Peluang Dan Tantangan Dalam Membumikan Islam


 Fajar Kurniawan (Analis Senior PKAD)


Jika kita coba terapkan berfikir politik ideologis dalam kondisi kontemporer, maka di hadapan kita terhampar beragam peluang sekaligus tantangan. Peluang dari internal ummat Islam, telah nampak. Panasnya ideologi Islam telah menghangatkan umat menuju pada keinginan untuk menerapkan syariah Islam. Survei  PEW seperti yang dilansir pada 30/4/2013 menunjukkan kecenderungan umat untuk menjadikan Syariah Islam sebagai hukum resmi di negeri-negeri Islam.


Di Asia  terdapat prosentase sangat tinggi penduduk  yang mendukung syariah Islam: Pakistan (84%), Bangladesh (82%), Afghanistan (99%), Indonesia (72%) , Malaysia (86%).Demikian pula di Timur Tengah dan Afrika, prosentase yang mendukung syariah :   Irak (91%), Palestina (89%), Maroko (83%), Mesir (74%), Yordania (71%), Niger (86%), Djibouti (82%), DR Kongo (74%) dan Nigeria (71%). Sementara 10 negara lain yang di survey menunjukkan lebih dari 50 % penduduknya menginginkan syariah Islam.


Di Indonesia, research dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan 1.880 Muslim di 19 provinsi antara tanggal 28 Oktober dan 19 November 2011.  Studi ini mengatakan bahwa 72 persen Muslim Indonesia mendukung hukum Islam sebagai hukum resmi negara ini. Sedangkan hasil survei SEM Institut yang dilakukan pada 25 Desember 2013- Januari 2014 kepada 1498 responden dari berbagai kalangan di 38 kota di Indonesia, menunjukkan 72 persen Muslim Indonesia menginginkan syariah sebagai landasan hukum dalam bernegara.


Dalam konferensi pers yang bertema Survei Syariah: Membaca Aspirasi Politik Keumatan 2014, Kusman Sadik, ahli statistik SEM Institute, menyebutkan tingkat pengetahuan masyarakat (umat Islam) terhadap khilafah sebesar 64 persen. Dari yang tahu tersebut, 81 persen setuju dengan konsep negara khilafah dan 68 persennya yakin bahwa khilafah mampu menyatukan umat Islam sedunia dan bisa menjadi kekuatan untuk menghancurkan kedzaliman.


Sungguh, di hadapan kita terhampar kesempatan besar untuk meraih dukungan ummat dalam menerapkan syariah Islam. Seorang politisi islam ideologis akan memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya dengan menggencarkan aktivitas politiknya, baik dalam melakukan pembinaan, penyebaran opini, dan kontak ke berbagai kalangan dalam rangka menyambut respon positif terhadap syariah, seraya meningkatkan grade respon tersebut untuk meraih kepemimpinan ummat. Oleh karenanya, politisi islam ideologis harus tetap fokus dalam perjuangan penerapan ideologi dengan metode ideologis yang telah digariskan.


Untuk di Indonesia, perjuangan penegakan khilafah hendaknya mencakup penjelasan sejarah dan jejak khilafah di Indonesia, sekaligus perjuangan para tokoh-tokoh masyarakat Indonesia dalam penegakan syariah dan khilafah. Seraya menyentuh aqidah Umat Islam Indonesia, bahwa Indonesia adalah negara yang diberkahi Allah, bagian bumi milik Allah yang telah diberi banyak nikmat berupa kesuburan, iklim dan cuaca yang paling normal, serta kekayaan sumber daya alam anugrah Allah. “maka nikmat TuhanMU yang manakah yang kamu dustakan?”


Indonesia juga memiliki posisi strategis secara geografis, berpulau-pulau, sehingga memiliki pertahanan alami. Kekuatan jumlah penduduk yang banyak serta memiliki darah para pejuang yang berani. Sangat cocok untuk menjadi khilafah Islamiyah.


