagi kemenangan sesungguhnya hanya Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa (QS al-Ahzab [33]: 71).

Ketakwaan akan memberikan dampak positif dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Apalagi bila ketakwaan itu terpancar dari seorang pemimpin, insya Allah negeri yang dia pimpin akan jauh dari kesengsaraan dan penderitaan.

Kaum Muslim telah hidup berabad-abad lamanya di bawah pemerintahan Islam, negara Rasulullah Saw, lalu negara Khilafah, dengan aman dan tenteram. Mereka menjalani kehidupan dunia, sementara mereka melihat kehidupan akhirat. Hari demi hari, mereka menunggu bulan Ramadhan, untuk memanen pahala yang besar. Di mana di bulan Ramadhan ini, mereka tidak hanya puasa, namun juga melakukan beberapa rakaat dari shalat Tarawih.

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata: ‘Ya Tuhanku, aku telah menghalanginya dari makan dan minum pada siang hari, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat baginya.’ Alquran berkata: ‘Aku telah menghalanginya tidur di malam hari, maka jadikanlah aku sebagai pemberi syafaat baginya.’ Akhirnya keduanya dapat menjadi pemberi syafaat.” (HR Ahmad). Para sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum, ada di antara mereka yang mengkhatamkan al-Qur’an dalam semalam, ada yang separuh dan ada yang sepertiga. Sehingga, hampir tak ada satupun dari mereka meninggalkan waktu untuk makanannya.

Kewajiban shaum Ramadhan dibebankan kepada kita disertai dengan hikmah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman:

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi di dalam Aysar at-Tafâsîr menjelaskan makna firman Allah SWT ”la’allakum tattaqûn” yakni agar dengan puasa itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk bertakwa, yaitu melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah SWT (Al-Jazairi, Aysar at-Tafâsîr, I/80).

Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa takwa adalah imtitsâlu awâmirilLâh wa ijtinâbu nawâhîhi (melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya).

Perintah dan larangan Allah SWT itu secara sederhana identik dengan halal dan haram, yakni hukum-hukum syariah. Artinya, takwa itu bermakna kesadaran melaksanakan hukum-hukum syariah.

Berikutnya adalah kekuatan doa orang-orang yang berpuasa, yang dinyatakan sendiri oleh Nabi saw:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ

“Ada tiga orang yang doanya tidak akan ditolak [tidak dipenuhi oleh Allah]: Orang yang berpuasa hingga dia berbuka..” [Hr. Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah]Doa-doa mereka tidak akan ditolak oleh Allah. Doa-doa mereka bisa membelah langit dan menggoncang singgasana Allah, sehingga Allah SWT tak kuasa, kecuali mengabulkannya. Itulah doa-doa orang yang berpuasa.

Jika dua kekuatan ini; kekuatan ketaatan dan kekuatan doa orang-orang yang berpuasa menyatu, dan digunakan untuk mewujudkan misi agung, sebagaimana yang dititahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka dua kekuatan ini akan mengundang kekuatan ketiga, yaitu pertolongan Allah SWT. Allah pun menyatakan:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Kami selalu berkewajiban untuk menolong orang-orang yang beriman.” [Q.s. ar-Rum: 47].

Selama Ramadhan, seorang Muslim menjaga dirinya bukan saja dari perkara yang haram, semisal minuman keras atau berzina, tetapi juga dari semua perkara yang dapat membatalkan puasa walaupun sebenarnya di luar Ramadhan itu adalah halal, seperti minum atau berjimak dengan pasangan yang sah.

Seorang Muslim yang sungguh-sungguh berpuasa juga menjaga dirinya dari perkara yang merusak pahala puasa semisal perkataan dusta, kasar dan kotor, menipu, dll. Itulah tujuan puasa Ramadhan, membuat pelakunya menjadi insan yang berhati-hati dalam berbuat. Takut melanggar hukum-hukum Allah SWT sekecil apapun. Hal itu persis seperti penjelasan Ubay bin Kaab ra. kepada Umar bin al-Khaththab ra. saat ia ditanya tentang makna takwa. Ubay ra. balik bertanya, “Apakah engkau pernah melewati jalan berduri?” Umar menjawab, “Ya.” Kaab bertanya lagi, “Apa yang engkau lakukan?” Umar pun menjawab, “Aku berhati-hati dan berusaha agar tidak tertusuk.” Ubay menjawab, “Itulah takwa!”

Karena itu setiap Muslim yang menjalankan shaum Ramadhan dengan sebenar-benarnya akan melindungi dirinya dari perbuatan maksiat kecil maupun besar. Jangankan menumpahkan darah saudaranya yang seiman, melecehkan mereka pun tak akan ia lakukan. Ia paham bahwa ciri seorang Muslim adalah yang menjadikan sesama Muslim lainnya terjaga dari gangguan lisan dan tangannya.

Seorang Muslim yang bertakwa senang menolong saudaranya yang sedang kesusahan, memberikan tausiyah yang bermanfaat dan bahu-membahu melaksanakan ketaatan total kepada Allah SWT.

Seorang Muslim yang bertakwa akan saling mengasihi saudaranya yang seiman, dan menjaga kehormatannya, Rasul saw. bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ

Muslim adalah saudara Muslim yang lain; ia tidak menzalimi dan menyerahkan saudaranya itu (kepada musuh) (HR al-Bukhari).

Hendaknya kita jangan hanya bersikap relijius hanya saat Ramadhan, tetapi kemudian berubah ketika Ramadhan telah usai. Sikap inilah yang disebut sebagai “imma’ah”, tak punya pendirian. Sikap ini dicela oleh Rasulullah saw.:

لا تكُونُوا إمَّعةً تقولُونَ: إنْ أحسنَ النَّاسُ أحسنَّا وإنْ ظلمُوا ظلمْنَا، ولكِنْ وطِّنُوا أنفسكم إن أحسنَ النَّاسُ أنْ تُحسِنُوا وإنْ أساءُوا فلا تظلِمُوا

Jangan kalian menjadi imma’ah! Kalian mengatakan, “Jika manusia berbuat baik, kami pun  berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim.” Akan tetapi, kokohkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk, maka jangan kalian berlaku zalim (HR at-Tirmidzi).


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post