Cara Islam Hadapi Krisis Pangan


Annisa Sabikha 

(Siswi SMAIT AL AMRI Probolinggo)


Saat ini krisis ekonomi merajalela di berbagai panca negara. Myanmar dan Suriah misalnya, hingga hampir terjadi bencana kelaparan akibat kesenjangan pangan.



Itu semua dapat terjadi karena banyak hal, seperti konflik bersenjata yang mengakibatkan kerusakan infrastuktur yang signifikan hingga sulit untuk mengembangkan produktivitas.



Atau legalnya korupsi, tentu saja hal itu memberi dampak buruk bagi sebagian masyarakat. Hingga pada akhirnya tidak semua rakyat mencicipi kemakmuran. Dikala sedikit dari mereka merasakan kenyang, sisanya sangat kesulitan untuk mendapatkan meski sesuap nasi.



Itu semua adalah sebagian dari banyaknya kerusakan yang terjadi hampir di seluruh negri. Ini adalah telur kapitalisme yang telah menetas. Sistem kapitalisme menjadikan seseorang yang kaya semakin kaya, dan menjadikan sebagian besarnya yang miskin semakin miskin. Sistem yang justru merusak alam ini mencetak para penguasa zholim, mereka merespon para oligarki, namun acuh pada rakyat mereka sendiri. Bahkan meski nyawa rakyat terancam akibat kesenjangan pangan yang menjadi masalah akut, selama memberikan keuntungan pada penguasa, maka penguasa akan condong dengan para pemilik modal. Sibuk megurusi hal hal yang tidak semestinya, dan meninggalkan begitu saja kewajiban mereka sebagai pengurus warga.



Bertolak belakang sekali dengan penguasa dalam sistem islam. Mereka bertanggung jawab atas dua perannya terhadap rakyat, yaitu sebagai raa'in (pelayan) dan junnah (pelindung).



Maka dengan sistem islam, khalifah akan mengoptimalkan semua potensi produksi bahan bahan pokok. Karena Islam menjadikan seluruh sektor, termasuk sektor pertanian, memberikan manfaat yang tiada habisnya bagi negara dan seluruh rakyatnya.

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post