Bahaya Antek Asing (1)


 Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP) 


Di dalam ensiklopedia Wikipedia dikatakan, “Agent (secara tatabahasa), salah satu peran thematic: yaitu partisipan suatu situasi yang menyelesaikan suatu aksi.” Dengan demikian, agen (‘amîl -‘umalâ’/agent) adalah orang atau pihak yang bertindak, bekerja atau beraktivitas untuk kepentingan orang atau pihak lain.


Istilah agen (‘amîl/agent) juga sering diartikan sebagai komprador (comprador atau compradore). Istilah komprador awalnya berasal dari istilah Portugis, secara bahasa artinya pembeli (buyer). Menurut ensiklopedia Britanica, istilah komprador merujuk kepada anggota kelas pedagang Cina yang membantu pedagang Barat di dalam negeri Cina pada abad ke-18 akhir, abad ke-19, dan awal abad ke-20. Mereka direkrut dengan kontrak tertentu. Para komprador itu bertanggung jawab atas para pekerja Cina spesialis pertukaran mata uang, para penerjemah, kuli dan pengawal (penjaga).


Menurut kamus Mirriam-Webster, istilah komprador itu muncul sejak tahun 1840; artinya adalah agen; orang Cina yang diikat (direkrut) oleh suatu eksistensi asing di dalam negeri Cina untuk bertanggung jawab atas para pekerja Cina dan untuk bertindak sebagai perantara di dalam urusan bisnis.


Kemudian, istilah agen (‘amîl/agent) dan komprador juga menonjol pada ranah politik. Di dalam kamus Wiktionary, komprador bisa berarti penduduk asli suatu negeri jajahan yang bertindak sebagai agen/kaki tangan penjajah. Adapun istilah ‘amîl, di dalam kamus Al-Mawrid secara politik artinya adalah agen, orang upahan, atau pengkhianat.


Menurut Prof. Dr. Ruwas Qal’ah Ji, ‘amîl (agent) adalah pengkhianat yang bekerja untuk kepentingan pihak lain. Di antaranya adalah fulan yang menjadi ‘amîl (agen) negara asing, yaitu orang yang berkolaborasi dengan negara asing (musuh) demi kepentingan negara itu.”


Dengan demikian, seorang ‘amîl (agent/comprador)—bentuk jamaknya ‘umalâ’—secara istilah dalam politik bermakna agen atau kaki tangan pihak asing atau penjajah. Ia bertindak, beraksi atau membuat kebijakan bukan demi kepentingan umat, tetapi untuk kepentingan asing, penjajah, kapitalis atau pihak-pihak lain dengan mengalahkan kepentingan umat. Hanya saja, orang tersebut berada di tengah-tengah umat dan berasal dari kalangan putra-putra umat sendiri.


Istilah agen, antek atau kaki tangan sebagai istilah politik merupakan sesuatu yang baru. Istilah ini tidak kita temukan di dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Karena itu, istilah ini tidak memiliki pengertian syar’i. Sekalipun demikian, bukan berarti syariah tidak menjelaskan karakter orang sebagaimana karakter ‘amîl itu. Jika kita bandingkan, karakter ‘amîl (agen/komprador) itu mirip dengan karakter munafik yang dideskripsikan di dalam al-Quran.


Al-Quran menyatakan, orang munafik yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang Mukmin (QS an-Nisa’ [4]: 139). Jadi, salah satu tanda antek adalah lebih memilih orang kafir (asing) sebagai teman, atau lebih dekat dengan mereka dan memberikan loyalitas atau lebih loyal kepada orang kafir (asing) dibandingkan kepada kaum Muslim (umat).


Seorang antek (komprador) berada di tengah-tengah umat dan memperlihatkan diri sebagai bagian dari umat atau berada di pihak umat. Tujuannya untuk mengelabuhi umat dan menutupi jatidirinya. Karakter ini merupakan salah satu karakter orang munafik (lihat QS al-Baqarah [2]: 14).


Ia tidak segan untuk bersaksi. Namun, kesaksiannya itu hanya kamuflase atau perisai untuk menutupi jatidirinya (QS al-Munafiqun [63]:1-2; at-Taubah [9]:56). Hal itu untuk menutupi kedustaannya dan agar umat ridha kepadanya. Hakikatnya ia tidak sependirian dengan atau berpihak kepada umat.


Seorang agen (antek) juga sering menggunakan dalih atas nama kepentingan umat. Namun, gerak, tingkah laku, dan kebijakannya menunjukkan hal yang sebaliknya. Mengaku melindungi kepentingan umat, tetapi dalam tindakan justru mempertahankan, membela bahkan memperjuangkan eksistensi militer atau anggota militer asing atau lembaga penelitian militer asing di dalam negeri. Padahal sudah jelas keberadaannya lebih untuk kepentingan asing dan tidak memberikan manfaat kepada umat.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post