Racun Gagasan Kesetaraan Gender


 Indarto Imam  (Ketua ForPEACE)


Pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah, umat Islam, termasuk Muslimah, mengalami kemunduran luar biasa di berbagai lapangan kehidupan. Terkuburnya sistem Islam, berganti dengan sistem sekular, turut mengubur kemuliaan kaum Muslim. Umat tidak lagi dikawal dengan pembinaan Islam yang ketat sehingga pemikiran sesat mudah merasuk ke dalam diri mereka.


Salah satu racun dahsyat itu adalah gagasan jender, yakni upaya menyetarakan kedudukan laki-laki dan perempuan di segala bidang. Gagasan yang diusung para Feminis ini menghendaki agar kaum perempuan diberi hak-hak setara dengan laki-laki (gender equality). Perempuan harus dibebaskan dari diskriminasi, dari beban-beban yang menghambat kemandirian, sekalipun dengan cara mereduksi nilai-nilai budaya dan agama. Beban itu antara lain perannya sebagai ibu: hamil, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga.


Lalu berbondong-bondonglah kaum perempuan meninggalkan kodratnya. Mereka berlomba mensejajarkan diri dengan laki-laki. Namun apa daya, begitu mereka memasuki ranah publik, ekploitasi habis-habisan atas diri merekalah yang terjadi.


Mereka menjadi obyek eksploitasi sistem Kapitalisme yang memandang materi adalah segalanya. Para perempuan ini, sadar dan tidak, menjadi ujung tombak dalam sistem ekonomi Kapitalisme. Model, sales promotion girl, public relation hingga profesi sebagai pelobi hampir senantiasa berada di pundak kaum perempuan. Mereka menjadi umpan dan bahkan sekadar “gula-gula” dalam mendatangkan pundi-pundi rupiah.


Dengan dalih kebebasan berekspresi, setiap inci tubuh perempuan dijadikan komoditi. Membuka aurat, bahkan sampai adegan berzina pun dilakoni, asal mendatangkan materi. Aurat perempuan dilombakan dan dinilai, mana yang paling mendatangkan hoki. Anehnya, dengan penuh kesadaran, kaum perempuan antre minta diekploitasi; bahkan semakin hari kian menggila. Tak hanya perempuan dewasa, gadis-gadis ABG, sejak belia sudah mulai “dikader” untuk menjadi bagian dari bisnis eksploitasi ini. Lihat saja, di layar kaca, bintang sinetron, iklan atau penyanyi bertaburan artis-artis cilik.


Di sisi lain, perempuan terdidik yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi turut terjebak dalam lingkaran eksploitasi. Tenaga dan pikiran mereka diperas habis-habisan untuk menggerakkan roda-roda perekonomian. Pergi pagi pulang petang, atau bahkan malam, adalah rutinitas para perempuan modern ini.


Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di gedung-gedung perkantoran nan menjulang tinggi daripada memasak di rumah. Mereka lebih asyik bercengkerama dengan relasi di kafe daripada mendidik anak kandungnya sendiri di rumah. Mereka lebih intens berinteraksi dengan bos di kantornya daripada suami di rumah. Begitukah hakikat persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan?


Agaknya, tuntutan untuk menggapai hak-hak perempuan dengan meninggalkan agama justru menjadi bumerang. Perempuan-perempuan yang haus akan eksistensi diri itu makin kehilangan jatidirinya. Alih-alih mendapat kemuliaan diri, mereka malah menjadi santapan empuk para lelaki hidung belang.


Eksistensi perempuan di ranah publik semakin memurukkan posisi mereka dalam kubangan libido laki-laki. Para pria lemah (atau tidak punya?) iman ini seolah berkata, “Lihatlah mereka, kaum perempuan itu, memuaskan libido kita dengan menanggalkan kodrat dan auratnya.” Jangan heran jika perempuan banyak yang dijadikan selingkuhan atau istri simpanan.


Dengan demikian, gagasan gender equality menjadi racun bagi kaum perempuan sendiri. Gender equality yang merupakan cikal-bakal perjuangan kaum Feminis Barat telah menjerumuskan kaum perempuan dalam eksploitasi yang makin menggila. Gagasan jender bukan resep jitu untuk mengentaskan persoalan perempuan, sebaliknya malah menimbulkan persoalan baru bagi perempuan dan bahkan masyarakat pada umumnya; seperti tingginya angka perceraian, single parent, rendahnya angka natalitas, maraknya pelecehan seksual dan seterusnya.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post