Solusi Wabah oleh Khilafah



Oleh : Rani Ummu Hanin 
(Aktivis Majelis Taklim Ar-Rahmah)

 

Setahun lebih, pandemi Covid-19 menjangkiti dunia. Banyak pihak merasa dirugikan dengan adanya pandemi, baik dari segi ekonomi, kehilangan anggota keluarga, mandeknya pendidikan serta meningkatnya tingkat kemiskinan secara global.

 

Berbagai upaya dilakukan untuk menghentikan laju penyebaran virus ini. Diantaranya yaitu mengampanyekan gerakan 3M, mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker ditambah dengan menjauhi kerumunan. Bahkan penemuan vaksin untuk sebuah penyakit yang umumnya memakan waktu 10-15 tahun, berhasil dipangkas hingga hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 tahun untuk memproduksi vaksin Covid-19. Namun masih jauh panggang dari api, adanya vaksin tetap saja bukan solusi tuntas.

 

Melansir data dari laman Worldometers, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 158,970,290 kasus hingga Senin (10/5/2021) pagi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 136,517,897 pasien telah sembuh, dan 3,306,746 orang meninggal dunia. Kasus aktif hingga saat ini tercatat sebanyak 19,145,647 dengan rincian 19,038,523 pasien dengan kondisi ringan dan 107,124 dalam kondisi berat. (https://www.worldometers.info/coronavirus/)

 

Data secara nasional di Indonesia, masih menunjukkan penambahan kasus setiap harinya. Masih dari laman yang sama, Indonesia per pagi ini (10/5/201) menempatkan posisinya di urutan ke-18 dunia dengan total 1.713.684 kasus. Jumlah ini diperoleh setelah ada tambahan kasus harian sebanyak 3.922 dalam 24 jam terakhir. Sedangkan untuk kasus kematian mengalami tambahan 170 orang, sehingga jumlah yang meninggal dunia menjadi 47.012 jiwa. Angka pasien sembuh terkonfirmasi 1.568.277 orang dan masih menyisakan 98.395 kasus aktif dari seluruh wilayah di IndonesiaIndonesia (tirto.id, 10/5/2021).

 

Jelas, ini butuh keseriusan dari berbagai pihak untuk menangani pandemi Covid-19. Baik dari masyarakat secara individu, terlebih lagi dari sisi pemerintah yang memiliki wewenang dalam mengatur penanggulangan pandemi.

 

Kebijakan setengah hati dan cenderung meremehkan sejak awal pandemi Covid-19 di Indonesia adalah salah satu penyebab sangat cepatnya penularan Covid-19 ke penjuru negeri. Alih-alih menghentikan arus perpindahan virus melalui kontak manusia, pemerintah justru mengobral tiket pesawat destinasi wisata Indonesia, dengan dalih menyelamatkan ekonomi.

 

Berbagai pernyataan yang tak layak diucapkan oleh petinggi negeri malah sempat dilontarkan. Yang semuanya itu jelas menunjukkan pengabaian. Dengan kata lain, ini bukti kurang seriusnya pemerintah dalam menangani pandemi ini.

 

Pada perkembangannya, lemahnya tracing (penelusuran), testing (pengetesan), dan treatment (pengobatan) di Indonesia juga menjadi kendala akut. Kemampuan tes PCR Indonesia masih di sekitar ambang minimal yang ditetapkan WHO, yakni 1 per 1.000 orang per pekan. Dari segi tracing/pelacakan, Indonesia juga gagal memenuhi target lacak minimal 20-30 kontak erat dari 1 kasus konfirmasi positif Covid-19; dengan rata-rata pelacakan kontak erat belum sampai 1 banding 10 (kompas.com, 6/3/2021).

 

Lantas bagaimana solusi untuk menyelesaikan pandemi corona ini?

 

Aturan yang lahir dari buah pikir manusia rentan akan adanya kecacatan, kesalahan dan pertentangan. Aturan yang seharusnya mendatangkan ketertiban dan kesejahteraan bagi umat manusia justru pada hari ini menimbulkan kesengsaraan bagi manusia itu sendiri.

 

Landasan berpikir yang salah dalam ideologi yang dianut dunia saat ini, yaitu sekulerisme, yang melahirkan ideologi kapitalisme jelas sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang lemah, terbatas dan butuh kepada yang Maha Kuasa.

 

Kapitalisme menunjukkan boroknya dalam masalah penanganan pandemi ini. Nyatanya, aturan yang lahir dari kapitalisme hanyalah aturan yang akan menguntungkan segelintir orang yaitu kapitalis. Ekonomi, ekonomi, dan ekonomi, uang, uang dan uang memenuhi benak pikiran manusia hingga solusi dalam menangani pandemi berkutat pada masalah ekonomi. Bagaimana hendak memulihkan ekonomi ketika sumber daya manusianya penyakitan?

 

Solusi Islam

 

Islam adalah seperangkat aturan yang lengkap dan paripurna. Dalam menangani masalah pandemi, Rasulullah saw bersabda yang artinya, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasukinya, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu ada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

 

Artinya, lockdown total perlu diberlakukan pada wilayah yang terdapat wabah di sana. Tentu dalam hal ini, Negara wajib memberikan sokongan penuh pada wilayah yang telah di lockdown. Baik dari segi logistik, fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, obat-obatan, alat tes, vaksin dan lain-lain secara gratis dan mudah dijangkau.

 

Sumber pendanaan diambilkan dari kas negara melalui pengelolaan sumber daya alam yang tepat dan amanah, tanpa campur tangan swasta lokal maupun asing. Sehingga keuntungan secara penuh akan dikembalikan kepada rakyat untuk menangani masalah semisal pandemi global ini.

 

Namun demikian, solusi ini hanya dapat direalisasikan oleh negara yang pemimpinnya tunduk dan patuh hanya kepada Rabb-nya dengan menjalankan seluruh aturan Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan. Yakni pemimpin dalam format negara Islam, Khilafah Islamiah.

 

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A'raf Ayat 96 yang artinya,

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post