Paten dalam Perspektif Islam (1)


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)


Karya cipta adalah pemikiran atau pengetahuan yang ditemukan seseorang dan belum ditemukan oleh orang lain sebelumnya. Bagian terpenting dari karya-karya cipta ini adalah pengetahuan yang bisa dimanfaatkan dalam perindustrian atau pertanian, baik dalam hal produksi barang atau jasa.


Dalam hal ini, orang-orang kapitalis menganggap pengetahuan-pengetahuan individu sebagai ‘harta’ yang boleh dimiliki. Sedangkan bagi orang lain yang mengajarkan atau mempelajari pengetahuan tersebut dilarang memanfaatkannya, kecuali atas izin pemegang patent dan ahli warisnya, sesuai aturan-aturan tertentu. Misalnya, jika seorang petani membeli benih unggul dari hasil temuan baru yang dipatentkan, maka ia berhak menggunakan benih dari hasil tanaman tersebut, namun dia tidak boleh memperdagangkannya.


Islam telah mengatur kepemilikan individu dengan suatu pandangan bahwa kepemilikan tersebut merupakan salah satu penampakkan dari naluri mempertahankan diri (gharizah baqa’). Atas dasar itu, Islam mensyariatkan bagi kaum Muslim ‘kepemilikan’ untuk memenuhi naluri ini, yang akan menjamin eksistensi dan kehidupan yang lebih baik. Islam membolehkan bagi seorang Muslim untuk memiliki harta sebanyak-banyaknya, seperti binatang ternak, tempat tinggal, dan hasil bumi, dengan cara yang halal. Di sisi lain Islam mengaharamkan seorang Muslim untuk memiliki barang-barang, seperti khamr, daging babi, dan narkoba. Islam telah mendorong seorang Muslim untuk berfikir dan menuntut ilmu, begitu juga Islam membolehkan seorang Muslim untuk mengambil upah karena mengajar orang lain. Islam juga telah mensyariatkan bagi seorang Muslim sebab-sebab yang dibolehkan untuk memiliki suatu barang, seperti jual-beli, perdagangan, dan waris; dan mengharamkan sebab-sebab kepemilikan yang bertentangan dengan Islam, seperti riba, judi, jual beli saham, dll.


Kepemilikan dalam Islam, diartikan sebagai ijin Syaari’ (Allah) untuk memanfaatkan barang. Karena itu, hak individu untuk memiliki sesuatu tidak muncul dari sesuatu itu sendiri, atau manfaatnya; akan tetapi muncul dari ijin Syaari’ untuk memilikinya dengan salah satu sebab kepemilikan yang syar’iy, seperti jual-beli dan hadiah. Islam telah memberikan kekuasaan kepada individu atas apa yang dimilikinya, yang memungkinkan ia dapat memanfaatkannya sesuai dengan hukum syara’. Islam juga telah mewajibkan negara agar memberikan perlindungan atas kepemilikan individu dan menjatuhkan sanksi bagi setiap orang yang melanggar kepemilikan orang lain.


Mengenai kepemilikan individu atas “pemikiran baru”, mencakup dua jenis. Pertama, sesuatu yang terindera dan teraba, seperti merk dagang. Kedua, sesuatu yang terindera tetapi tidak teraba, seperti pandangan ilmiah dan pemikiran jenius yang tersimpan dalam otak seorang pakar.


Apabila kepemilikan tersebut berupa kepemilikan jenis pertama, seperti merk dagang yang mubah, maka seorang individu boleh memilikinya, serta memanfaatkannya dengan cara mengusahakannya atau menjual-belikannya. Negara wajib menjaga hak individu tersebut, sehingga memungkinkan baginya untuk mengelola dan mencegah orang lain untuk melanggar hak-haknya. Sebab, dalam Islam, merk dagang memiliki nilai material, karena keberadaanya sebagai salah satu bentuk perniagaan yang diperbolehkan secara syar’iy. Merk dagang adalah Label Product yang dibuat oleh pedagang atau industriawan bagi produk-produknya untuk membedakan dengan produk yang lain, yang dapat membantu para pembeli dan konsumen untuk mengenal produknya. Seseorang boleh menjual merk dagangnya. Jika ia telah menjual kepada orang lain, manfaat dan pengelolaannya berpindah kepada pemilik baru. 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post