Masyarakat Jangan Terseret Pragmatisme


 Agus Kiswantono


Dalam situasi politik yang didominasi oleh kepentingan sesaat seperti sekarang, bukan persoalan mudah untuk tidak tergiring dalam arus pragmatisme. Apalagi jika orang-orang yang menjadi anggota partai politik Islam tidak memiliki tameng diri yang kuat. Permasalahannya, pragmatisme seperti sudah menjadi budaya sehari-hari yang sudah kadung mendarah daging.


Namun bukan berarti itu tidak bisa dihindari oleh partai-partai Islam. Caranya, partai-partai harus kembali memahami asas perjuangannya yakni Islam dan cita-cita Islam itu sendiri yakni bagaimana harus diterapkan. Partai Islam secara lantang menolak berbagai UU yang lahir dari sekulerisme dan bertentangan dengan Islam. Begitu juga, partai Islam terus melakukan koreksi terhadap berbagai kebijaan keliru penguasa (muhasabah hukkam). Para anggota partai Islam harus ingat betul bahwa mereka berjuang untuk Islam, karenanya mereka bergabung dengan partai Islam. Jangan sampai terbalik, dengan dalih Islam, mereka berebut mencari penghidupan dengan duduk sebagai wakil rakyat setelah itu lupa akan tujuan pembentukan partai Islam itu sendiri.


Sikap pragmatis bukan menguntungkan umat Islam dan partai Islam, justru merugikan. Pragmatisme akan mendegradasi tujuan dan cita-cita perjuangan. Siapapun tak dapat menyangkal, pragmatisme berarti harus merelakan diri menyesuaikan diri dengan keadaan/fakta. Artinya, melepaskan nilai-nilai dasar perjuangan dan ideologi partai yang telah digariskan. Karakter dasar partai Islam akan luntur. Memang bisa saja berdalih, itu semua masih dalam koridor Islam, tapi dalih ini sebenarnya hanya pemanis mulut, bukan arus utama.


Karenanya, jika partai-partai Islam ingin meraih dukungan yang signifikan, tidak ada jalan lain harus mendefinisikan dirinya kembali sebagai partai Islam seperti di atas. Partai-partai Islam lama harus jantan dan berani mengoreksi diri bahwa apa yang mereka lakukan sebelumnya tidak tepat. Posisi abu-abu yang selama ini mendominasi harus segera disingkirkan. Sementara bagi partai-partai Islam baru, mereka pun harus berani mendobrak kebuntuan saluran aspirasi Islam dan umat Islam yang selama ini tertutup. Jati diri sebagai partai Islam sejati harus ditunjukkan. Jangan sekali-kali pernah meniru perilaku salah yang pernah terjadi sebelumnya.


Dalam kaitan itu, pembinaan kader-kader partai Islam tidak bisa diremehkan. Partai Islam harus melahirkan kader-kader pejuang Islam, bukan kader karbitan yang didapat di jalanan. Partai-partai Islam harus selalu mewaspadai penumpang-penumpang gelap yang berusaha mendompleng partai untuk kepentingan uang dan kepentingan pribadi. Partai Islam akan besar jika didukung oleh ideologi Islam yang kuat dan kader pejuang Islam yang mumpuni. Kini saatnya partai-partai Islam meniti jalan Islam yang sesungguhnya sesuai khittahnya sebagai partai pembawa suara Islam (shout al-Islam), bukan sekadar basa-basi.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post