Menjaga Suasana Segar Ramadhan Tetap Awet


Suardi Basri (El Harokah Research Center) 

Saat Ramadhan dan Idul Fitri berlalu, suasana takwa dan ukhuwah janganlah berlalu begitu saja. Jangan sampai tidak ada lagi suasana ibadah, kebersamaan dan taqarrub ilalLah.

Namun realitasnya berangsur-angsur, pelan tapi pasti, suasana pun berubah sebagaimana biasanya; sekular, kapitalistik, liberal, individualistik. Ramadhan dan Idul Fitri hampir-hampir tidak meninggalkan jejak dan pengaruh apapun, kecuali hanya sesaat lalu menghilang. 

Mayoritas kaum Muslim kembali larut dan terbawa oleh suasana kapitalistik. Jikalau masih ada suasana dan spirit Ramadhan dan Idul Fitri, itu pun hanya ada pada individu atau sekelompok individu yang sadar akan pentingnya menjaga dan memelihara spirit Ramadhan dan Idul Fitri, yakni ketakwaan dan ukhuwah (persaudaraan).

Untuk itu, umat Islam harus diingatkan akan pentingnya menjaga spirit Ramadhan dan Idul Fitri. Adapun urgensitas menjaga dan memelihara spirit Ramadhan tampak pada poin-poin berikut ini:

1. Ketakwaan merupakan perkara asasi yang mendorong kaum Muslim untuk taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya akan mendorong kaum Muslim untuk tunduk dan patuh kepada hukum Allah SWT.

2. Ketakwaan adalah api yang akan menyalakan kesadaran untuk memperjuangkan tegaknya hukum-hukum Allah SWT di tengah-tengah kehidupan individu, masyarakat dan negara, melalui perjuangan menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Iman dan takwa pula yang akan memompa semangat kaum Muslim untuk berjuang melenyapkan semua bentuk kenyakinan, pemikiran, paham, sistem dan adat-istiadat yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam.

3. Ketakwaan dan ukhuwah adalah faktor utama yang akan mendorong umat Islam untuk mewujudkan persaudaran dan kesatuan hakiki yang diikat kalimat La ilaha illa al-Allah Muhammad Rasulullah. Persaudaraan hakiki inilah yang akan mendorong seorang Muslim untuk ihtimam bi amr al-Muslimin (peduli terhadap urusan kaum Muslim), membela saudaranya-saudaranya Muslim dalam kebenaran serta membebaskan mereka dari semua bentuk penindasan, pendzaliman, dan penjajahan.

Selama spirit Ramadhan dan Idul Fitri, yakni ketakwaan dan ukhuwah, belum dijaga secara kolektif, maka di tengah-tengah kaum Muslim tidak akan dijumpai; (1) kesadaran kolektif untuk tunduk dan patuh pada hukum syariah; (2) kesadaran untuk memperjuangkan tegaknya syariah Islam secara menyeluruh melalui upaya pendirian kembali Khilafah Islamiyyah; (3) kesadaran untuk selalu peduli dan memperhatikan urusan-urusan kaum Muslim.

Oleh karena itu, umat Islam harus disadarkan akan pentingnya memelihara spirit Ramadhan dan Idul Fitri agar di tengah-tengah mereka tumbuh ketakwaan kolektif. Ketakwaan ini akan mendorong kaum Muslim untuk merebut supremasinya sebagai umat terbaik (khayru ummah) dan umat terpilih (ummat[an] wasath[an]).

Uraian di atas sejalan dengan apa yang dijelaskan Imam Ibnu al-‘Arabi di dalam Kitab Ahkaam al-Quran. Pada saat menjelaskan frasa la’allakum tattaqûn [agar kalian bertakwa] yang terdapat dalam QS al-Baqarah (2) ayat183, Imam Ibnu al-‘Arabi menyatakan:

Dalam menafsirkan frasa (la’allakum tattaqûn) ini, para ulama tafsir terbagi menjadi tiga pendapat. Pertama: ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan la’allakum tattaqûn adalah la’allakum tattaqûn mâ harrama ‘alaykum fi’lahu (agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang Allah haramkan atas kalian). Kedua: ada yang berpendapat bahwa, la’allakum tattaqûn bermakna la’allakum tudh’ifûn fa tattaqûn (agar kalian menjadi lemah sehingga kalian menjadi bertakwa). Sebab, ketika seseorang itu sedikit makannya maka syahwatnya juga akan lemah, ketika syahwatnya melemah maka makshiyyatnya juga akan sedikit. Ketiga: ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT la’allakum tattaqûn adalah la’allakum tattaqûn ma fa’ala man kâna qablakum (agar kalian terjaga dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kalian [Yahudi dan Nashrani])

