Satu Kekalahan


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP)

Saat ini bisa disebut fase paling parah menimpa Dunia Islam. Negeri-negeri Islam mengalami kemandulan luar biasa dalam kancah politik luar negeri (polugri)-nya. Bisa dilihat secara nyata, saat tentara-tentara Zionis Israel menjajah Palestina dan tentara aliansi internasional membombardir negeri-negeri Islam. 

Untuk kasus Palestina, jumlah penduduk negeri-negeri Arab yang mengelilingi Israel saja jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Pasukan militer negeri-negeri Arab juga jauh lebih banyak daripada Israel. Pada saat yang sama, pembantaian itu mereka saksikan secara langsung. Yang justru bereaksi adalah rakyat mereka dengan aksi-aksi protes mereka. Ironisnya, tentara-tentara yang seharusnya membebaskan Palestina dari penjajahan malah digunakan untuk membunuh dan menindas rakyatnya sendiri yang memprotes pembantaian massal kaum Muslim di Palestina.

Apa yang menimpa kaum Muslim sekarang ini tidak lepas dari keberhasilan propaganda Barat dalam membentuk opini internasional. Pembentukan opini umum ini merupakan bagian dari kebijakan luar negeri suatu negara yang sangat penting. Opini umum sering dianggap sebagai kehendak atau aspirasi masyarakat internasional. Kemampuan sebuah negara untuk membentuk opini umum internasional akan mempengaruhi dukungan negara lain terhadap kebijakan negaranya. Sebaliknya, opini umum masyarakat internasional bisa dijadikan alat penekan terhadap negara lawan. Menurut Jack C. Plano dan Roy Olton, ada beberapa tujuan dari propaganda: (1) memperoleh atau memperkuat dukungan rakyat dan negara sahabat; (2) mempertajam atau mengubah sikap serta cara pandang (persepsi) terhadap ide dan kejadian tertentu; (3) memperlemah atau meruntuhkan pemerintah asing dan kebijaksanaan serta program nasional mereka yang tidak bersahabat; (4) menetralisasi atau menghancurkan propaganda tidak bersahabat dari negara atau kelompok lain (The International Relation Dictionary, terj. hlm. 67)

AS adalah negara yang selama ini paling berhasil membangun opini internasional. Seruannya untuk memerangi terorisme internasional disambut dan mendapat dukungan di mana-mana. Pada gilirannya, setiap tindakannya terhadap negara lain yang mengatas namakan war againts terrorisme (perang melawan terorisme) kemudian dianggap legal dan wajar. Jadi, berkat keberhasilan propagandanya dalam membangun opini internasional, tindakan AS membantai ribuan kaum Muslim di Afganistan, mengintervensi banyak negara, melakukan diskrimanasi terhadap orang-orang Islam, serta menangkapi orang atau kelompok yang dituduh teroris dianggap sebagai sebuah tindakan yang wajar dan bermoral. Sama halnya yang dilakukan oleh Israel; opini internasional yang direkayasa oleh media massa pendukung zionisme membuat tindakan Israel membunuh, membombardir, dan menghancurkan rumah-rumah rakyat Palestina menjadi legal dan dimaklumi. Dalihnya adalah memberantas terorisme dan demi keamanan nasional. Sebaliknya, tindakan pejuang Islam dianggap sebagai tindakan teroris.

Propaganda Barat menyerang Islam sebenarnya bukanlah saat ini saja. Upaya sistematis Barat untuk menyudutkan, menyerang, dan memutarbalikkan Islam yang hakiki sudah sejak lama dilakukan. Berbagai propaganda negatif pun—seperti terorisme, militan, tak berprikemanusiaan, maniak seks, memelihara perbudakan, fundamentalis, tidak beradab, tidak bermoral, primitif, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya—sering dikaitkan dengan Islam. Dalam kampanye War Againts Terorisme-nya, AS dan sekutu-sekutunya jelas telah menjadikan Islam dan kaum Muslim sebagai obyek serangan mereka. Salah satu propaganda yang ingin mereka bangun adalah bahwa kembali pada syariat Islam dan Khilafah Islamiyah merupakan kemunduran bagi umat Islam dan dunia.

Beberapa perkara yang terus-menerus dilontarkan untuk menyerang Islam antara lain: (1) sistem pemerintahan Islam adalah diktator; (2) Islam merendahkan wanita; (3) Negara Islam adalah adalah police state, dengan rakyat yang hidup ketakutakan dan dipaksa untuk tunduk pada hukum Islam; (4) Islam memundurkan peradaban; (5) Islam akan menindas non-Muslim.

James Rubin (mantan asisten menlu AS di masa Clinton) pernah menulis, “Kita harus mengirimkan pesan yang jelas dan sederhana ke Dunia Islam. Jika visi Osama bin Laden berhasil maka seluruh Dunia Islam akan melihat kenyataan seperti di Afganistan di bawah Taliban. Benarkah Anda ingin hidup di tanahnya Bin Laden, Khilafah Islam di zaman batu, tanpa hak-hak, tanpa ekonomi, dan tanpa masa depan?” (The Independent, 14/10/2001).

Hal yang sama dilontarkan oleh PM Italia Berlusconi, “Kita harus sadar atas superioritas (keunggulan) peradaban kita, sebuah sistem yang—bertolak belakang dengan negeri-negeri Islam—menjamin penghargaan terhadap hak-hak agama dan politik.”

Saat ini, sangat jelas terlihat, betapa Dunia Islam kalah dalam melakukan propaganda untuk membentuk opini internasional. Faktor penyebab utamanya adalah karena peran tersebut tidak dilakukan oleh negara. Sebab, propaganda yang dilakukan oleh suatu negara hanya bisa diimbangi oleh propaganda negara juga. Di samping itu, hampir seluruh media massa internasional terkemuka dikuasai oleh negara-negara besar seperti AS dan Eropa. Sebaliknya, negara-negara di Dunia Islam tidak memiliki perhatian terhadap media massanya, apalagi untuk bisa melakukan propaganda internasional. Media-media massa di Dunia Islam justru menjadi konsumen dari kantor berita internasional yang dikuasai oleh negara-negara kapitalis.


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post