Sekolah Yang Unggul Akan Menjadi Bengkel Kepribadian Dan Ilmu Bagi Anak


 Romadhon Abu Yafi (Bengkel Inspirasi Dan Edukasi)


Sekolah adalah salah satu pihak yang berperan dalam proses pendidikan anak, selain orangtua dan lingkungan kehidupan. Keberadaan tiga pihak ini tidak bisa dipisahkan. Baik-buruknya masa depan anak ditentukan oleh baik-tidaknya pendidikan yang diberikan orangtua, sekolah serta lingkungan di sekelilingnya. Kesuksesan anak tidak bisa hanya ditentukan oleh salah satu pihak saja.


Pihak yang memiliki kewajiban pertama dan utama dalam mendidik anak adalah orangtua, baik secara langsung ataupun mewakilkannya kepada pihak lain. Apabila orangtua abai terhadap pendidikan dasar yang benar bagi anak-anak mereka, maka Allah akan meminta pertanggungjawaban atas kelalaian ini. Akibat yang akan diperoleh di dunia adalah pertaruhan masa depan anak. Padahal Allah SWT telah memerintahkan kepada setiap orang beriman untuk menjaga dirinya dan keluarganya termasuk anak-anaknya dari api neraka (QS at-Tahrim [66]: 6).


Sejatinya pendidikan dasar anak bermula dari rumah oleh orangtua, yakni ayah dan ibu. Nabi saw. bersabda:


كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ


Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR a-Bukhari, Muslim, al-Baihaqi, an-Nasa’i, at-Tirmidzi).


Sekolah adalah pelengkap proses pendidikan yang diberikan orangtua di rumah. Dalam Islam, sekolah diperlukan untuk melahirkan para ahli ilmu pengetahuan, para pemimpin mukhlis yang cerdas, para ahli ijtihad dan ahli fikih, ahli teknik yang mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi. Para ahli ini diperlukan oleh umat untuk kesejahteraan hidup dan kejayaan umat di mata dunia. Karena itu, sekolah harus dibingkai dalam sistem pendidikan yang memiliki visi dan misi untuk kesejahteraan dan kebangkitan umat.


Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia. Islam menetapkan bahwa negaralah yang merencanakan, mengatur dan menerapkan sistem pendidikan. Negara bertanggung jawab atas penyelenggaraan sekolah dengan segala kebutuhannya. Dalam Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan—bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi, gaji guru, metode pengajaran dan bahan-bahan ajarnya; tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah (Bunga Rampai Syariat Islam, hlm. 73).


Fenomena hari ini para orang tua memilihkan untuk mendapati sekolah yang ideal dalam pandangan Islam. Oleh sebab itu, orangtua harus cermat memilih sekolah untuk masa depan anak-anak. Setidaknya sekolah yang dipilih mendekati gambaran yang dikehendaki syariah Islam, meski tidak ideal.


Beberapa hal penting yang harus dipahami orangtua terkait gambaran sistem pendidikan Islam adalah: 


Pertama, akidah Islam harus menjadi asas pendidikan. Dalilnya adalah apa yang dilakukan Rasulullah saw. Beliau pertama kali mengajak kaumnya untuk menganut akidah Islam, kemudian baru mengajari mereka dengan hukum-hukum Islam. 


Kedua, tujuan pendidikan adalah mewujudkan kepribadian Islam, selain meningkatkan penguasaan sains dan teknologi yang diperlukan dalam kehidupan.


Dalam kehidupan sekarang yang dikuasai sistem sekular-kapitalis, memang tidak akan mungkin menemukan sekolah ideal sebagai-mana yang akan terdapat dalam sistem Islam. Namun, tidak berarti bahwa orangtua boleh menyerahkan pendidikan anaknya ke sembarang sekolah. Berikut beberapa panduan yang bisa dijadikan acuan bagi orangtua dalam menentukan penilaian kelayakan sebuah sekolah bagi anaknya.


1. Visi dan misi.


Sekolah yang baik adalah sekolah yang memiliki visi-misi pendidikan Islam yaitu: membentuk kepribadian Islam; menanamkan tsaqafah islamiyah; memberikan bekal pengua-saan sains dan teknologi yang diperlukan dalam mengurusi kehidupan; menyediakan lingkungan bagi pengembangan diri siswa dalam rangka menjadi pengemban dakwah dan generasi pemimpin umat (lil muttaqina imama). Sekolah harus menjadikan siswa siap menghadapi tantangan zaman dan menjadi mutiara Islam di tengah gempuran budaya Barat.


2. Manajemen sekolah.


Sekolah yang baik memiliki manajemen yang baik dalam proses kegiatan pembelajaran di kelas, pelaksanaan dan pengawasan tata tertib yang baik, standar keberhasilan yang terukur, kegiatan esktrakurikuler keagamaan dan umum yang menunjang keterampilan para anak didik.


3. Kurikulum pembelajaran.


Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya pendidikan. Sekolah yang baik memiliki kurikulum yang mengarah pada tercapainya visi dan misi tadi.


4. Sumberdaya manusia yang profesional.


Profesionalisme SDM sekolah sangat menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di sekolah. SDM yang profesional adalah orang-orang yang memiliki kafa’ah (kemampuan, kapabilitas), himmah (etos kerja) dan sikap amanah (tanggung jawab). SDM yang dimaksud adalah semua orang yang terlibat dalam kegiatan di sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, staf administrasi, sopir jemputan, sampai tenaga kebersihan dan penjaga sekolah. Mereka adalah orang-orang yang akan berinteraksi dengan anak sehingga merupakan salah satu komponen lingkungan yang akan mempengaruhi perkembangan dan pendidikan anak. Baik-buruknya ucapan dan perilaku mereka akan menjadi contoh hidup bagi anak-anak. Di antara SDM tersebut yang paling banyak dan sering berhubungan dengan anak adalah guru. Karena itu, selain harus berkepribadian Islam, guru haruslah memiliki ghirah keislaman dan ideologis.


5. Tata tertib.


Disiplin adalah salah satu aspek penting yang menunjukkan sekolah mempunyai kegiatan belajar-mengajar (KBM) yang baik dan berkualitas. Sebaik apapun visi-misi yang sudah ditetapkan, selengkap apapun kurikulum yang sudah diadopsi sekolah, atau sekalipun sekolah tersebut didukung oleh SDM yang profesional, apabila disiplin sekolah tidak dilaksanakan secara optimal, maka sekolah tersebut tidak akan mampu menghantarkan anak-anak didiknya ke gerbang kesuksesan.


6. Lingkungan sekolah.


Lingkungan sekolah yang baik adalah kondisi yang aman dan nyaman bagi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Sekolah yang nyaman adalah tempat yang jauh dari kegaduhan dan hiruk-pikuk; bebas dari makanan yang tidak halal dan tidak sehat; terhindar dari tindak kekerasan dan intimidasi. Suasana itu pun haruslah memacu kreativitas dan inovasi siswa dalam nuansa yang penuh kasih sayang dan rasa tanggung jawab.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post