Membangkitkan Umat


 Hadi Sasongko (Direktur POROS)


Persatuan umat hanya akan terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah dan tegaknya Khilafah. Langkah mempersatukan umat tidak lain adalah langkah mewujudkan Khilafah. Rasulullah saw. telah mencontohkannya dalam perjuangan dakwah Beliau hingga berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah.


Daulah Islam di Madinah itu berdiri setelah di masyarakat Madinah terbentuk opini dan kesadaran umum tentang Islam berikut syariahnya serta kewajiban penerapannya. Hal itu juga menjadi prasyarat tegaknya Khilafah yang akan datang. Semua itu tidak bisa terwujud melalui jalan kekerasan. Sirah Rasul menunjukkan dengan jelas bahwa Beliau menolak penggunaan kekerasan dalam proses tersebut. Bahkan usai Baiat Aqabah II, Rasul tetap menolak ketika para Sahabat mengajukan penggunaan kekerasan.


Mewujudkan opini dan kesadaran Islam secara umum itu hanya bisa dilakukan dengan dakwah. Proses itu secara sederhana adalah proses memahamkan masyarakat dengan Islam, akidah dan syariahnya hingga menjadi pemahaman, nilai dan keyakinan umat. Pada akhirnya, umat sendirilah, bersama para pengemban dakwah, yang akan menuntut dan memperjuangkan tegaknya Khilafah dengan membaiat seorang khalifah.


Langkah pertama adalah menyiapkan kader-kader pengemban dakwah yang akan memahamkan Islam kepada umat. Penyiapan kader dakwah itu tidak lain dengan menanamkan Islam, akidah dan syariahnya sehingga menjadi pemahaman, nilai dan keyakinan mereka. Proses ini juga merupakan proses membentuk pemikiran, pemahaman dan jiwa. Dengan itu, mereka memiliki kepribadian islami dan sanggup mengemban dakwah dengan segala konsekuensinya.


Selanjutnya kelompok pengemban dakwah tersebut harus terjun ke tengah umat, berinteraksi bersama mereka dalam kehidupan umat, hari demi hari. Menanamkan pemahaman Islam kepada umat tidak mungkin dilakukan kecuali dengan berinteraksi di tengah-tengah mereka. Inilah tahapan kedua dari langkah mempersatukan umat. Seiring langkah ini, aktivitas membina kader dakwah di atas terus dilakukan. Di samping untuk terus memantapkan pengemban dakwah yang ada, juga untuk memperbanyak kuantitas mereka. Dengan itu, proses memahamkan umat dengan Islam bisa semakin intensif.


Harus disadari bahwa umat bukanlah ruang yang kosong dari pemikiran, pemahaman, nilai dan keyakinan. Karena itu, terjadinya interaksi Islam dengan pemikiran, nilai dan keyakinan yang ada di tengah-tengah umat adalah pasti. Interaksi tersebut terjadi dalam bentuk pergolakan pemikiran dan yang melakukannya adalah para pengemban dakwah.


Ada tiga macam pemikiran di tengah-tengah umat. Pertama: pemikiran Islam yang sudah benar dan jenih. Pemikiran yang demikian tinggal semakin dikokohkan. Kedua: pemikiran Islam yang tidak jernih lagi, diselimuti kerancuan dan kesalahan. Pemikiran yang demikian harus dijernihkan, dibersihkan dari debu dan kotoran yang menempel, dan diluruskan kembali. Ketiga: pemikiran yang salah dan bertentangan dengan Islam. Pemikiran seperti ini harus dicabut dari umat dengan menjelaskan kesalahannya, membongkar keburukannya, disertai menjelaskan pemikiran Islam yang benar. Jika semua proses ini berjalan baik maka opini di tengah-tengah umat akan didominasi oleh opini Islam.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post