Berdasarkan penjelasan Imam Ibnu al-‘Arabi di atas, dapat disimpulkan bahwa ketakwaan itu terefleksi pada tiga aspek. Pertama: puasa harus mampu membentuk karakter pada diri seorang Muslim untuk selalu menjauhi perbuatan dan perkataan yang diharamkan Allah SWT. Namun, betapa banyak kaum Muslim yang melaksanakan ibadah puasa setiap tahun, ia belum bisa menjaga dirinya dari perkataan dan perbuatan yang diharamkan Allah SWT. Benar, setiap tahun mereka menjalankan ibadah puasa, namun setiap tahun pula mereka masih bergelimang dalam maksiat seperti menzalimi orang lain, memakan riba dan memangsa hak-hak orang lemah. Puasa yang mereka kerjakan tidak memberikan bekas dan pengaruh, kecuali sekadar haus dan dahaga. Begitu juga di kalangan para pemimpin dan penguasa. Pada bulan suci Ramadhan mereka sibuk dengan seremonial menyambut bulan Ramadhan, melaksanakan ibadah tarawih dan berpuasa hingga sebulan penuh. Mereka terlihat sepenuh hati menjalankan ibadah-ibadah nawafil seperti shalat dhuha dan zikir bersama. Mereka rela bangun pada pagi buta untuk mendapatkan berkah makan sahur. Siang harinya mereka sangat serius dalam menjaga kesempurnaan puasanya dari hal-hal yang bisa membatalkan puasanya. Mereka juga sangat disiplin dalam menetapkan waktu berbuka pada sore harinya. Mereka selalu memantau sang waktu detik perdetik. Mereka sangat takut berbuka tidak pada waktunya. Pada malam harinya mereka terlihat bangun untuk menjalankan qiyâm al-layl. Namun, keseriusan dan komitmen mereka terlihat hanya ketika menjalankan ibadah puasa belaka. Ibadah-ibadah lainnya—seperti menerapkan hukum-hukum Allah SWT, tidak memberikan loyalitas kepada orang kafir dan tidak menerapkan hukum-hukum kufur, dan lain sebagainya—tidak mereka jalankan layaknya ketika mereka menjalankan ibadah puasa. Mereka menelantarkan hukum-hukum Allah SWT, memberikan loyalitas kepada kaum kafir, bahkan berusaha memerangi para pengemban dakwah yang ikhlash berjuang untuk menegakkan kalimat Allah SWT. Jika demikian keadaannya, puasa yang mereka kerjakan tidak memberikan pengaruh kebaikan apapun bagi dirinya, kecuali hanya sekadar lapar dan dahaga belaka.

Kedua: ibadah puasa sesungguhnya bukan ditujukan untuk melemahkan fisik, tetapi untuk melemahkan syahwat yang mengajak manusia pada kejahatan. Jika syahwat melemah, niscaya kecenderungan yang baik akan menguat. Jika kecenderungan baik menguat, seseorang akan terdorong untuk selalu berbuat ihsan, beribadah kepada Rabb-nya dengan penuh keikhlasan, mencintai hukum-hukum Islam dan bersemangat dalam menjalankan semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Untuk itu, semakin sering seseorang berpuasa, niscaya syahwatnya juga semakin melemah hingga akhirnya ia menjadi seorang Muslim yang memiliki akhlaqul karimah yang sempurna.

Akhlak ini tercermin dalam kerinduannya yang besar terhadap penerapan syariah Islam secara menyeluruh serta kebenciannya yang mendalam terhadap aturan-aturan kufur, antek-antek orang kafir, dan para penguasa yang enggan menerapkan syariah Islam. Kebencian itu kemudian diwujudkan dengan cara berjuang untuk mengubah sistem kufur menjadi sistem Islam, sekaligus untuk mengoreksi penguasa dengan cara yang yang ihsan.

Ketiga: menjauhkan diri dari perbuatan meniru-meniru perilaku orang-orang kafir. Puasa adalah wahana untuk membentuk loyalitas hanya kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan kaum Mukmin. Loyalitas inilah yang akan menghindarkan seorang Muslim dari upaya-upaya meniru-niru pemikiran, adat-istiadat dan peradaban kaum kafir yang bertentangan dengan Islam. Mengapa demikian? Alasannya, sesungguhnya, kaum kafir—Yahudi dan Nasrani— dan ajaran-ajarannya adalah sumber keburukan dan kekejian. Oleh karena itu, jika kaum Muslim meniru-meniru dan mencontoh perbuatan mereka, niscaya mereka akan tertimpa keburukan dan kekejian. Nabi Muhammad saw. telah mengingatkan kaum Muslim untuk tidak meniru-meniru perilaku orang-orang Yahudi dan Nasrani. Beliau bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ وَبَاعًا فَبَاعًا حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ قَالُوا وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَهْلُ الْكِتَابِ قَالَ فَمَنْ؟

“Sungguh, kelak kalian akan mengikuti tingkah laku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga jika mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kalian akan mengikuti mereka.” Para Sahabat bertanya, “Apakah mereka itu adalah orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah saw. menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post