Persaingan Ideologi


Ilham Efendi (Direktur RIC)

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1 H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera—setidaknya diwakili oleh institusi Kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan. Adapun kesultanan di Jawa antara lain: Kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi Kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Di Nusa Tenggara penerapan Islam dilaksanakan dalam institusi Kesultanan Bima.

Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik.

Dalam masa penjajahan, Belanda terus menguras kekayaan Indonesia. Dengan menggunakan dalih memajukan pribumi, Belanda mendeklarasikan ’politik etis’ atau ’politik balas budi’. Pada 17 September 1901, Ratu Wilhelmina menetapkan kebijakan politik etis, yang meliputi: (1) irigasi (pengairan); (2) emigrasi; dan (3) pengajaran dan pendidikan (edukasi). Namun, dalam praktiknya mereka menggunakan semua itu untuk kepentingan mereka sendiri. Pemerintah Belanda membangun irigasi untuk perkebunan-perkebunan Belanda, emigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk ke daerah perkebunan Belanda untuk dijadikan pekerja rodi, dan dengan edukasi mereka mendidik kalangan priyayi hingga memiliki budaya Belanda dan menjadi kaki tangan Belanda dalam memerintah rakyat.

Menarik komentar seorang Belanda, Van Kol, “Sesungguhnya tidak ada apa yang disebut politik etis di tanah jajahan, karena tujuan politik kolonial ialah eksploitasi bangsa yang terbelakang, walaupun tujuan yang sebenarnya sering disembunyikan di belakang kata-kata indah.”

Belanda juga melakukan depolitisasi. Salah satu langkah penting yang dilakukannya adalah infiltrasi pemikiran dan politik melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama melainkan Islam sebagai doktrin politik. Dalam praktiknya Belanda: (1) memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam dan menghapus kesultanan Islam; (2) melakukan soft power, yakni dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah.

Pertarungan Islam dengan sekularisme terus berlanjut. Pada tanggal 16 Oktober 1905 berdirilah Sarekat Islam, yang bergerak secara nasional dan beranggotakan berbagai kalangan rakyat. Inilah mestinya tonggak kebangkitan Indonesia. Namun, yang kini disebut-sebut sebagai tonggak kebangkitan Indonesia justru Budi Utomo yang berdiri 1908, padahal semestinya adalah Sarekat Islam. Sebab, Budi Utomo digerakkan oleh para didikan Belanda dan bergerak hanya di Jawa, Madura, dan Bali. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 dengan melakukan gerakan sosial dan pendidikan dengan basis Islam. Lalu Taman Siswa, dengan basis sekular, didirikan Ki Hajar Dewantara pada 1922. Sejatinya, KH Ahmad Dahlanlah bapak pendidikan bukan, Ki Hajar Dewantara seperti saat sekarang.

Pertarungan terus berlanjut hingga menjelang kemerdekaan. Terjadilah perdebatan sengit antara pejuang Islam yang menghendaki negara Islam dan kalangan sekular yang menolak penyatuan agama dengan negara. Ringkas cerita, yang terjadi adalah kompromi dengan lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang menyebutkan bahwa negara dibentuk berdasar pada, “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Diproklamasikanlah Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ternyata, usianya hanya 1 hari. Sebab, pada 18 Agustus 1945 tujuh kata ’dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ dalam Piagam Jakarta dicoret oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Kejadian yang menyolok mata ini dirasakan umat Islam sebagai suatu permainan sulap yang diliputi kabut rahasia.

Pada masa Soekarno, Islam dipinggirkan. Bahkan Indonesia hendak diarahkan pada Nasakom (nasionalisme, agama dan komunisme). Isu syariah Islam dibungkam. Partai Masyumi yang gigih menyuarakan Islam dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Soekarno pada akhir tahun 1960 melalui Keppres Nomor 200/1960 tanggal 15 Agustus 1960. Di benak orang Masyumi kala itu Soekarno adalah diktator bagi umat Islam. Dalam bukunya berjudul Sarinah, Soekarno menyatakan kekagumannya kepada Musta Kamal yang menerapkan sekularisme di Turki.

Pertarungan Islam dengan sekularisme terus terjadi. Bagaimana menjadi pemenang? Kemenangan berasal dari Allah Swt. Oleh sebab itu, langkah-langkah yang ditempuh harus mengikuti apa yang sudah Allah gariskan. Prinsip meraih kemenangan itu adalah:

Pertama, berpegang teguh pada mabda’ (ideologi) Islam. Pertarungan yang terjadi adalah pertarungan ideologis. Karenanya, Islam yang diperjuangkan bukanlah Islam sebagai agama ritual belaka (as religion) melainkan Islam sebagai akidah yang memancarkan sistem hukum syariah (as ideology). Sebab, yang dijanjikan unggul dan dimenangkan itu adalah Islam sebagai din (ajaran dan sistem hidup). Janji Allah Swt.:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama (din) yang haq agar Dia memenangkannya atas semua agama (din). Cukuplah Allah sebagai saksi (QS al-Fath [48]: 28).

Kedua, berjuang secara terorganisasi untuk menyerukan Islam secara kaffah dan melakukan amar makruf nahi mungkar dengan landasan keimanan (lihat QS Ali Imran [3]: 104). Hanya orang-orang berimanlah yang diberi pertolongan oleh Allah Swt. hingga meraih kemenangan:

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (QS ar-Rum [30]: 47).

Ketiga, gunakan prinsip fikriyah, siyasiyah dan ghayr ’unfiyah. Pertarungan yang terjadi merupakan pertarungan pemikiran, sosial, politik, dan budaya. Persis seperti pada masa Nabi saw. di Makkah. Karenanya, metode perjuangan haruslah mengikuti metode (thariqah/manhaj) Beliau. Di antara karakternya adalah fikriyah (pemikiran), siyasiyah (politik) dan ghayr ’unfiyah (tanpa kekerasan). Dalam sirahnya, Rasulullah Muhammad saw. melakukan hal ini hingga mencapai kemenangan di Madinah.

Keempat, bersatu dalam perjuangan. Rasulullah saw. teladan kita pun telah mengingatkan, bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh kekuatan luar yang berasal dari musuh-musuh Islam, kecuali ketika kita sudah saling menghancurkan satu sama lain (HR Muslim).

Kelima, arah perjuangannya adalah menyatukan umat ke dalam kesatuan kepemimpinan. Sebab, pertarungan yang sedang terjadi merupakan pertarungan negara kafir imperialis pimpinan Amerika Serikat dengan umat Islam.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post