Ada Tambang, Ada Kerusakan?


 Lukman Noerochim (Peneliti FORKEI)


Berdasarkan data JATAM, sekitar 44% daratan Indonesia telah diberikan untuk sekitar 8.588 izin usaha tambang.


Jumlah itu seluas 93,36 juta hektare atau sekitar empat kali lipat dari luas Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.


Akibatnya, kata koordinator JATAM Merah Johansyah, "Di mana ada tambang, di situ ada penderitaan warga. Di mana ada tambang, di situ ada kerusakan lingkungan. Tidak akan pernah bisa berdampingan."


Merah menjelaskan, penderitaan masyarakat muncul karena pengurus negara telah gagal memastikan hak masyarakat mendapatkan informasi ketika tambang beroperasi, ditambah terjadinya "kongkalikong" demi kepentingan ekonomi dan politik. (bbc.com/indonesia, 7/6/2021)


Pemerintah wajib mempertimbangkan ulang perijinan tambang. jangan sampai menyebabkan krisis kemanusiaan dan krisis ekologi. Meskipun alam ini telah disediakan untuk manusia, tidak berarti manusia bebas berbuat apa saja untuk mengeksploitasinya. Sebab, setiap perbuatan manusia senantiasa terikat dengan hukum syariah. Dalam hal ini Allah SWT telah melarang manusia membuat kerusakan di bumi, sebagaimana firman-Nya:


وَلا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ بَعْدَ إِصْلاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (٥٦)


Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaiki bumi itu. Berdoalah kepada Dia dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS al-A’raf [7]: 56).


Dalam tafsir Jalalain, kata kerusakan dalam ayat ini bermakna melakukan kemusyrikan dan kemaksiatan. Merusak lingkungan termasuk kemaksiatan yang tercakup dalam larangan tersebut.


Selain itu, terkait dengan pemeliharaan lingkungan, Islam mengajari kita tentang beberapa hal, di antaranya: Pertama, tidak boleh menebang pohon secara sia-sia. Rasulullah saw. bersabda:


مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً فِي فَلاَ ةٍ يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ السَّبِيْلِ وَالْبَهَائِمُ عَبَثاً وَظُلْمًا بِغَيْرِ حَقٍّ يَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا صَوَبَ اللهُ رَأْسَهُ فِي الْناَّرِ


Siapa yang memotong pohon bidara yang ada di atas tanah lapang—yang sering digunakan sebagai tempat bernaung bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan ataupun binatang-binatang—secara sia-sia dan penuh kezaliman tanpa alasan yang benar, maka Allah akan menaruh api neraka di atas kepalanya (HR al-Bukhari).


Kedua, tidak boleh mencemari lingkungan. Rasulullah saw. bersabda:


اِتَّقُوْا اللاَعِنَيْنِ، قاَلوُا، وَمَا اللاَعِناَنِ، قاَلَ الَّذِي تَتَنَلَّى فِي طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْ ظِلِّهِمْ


“Berhati-hatilah terhadap dua orang terlaknat.” Sahabat bertanya, “Siapakah dua orang terlaknat itu?” Rasulullah menjawab, “Yakni orang yang membuang kotoran di jalanan yang dilalui orang dan tempat berteduh mereka.”


Ketiga, mendorong kaum Muslim untuk menanam tanaman. Rasulullah saw. bersabda:


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرُسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعاً فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيْمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهَا صَدَقَةً


Tak seorang Muslim yang menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan orang lain, burung, ataupun binatang-binatang lain, kecuali hal itu menjadi sedekah bagi dirinya (HR Muslim).


Keempat, tidak membunuh binatang secara sia-sia. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap orang yang membunuh burung pipit atau binatang yang lebih besar dari burung pipit tanpa ada kepentingan yang jelas, dia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.” Ditanyakan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apa kepentingan itu?” Rasulullah menjawab, “Apabila burung itu disembelih untuk dimakan, dan tidak memotong kepalanya kemudian dilempar begitu saja.” (HR Ahmad).


Selain itu, adanya larangan dalam Islam untuk mengkonsumsi burung yang bercakar atau binatang bertaring mengandung hikmah yang terkait dengan keseimbangan ekosistem. Sebab, binatang-binatang semacam itu berperan sebagai predator atas binatang lain yang sering menjadi hama perusak, seperti tikus dan babi. Karena itu, bila binatang tersebut punah, keseimbangan ekosistem akan terganggu. Akibatnya, populasi hama perusak akan merajalela.


Demikianlah di antara ayat al-Quran dan hadis yang melarang manusia membuat kerusakan terhadap lingkungan dan memerintahkan mereka untuk menjaga dan melestarikannya. Semua itu tentu tak hanya menjadi aturan normatif, melainkan benar-benar telah dipraktikkan dalam sejarah panjang keemasan Islam. Rasulullah saw. pernah menetapkan sebuah wilayah di sekitar Madinah sebagai hima, yaitu kawasan tertentu yang dilindungi (konservasi) untuk keperluan tertentu. Abu Ubaid telah meriwayatkan dalam kitab Al-Amwal, bahwa Rasulullah saw. pernah melindungi sebuah daerah bernama Naqi. Di daerah ini air sangat berlimpah sehingga banyak tumbuh pohon kurma yang lebat buahnya. Beliau melarang orang untuk merambah tanah tersebut, karena di tempat itu banyak rumput yang bisa digunakan untuk menggembala hewan ternah tertentu, yaitu kuda-kuda pilihan untuk keperluan perang.


Sejumlah Khalifah juga menetapkan beberapa hima. Khalifah Umar Ibn Khaththab pernah menetapkan Hima asy-Syaraf dan Hima ar-Rabdah yang cukup luas di dekat Dariyah. Khalifah Utsman Ibn Affan memperluas Hima ar-Rabdah tersebut yang mampu menampung 1000 ekor binatang setiap tahunnya. Pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid kaum Muslim pernah membangun kebun-kebun untuk melestarikan hewan-hewan. Raja Prancis, Charlemagne, pernah diberi hadiah oleh Khalifah Harun al-Rasyid binatang gajah dan kera yang diambil dari kebun binatang di Bagdad. Khalifah al-Mutawakkil juga pernah membangun kebun yang luas di Kota Samarra sebagai tempat perlindungan bagi hewan-hewan seperti singa, kijang, burung, dll.


Demikianlah Islam telah hadir dengan membawa aturan-aturan lengkap yang mencakup masalah kelestarian lingkungan. Aturan-aturan itu telah diterapkan secara nyata dalam sejarah panjang keemasan Islam yang hasilnya tak hanya mensejahterakan manusia, tetapi juga melestarikan lingkungan sekitarnya.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post