Mau Utang 1,7 Kuadriliun Rupiah: Tinggalkan


 Hadi Sasongko (Direktur POROS)


Sebagaimana ramai di jagad medsos, pemerintah berencana memenuhi kebutuhan anggaran alutsista sebesar US$124, 9 miliar dari utang asing itu akan dilakukan secara bertahap.Pinjaman sebesar US$12 miliar sudah cair pada tahun ini dan akan bertambah sekitar US$21 miliar pada 2022 mendatang.


Utang luar negeri jelas berbahaya. Utang dari asing itu disertai dengan berbagai syarat yang makin merugikan bangsa ini. Ini adalah akibat logis dari penerapan sistem sekular kapitalisme. Dalam dokumen rancangan Peraturan Presiden (Perpres) Tentang Pemenuhan Kebutuhan Alpalhankam Kemhan dan TNI tahun 2020-2024. Perpres itu merupakan tindak lanjut rencana strategis khusus 2020-2024. Dalam dokumen itu disebutkan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan sebesar Rp1,7 kuadriliun, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan akan mengajukan pinjaman ke luar negeri. Rencananya, pengadaan alat-alat tersebut dijalankan hingga 2044 mendatang.


Utang luar negeri yang diberikan pada dasarnya merupakan senjata politik (as silah as siyasi) negara-negara kapitalis kafir Barat kepada negara-negara lain, yang kebanyakan negeri-negeri muslim, untuk memaksakan kebijakan politik, ekonomi, terhadap kaum muslimin. Tujuan mereka memberi utang bukanlah untuk membantu negara lain, melainkan untuk kemaslahatan, keuntungan, dan eksistensi mereka sendiri. Mereka menjadikan negara-negara pengutang sebagai alat sekaligus ajang untuk mencapai kepentingan mereka. Dokumen-dokumen resmi AS telah mengungkapkan bahwa tujuan bantuan luar negeri AS adalah untuk mengamankan kepentingan AS itu sendiri dan mengamankan kepentingan “Dunia Bebas” (negara-negara kapitalis). Pada akhir tahun 1962 dan awal tahun 1963 di AS muncul debat publik seputar bantuan luar negeri AS bidang ekonomi dan militer. Maka kemudian Kennedy membentuk sebuah komisi beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat, yang diketuai oleh Jenderal Lucas Clay, untuk mengkaji masalah ini. Pada minggu terakhir Maret 1963, komisi itu mengeluarkan dokumen hasil kajiannya. Di antara yang termaktub di sana, bahwa tujuan pemberian bantuan luar negeri dan standar untuk memberikan bantuan adalah “keamanan bangsa Amerika Serikat dan keamanan serta keselamatan ‘Dunia Bebas’.” Inilah standar umum untuk seluruh bantuan ekonomi ataupun militer.


Jadi, tujuan pemberian bantuan luar negeri tersebut sebenarnya bukan untuk membantu negara-negara yang terbelakang, melainkan untuk menjaga keamanan Amerika dan negara-negara kapitalis lainnya, atau dengan kata lain, tujuannya adalah menjadikan negara-negara penerima bantuan tunduk di bawah dominasi AS untuk kemudian dijadikan sapi perahan AS dan alat untuk membela kepentingan AS dan negara-negara Barat lainnya (Abdurrahman al-Maliki, op.cit., hal. 204-205).


Jelas, saat ini kita perlu mencampakkan sistem sekular dan menerapkan sistem Islam melalui penerapan syariah Islam secara menyeluruh dalam institusi Khilafah Rasyidah. Dengan syariah Islam kekayaan akan kembali seutuhnya untuk rakyat. Tentu karena dalam Islam kekayaan alam haram diserahkan kepada swasta apalagi asing. Sistem ekonomi Islam juga akan bisa mewujudkan distribusi kekayaan secara merata dan berkeadilan yang akan bisa memberikan kehidupan yang baik untuk seluruh rakyat. Penerapan sistem ekonomi Islam dalam mengelola kekayaan dan perekonomian negara juga akan bisa menyediakan sumber dana yang dibutuhkan untuk pembangunan, termasuk pembangunan infrastruktur. Utang dengan bunga (riba) apalagi dari asing juga tidak akan bisa masuk sebab hal itu adalah haram.


Dengan itu semua dampak buruk akibat utang termasuk serbuan tenaga kerja asing dan intervensi asing bisa dihilangkan. Kemandirian dalam negeri pun bisa diwujudkan sebab liberalisasi yang menyebabkan ketergantungan tidak akan terjadi. Pemberantasan korupsi akan bisa dilakukan secara tuntas dengan pemberlakuan sanksi hukum Islam yang tegas.


Karena itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban kita semua untuk segera mewujudkan penerapan syariah Islam secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa terwujud di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Ketika itu terwujud, kehidupan yang baik dan keberkahan akan dirasakan oleh rakyat negeri ini. Allah SWT telah menjanjikan:


﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ﴾


Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi (TQS al-A’raf [7]: 96).

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post