Palestina Bukanlah tanah milik Rakyat Palestina Semata


Ahmad Rizal (Direktur ELFIKRA) 

Sebagian dari komunitas Yahudi (zionism) menganggap bahwa tanah Palestina adalah tanah yang telah dijanjikan oleh Tuhan kepada mereka. Berbagai cara mereka tempuh agar janji tersebut menjadi kenyataan termasuk berkongsi dengan Negara-negara Barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Namun demikian semasa kaum Muslimin masih dipimpin oleh seorang Khalifah, upaya mereka selalu kandas. Sejumlah delegasi Yahudi pernah bermaksud bernegosiasi dengan Khalifah Abdul Hamid II agar beliau mengizinkan orang-orang Yahudi berkunjung ke Palestina kapan pun mereka mau dan membolehkan orang-orang Yahudi mendirikan tanah koloni di dekat al-Quds yang dapat disinggahi ketika mereka melakukan ziarah. Sebagai kompensasinya mereka menawarkan kepada Khalifah: membayar seluruh hutang Daulah Utsmaiyyah, membangun armada lautnya untuk melindungi negera tersebut dan memberikan utang sebesar 35 juta lira emas tanpa bunga untuk membenahi keuangan negara dan meningkatkan pemasukannya. Dengan penuh ‘izzah sang Khalifah dengan tegas menolak tawaran tersebut dengan mengatakan:

“Katakanlah kepada orang-orang Yahudi yang tak punya malu itu sesungguhnya utang negara bukanlah suatu aib karena negara-negara lain pun seperti Perancis juga memiliki hutang. Sesungguhnya Baitul Maqdis yang mulia telah ditaklukkan pertama kali oleh sayyidina Umar dan saya tidak siap menanggung malu sepanjang sejarah dengan menjual tanah yang suci kepada orang-orang Yahudi dan mengkhianati amanah yang dibebankan kaum muslimin untuk menjaganya. Suruhlah orang-orang Yahudi menyimpan uang mereka. Negara yang tinggi tidak mungkin berlindung di balik benteng dengan harta musuh Islam. Beritahukan kepada mereka untuk keluar dan dan tidak mencoba lagi bertemu dengan saya atau masuk ke tempat ini” (Shahwah ar-Rajul al-Marîdh: 213-214)

Di lain waktu beliau juga pernah memberi peringatan kepada Theodore Hertzel tokoh utama pendirian negara Israel:

“Nasehatilah Dr. Hertzel agar tidak mengambil langkah-langkah serius dalam masalah tersebut. Karena saya tidak dapat melepaskan Palestina meski sejengkal. Ia bukan milikku, akan tetapi milik ummat Islam. Kaumku telah berjihad dan menumpahkan darah mereka untuk merebut tanah tersebut. Jika suatu saat daulah Khilafah telah tercerai-berai, maka pada saat itu mereka dapat mengambil Palestina tanpa kompensasi apapun.Namun, selama nyawa masih di kandung badan saya, maka dibedahnya tubuh ini lebih ringan bagi saya daripada melihat Palestina lepas dari negara Khilafah. Kami tidak akan pernah setuju jasad kami dibedah sementara kami masih hidup.”

Abdul Hamid II sangat faham bahwa tanah Palestina bukanlah tanah milik seorang sultan, milik penguasa kaum muslimin dan bukan pula milik rakyat Palestina semata. Ia adalah tanah kaum muslim yang harus dijaga hingga Hari Kiamat. Sikap tersebut menunjukkan pemahaman beliau yang lurus tentang status Palestina sekaligus menunjukkan tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga keutuhan wilayah kaum muslimin. Sikap ini pula yang melekat pada pemimpin-pemimpin Islam di masa lampau. Shalahuddîn al-Ayyûby misalnya telah mengobarkan jihad pada tahun 583 H untuk mengusir tentara Salib yang mencoba untuk menguasai kembali wilayah Palestina. Hal yang sama juga dilakukan oleh Qutuz, Muhammad bin Qalun, Asyraf Khalil yang mematahkan serangan Mongol dan Tartar.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post