Memberantas Kejahatan Begal dengan Tuntas


 Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Miris. Pandemi belum juga berakhir, kejahatan termasuk pembegalan masih menambah keresahan warga. 


Baru-baru ini terjadi kasus pembegalan. Seorang sopir mobil online, Cepi Hanafi dikeroyok 4 orang pelaku (19/5). Keempat pelaku ini menyamar menjadi penumpang. Sedangkan seorang lainnya mengikuti dari belakang memakai mobil. Untungnya sopir ini berani menantang mereka. Setelah itu, polisi berhasil meringkus keempat pelaku tersebut. Terkonfirmasi kalau mereka berstatus pengangguran dan pelajar.


Sebelumnya, seorang ojek online pun menjadi korban. Di sebuah jalan tol sepi, pelaku menodongkan sajam padanya. Sontak, sopir online ini menyerahkan motornya kepada pelaku (7/5).


Sementara itu di Lampung Selatan. Kapolda Lampung bertekad akan membersihkan Lampung dari kejahatan begal. Hal demikian menyusul kejadian dibakarnya Mapolsek Lampung Selatan oleh sekelompok orang. 


Pembakaran Mapolsek Lampung Selatan dipicu oleh tidak puasnya warga akan kinerja kepolisian dalam memberantas kejahatan terutama yang terjadi di jalanan. Hanya saja Kapolda Lampung menduga kuat bahwa provokator pembakaran itu adalah pelaku kejahatan begal. Sudah 8 orang pelaku ditetapkan sebagai tersangka.


Menilik suatu hikmah dari Sahabat Ali bin Abi Tholib ra yang menyatakan berikut ini. 


كاد الفقر ان يكون كفرا

Tidak jarang bahwa kefakiran itu mengantarkan kepada kekufuran. 


Pandemi yang mendera hampir 1,5 tahun telah menyumbang tingginya angka pengangguran. Yang terbaru tentang ditutupnya semua gerai giant di seluruh Indonesia. Artinya sekitar 3 ribuan lebih karyawan giant telah kehilangan pekerjaannya. Sementara di sisi lain lapangan pekerjaan sangat sulit didapatkan.


Kefakiran atau kemiskinan bisa membuat orang nekad untuk melakukan pelanggaran. Kebutuhan hidup yang meliputi sandang, pangan dan papan serta kebutuhan pelengkap lainnya haruslah dipenuhi setiap waktu. Maka tidaklah mengherankan bila masyarakat lebih kuatir terhadap kelaparan yang menimpa diri dan keluarganya dibandingkan dengan pandemi itu sendiri.


Di sinilah urgensinya negara segera menyelesaikan pandemi ini, di samping memperhatikan ketercukupan kebutuhan hidup rakyat. Karantina wilayah merupakan solusi mengatasi wabah. Tentunya konsistensi pelaksanaan karantina wilayah harus dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan hidup rakyat. Tanpa demikian, akan sulit rasanya untuk menyelesaikan pandemi.


Tatkala negara tidak mampu menjamin kebutuhan hidup rakyatnya, maka penanganan pandemi menjadi saling kontradiktif. Sekolah dibuka dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka, sementara pandemi masih belum berakhir, apalagi muncul jenis baru virus Corona dari Inggris maupun India. Pusat-pusat kegiatan ekonomi masih tetap normal. Bandara masih dibuka yang menyebabkan orang-orang asing masih bisa masuk Indonesia. Jika dipaksakan negara mengkarantina dan rakyatnya harus stay at home, niscaya akan muncul kekacauan besar. Pasalnya rakyat mau tidak mau harus keluar rumah untuk bisa bertahan hidup. 


Ini semua terjadi dipicu oleh tidak adanya kas yang memadai untuk menjamin kebutuhan hidup rakyat di tengah pandemi. Yang ada negara tetap menambah utang dan menarik pajak dari rakyatnya.


Padahal negeri ini kaya akan SDA. Di sinilah pentingnya negara melakukan nasionalisasi terhadap semua SDA. Keberanian demikian akan muncul ketika negeri ini dalam penyelenggaraan kehidupan pemerintahannya tidak didasarkan pada sekulerisme.


Sekulerisme telah menjadikan SDA sebagai komoditas yang bisa diperjualbelikan, bisa di privatisasi dengan sedikit imbalan royalti. Demikianlah mekanisme pasar bebas yang menghilangkan kepemilikan umum bersama rakyat. Hal demikian adalah konsekwensi wajar dari kehidupan yang berasal sekulerisme.


