Romadhon: 658 Hijriyah


Eko Susanto

Pada abad ketujuh, pasukan Mongol menyapu dan menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalan pemimpin mereka, Genghis Khan yang menyebut dirinya “bencana dari Tuhan yang dikirim untuk menghukum manusia karena dosa-dosa mereka”. Pada tahun 617 H., Samarkand, Ray, dan Hamdan diserang sehingga menyebabkan lebih dari 700.000 orang terbunuh atau menjadi tawanan. Pada tahun 656 H., Hulagu, cucu Genghis Khan, melanjutkan penghancuran itu. Bahkan Baghdad, kota utama di dunia Muslim, juga dijarah. Sebagian orang memperkirakan bahwa sebanyak 1.800.000 umat Islam terbunuh dalam pembantaian yang mengerikan itu.

Orang-orang Kristen diperintahkan untuk memakan daging babi dan meminum anggur secara terang-terangan sementara kaum Muslim yang masih hidup dipaksa untuk ikut dalam lomba minum. Anggur disiramkan ke masjid-masjid dan tidak boleh ada Adzan. Saat bencana tersebut mengancam seluruh dunia Muslim, Allah membangkitkan penguasa Mamluk dari Mesir, Saifuddin Qutz, yang menyatukan tentara Muslim dan menghadapi pasukan Mongol di Ain Jalut pada hari Jumat, tanggal 25 Ramadhan 658 H (6 September 1260 M).

Qutz mengatakan kepada pasukannya untuk menunggu sampai mereka selesai shalat Jumat, “Jangan memerangi mereka sampai matahari terbenam, bayangan muncul, angin berputar-putar, dan para ulama dan orang-orang beriman mulai memohon kepada Allah untuk kita dalam doa-doa mereka”, dan setelah itu pertempuran pun dimulai. Jullanar, istri Qutz, tewas selama pertempuran tersebut. Qutz kemudian keluar dan berkata, “Oh, istriku yang tercinta”. Istrinya kemudian berbicara kepadanya di sisa nafas terakhirnya, “Jangan katakan itu, lebih pedulilah kepada Islam,” kata istri Qutz. Diapun wafat setelah mengatakan kepada suaminya bahwa Jihad untuk Allah dan Islam lebih penting daripada cinta dan hubungan pribadi.

Qutz kemudian berdiri dan mengatakan, “Islamah … Islamah”. Seluruh tentaranya kemudian mengulangi kata-kata yang diucapkannya sampai mereka mendapat kemenangan. Meskipun pasukan Muslim berada di bawah tekanan besar, dengan bantuan Allah SWT, strategi jitu, dan keberanian yang gigih, mereka dapat menghancurkan tentara Mongol dan menghentikan gelombang ketakutan yang dialami kaum muslim. Umat ​​Islam segera memburu pasukan Mongol, dan Qutz memasuki Damaskus setelah lima hari pertempuran Ain Jalout. Pemburuan terhadap pasukan musuh terus terjadi hingga ke Halab. Dan saat pasukan Mongolia merasakan pasukan kaum muslimin makin mendekat, mereka meninggalkan para tawanan Muslim. Dalam jangka waktu satu bulan, umat Islam mampu mengembalikan negeri Syam sepenuhnya dari tangan pasukan Tartar dan Mongol.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post