Peluang lain yang tidak bisa dipungkiri adalah memudarnya pamor demokrasi dan kapitalisme. Keduanya telah nyata gagal dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Demokrasi telah memunculkan negara korporat dan kebijakan transaksional sehingga menjatuhkan masyarakat ke dalam jurang kemiskinan, menumbuhkan korupsi dan perampokan negara, serta ketidakadilan sistem. Sedangkan kapitalisme, telah menjadi sumber krisis ekonomi negara dan dunia secara berkepanjangan. Inilah moment bagi ideologi islam untuk tampil. Moment bagi khilafah untuk menggantikan posisi adidaya dunia.


Adapun tantangan yang dihadapi oleh para politisi Islam ideologis, adalah berupa ketakutan negara-negara kufur akan tegaknya khilafah, sehingga mereka melakukan berbagai cara untuk memalingkan para politisi ini dari perjuangan penegakan mabda.


Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov Pada tanggal 14 Desember 2013  dalam sebuah wawancara dengan Vesti 24, mengatakan bahwa “ada kondisi-kondisi dimana semua pembela tanah air Suriah harus memahami apa yang lebih penting : untuk memerangi mereka yang ingin Suriah menjadi Negara Khilafah.


RICHARD DANNATT, Penasehat PM Inggris David Cameron dalam wawancara dengan BBC Radio , menyatakan: “ Di sini ada agenda Islam dan kalau didiamkan dan tidak segera ditumpas di Afganistan atau asia selatan maka pengaruhnya akan segera meluas. Agenda ini akan tumbuh dan ini poinnya, kita bisa melihat ia akan meluas dari Asia Selatan, Timur Tengah hingga Afrika Utara dan menancapkan kembali panji KEJAYAAN KHILAFAH ISLAMIYAH Abad 14 dan 15 …”


Masih banyak para penguasa di negeri-negeri barat yang bicara tentang khilafah dan mengkhawatirkan tegaknya khilafah. Ketakutan Barat terhadap khilafah, mengindikasikan bahwa negara-negara Barat menyadari bahwa telah datang waktunya bagi perubahan geopolitik global. Barat dan sekutunya melakukan yang terbaik untuk menunda hari ketika keadilan Islam akan kembali ke negeri Islam dan bagi umat Islam. Musuh-musuh Islam dan kaum Muslim memahami bahwa dengan berdirinya Khilafah, umat Islam akan memiliki seorang amir yang mempersatukan umat Islam dan mengembalikannya kejayaannya. Karena itu, barat, terutama Rusia dan Amerika Serikat berusaha mencegah pendirian Khilafah, di berbagai negeri Islam.


Cara-cara yang mereka lakukan adalah dengan mencabik-cabik persatuan ummat Islam, dan memenangkan kaum sekuler di negeri Islam. Mereka melakukan stigmatisasi Islam dan pejuang Islam ideologis sebagai teroris. Memecah belah negeri Islam, bahkan melakukan moslem cleansing untuk menghambat tegaknya khilafah. Umat Islam ibarat berada dalam gelapnya malam, yang paling gelap. Namun yakinlah bahwa fajar khilafah yang menerangi dunia akan segera terbit.


Di Indonesia, tantangan dari negara kufur adalah melalui antek-antek mereka. Mereka memecah belah umat Islam indonesia melalui politik belah bambu, dan menciptakan konflik di beberapa daerah. Termasuk penjajahan politik melalui undang-undang dan kebijakan liberal. Maka tantangan ini harus dihadapi dengan melakukan pengungkapan makar kaum kafir imperialis (kasyful khuthoth) yang diiringi dengan perjuangan politik, membentuk kesadaran dan opini umum melalui pembinaan di tengah-tengah ummat, dan memberikan penjelasan pada umat, tentang diambilnya hak-hak mereka oleh penguasa karena kebijakan kapitalismenya.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post