Mengikuti Rasulullah SAW


Rahmad Abu Zaky (Majlis Taklim Al Ukhuwah)


Allah SWT berfirman:


﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾


Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Ali ‘Imran [3]: 31).


Ayat ini menjadikan ittibâ’ kepada Rasul saw. sebagai keniscayaan dari kecintaan kepada Allah SWT yang hukumnya wajib. Artiya, ittibâ’ kepada Rasul saw. merupakan syarat mahabbah kepada Allah SWT. Jika tidak terealisasi syarat, yaitu ittibâ’ kepada Rasul saw., maka yang disyaratkan, yakni mahabbah kepada Allah SWT tidak tercapai. Karena mahabbah kepada Allah SWT adalah fardhu maka ittibâ’ kepada Rasul saw. menjadi fardhu.


Kewajiban Ittibâ’ kepada Rasul saw. ini dinyatakan secara umum.  Artinya, wajib mengikuti Rasul saw. dalam semua yang keluar dari beliau baik ucapan (seruan), perbuatan maupun diam/persetujuan beliau sesuai ketentuannya. Ittibâ’ itu berarti mengikuti ucapan, perbuatan dan taqrîr Rasul saw. sesuai ketentuannya masing-masing.


Dalam hal ini harus diperhatikan, kewajiban ittibâ’ bukan berarti wajib melakukan apa pun yang diperbuat oleh Rasul saw. Akan tetapi, pelaksanaan apa yang dilakukan oleh Rasul saw. itu sesuai dengan penunjukkan dari seruan, perbuatan ataupun taqrîr Rasul itu sendiri.


Ittibâ’ terhadap ucapan (seruan) Rasul saw. berarti mengikuti dan melaksanakan sesuai penunjukkan dari ucapan atau seruan Rasul itu. Seruan Rasul saw itu berupa perintah atau larangan maknanya merupakan thalab. Qarînah (indikasi) atas perintah dan larangan itulah yang menunjukkan arah dari perintah atau larangan itu.


Jika qarînah menunjukkan perintah itu bersifat tegas, yakni memberikan makna hukum wajib, maka melaksanakan perintah itu adalah wajib. Jika qarînah menunjukkan perintah itu tidak tegas, namun lebih di-râjih-kan pelaksanaannya, artinya perintah itu adalah sunnah; melaksanakan perintah itu akan mendapat pahala meski jika tidak dilaksanakan tidak berdosa. Jika qarînah menunjukkan seruan Rasul itu berupa pilihan (takhyîr) maka melaksanakan atau tidak melaksanakan perintah itu sama saja. Sebaliknya, jika larangan itu ditunjukkan oleh qarînah sebagai larangan yang tegas, maka hukumnya haram sehingga tidak boleh dilaksanakan. Melaksanakan larangan itu akan mendapat dosa dan meninggalkannya mendapat pahala. Jika qarînah-nya menunjukkan larangan itu tidak tegas, yang memberi makna hukum makruh, maka meninggalkan larangan itu lebih di-râjih-kan dan mendapat pahala meski jika dilakukan tidak berdosa.


Begitulah ittiba’ terhadap ucapan atau seruan Rasul saw., yakni mengikuti dan melaksanakannya sesuai penunjukkan dari ucapan atau seruan itu.


Adapun diam/persetujuan (taqrîr) beliau adalah jika sesuatu perbuatan dilakukan di hadapan beliau, atau dilakukan pada masa beliau, beliau mengetahui dan bisa mengingkarinya, namun beliau diam, maka hal itu menunjukkan perbuatan itu mubah. Artinya, ittibâ’ terhadap taqrîr atau diam beliau itu berarti mengikuti perbuatan itu sebagai perbuatan yang hukumnya mubah, artinya bisa dipilih antara melakukan atau tidak melakukannya. 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post