Dana kas negara yang mencukupi dari hasil pengelolaan SDA seluruhnya oleh negara digunakan selama masa pandemi. Memenuhi kebutuhan hidup rakyat dan termasuk menyediakan semua sarana serta pelayanan kesehatan yang memadai. Setelah pandemi berakhir, negara bisa fokus dalam pemulihan kegiatan ekonomi rakyatnya. Negara menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan baru bagi kaum lelaki sebagai tulang punggung ekonomi keluarganya.


Demikianlah arahan Islam dalam menangani pandemi dan memenuhi kebutuhan hidup rakyat. Di samping itu, faktor keamanan menjadi perhatian utama. Termasuk salah satu kewajiban negara adalah menjamin keamanan bagi rakyatnya. 


Dalam menjamin keamanan bagi warganya, dapat ditempuh melalui 2 lini kebijakan. Polisi akan ditempatkan berpatroli rutin dan berkala di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu bisa dipahami dari sini jumlah tenaga polisi yanh dibutuhkan negara. Artinya akan banyak penyerapan tenaga kerja dari para pemuda untuk menjadi petugas kepolisian. Pasalnya patroli dan penjagaan keamanan rakyat itu adalah tanggung jawab negara. Rakyat tidak dibebani untuk membiayai keamanan mereka sendiri. 


Berikutnya, penjagaan keamanan oleh negara dalam lini pendekatan undang-undang dan sangsi. Allah SWT menetapkan sangsi yang tegas atas kejahatan begal di jalanan. Di dalam firmanNya, Allah SWT menyatakan:


انما جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَن يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُم مِّنْ خِلَافٍ أَوْ يُنفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (33)

Sesungguhnya balasan ‎atas orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya, serta berbuat kerusakan di muka bumi adalah dibunuh, atau disalib, atau dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan, atau ia diasingkan ke tempat terpencil. Demikian ini adalah kehinaan bagi mereka dalam kehidupan di dunia. Dan di akherat, bagi mereka adalah adzab yang pedih (Surat al-maidah ayat 33).


Di dalam tafsir as-Sa'diy dijelaskan sebagai berikut ini. 


المحاربون لله ولرسوله، هم الذين بارزوه بالعداوة، وأفسدوا في الأرض بالكفر والقتل، وأخذ الأموال، وإخافة السبل. ‎


والمشهور أن هذه الآية الكريمة في ‎أحكام قطاع الطريق، ‎الذين يعرضون للناس في القرى والبوادي، فيغصبونهم أموالهم، ويقتلونهم، ويخيفونهم، فيمتنع الناس من سلوك الطريق التي هم بها، فتنقطع بذلك. ‎


فأخبر الله أن جزاءهم ونكالهم -عند إقامة الحد عليهم- أن يفعل بهم واحد من هذه الأمور. ‎

Yang dimaksud orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul adalah mereka yang menyatakan permusuhan pada Allah dan Rasul. Mereka membuat kerusakan di muka bumi dengan kekufuran, pembunuhan, merampas harta manusia dan membuat ketakutan di jalan-jalan umum. Ayat mulia ini menjelaskan sangsi atas pembegal jalanan di kota dan desa, para perampas harta manusia, pembunuh di jalan, yang menakut-nakuti manusia, yang mengganggu ketenangan perjalanan manusia, dan menghalangi manusia dari jalanan umum. Maka Allah mengabarkan mengenai jenis-jenis sangsi atas setiap kejahatan tersebut.


Adalah masyhur dipahami dari nash tersebut bahwa sangsi atas para pembegal jalanan adalah sesuai dengan kejahatannya. Bila pembegal itu membunuh sekaligus merampas harta, maka sangsinya adalah dibunuh dan disalib. Sangsi berupa dibunuh saja bila pembegal itu membunuh tanpa mengambil harta. Selanjutnya bila pembegal tersebut hanya mengambil harta tanpa membunuh, sangsinya adalah dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan. Bila pembegal hanya menakuti manusia, sangsinya mereka hanya diasingkan di suatu tempat terpencil. 


Walhasil dengan sangsi yang tegas dan keras ini sebagai terapi terakhir atas kejahatan pembegalan. Dalam istilah lain, setelah kebutuhan hidupnya dipenuhi, lapangan pekerjaan tersedia, negara menjamin keamanan, kok masih saja ada yang melakukan kejahatan di jalanan, maka sangsi yang tegas dan keras sudah menanti. Tentunya efek jera akan timbul dari sangsi demikian. Dengan sendirinya akan menjadi jaminan keamanan bagi masyarakat pada umumnya. 


#28 Mei 2021

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post