Esensi Haji


 

Hadi Sasongko 


Sebagai sebuah ibadah, haji terdapat tatacaranya. Detail dan rinciannya dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda: Khudzû ‘annî manâsikakum, ambillah dariku manasik haji kalian. Perintah ini mewajibkan umat Islam mencontoh beliau dalam melaksanakan haji.


Terhadap tatacara tersebut, tidak ada yang membantah. Misalnya, mengapa harus mengenakan pakaian ihram, wuquf di Arafah,melempar jumrah, menginap di Muzdalifah,dan lain-lain. Tidak ada yang protes! Semuanya taat dan patuh terhadap ketentuan syariah.


Bahkan, seandainya ada orang yang mengubah tata caranya, pasti akan ditolak, pelakunya dikatakan sesat. Kalau ada yang mengatakan bahwa wukuf di Arafah tidak perlu dikerjakan, atau wuquf bisa dilakukan di tempat lain, pasti akan disebut sesat.


Itulah ketaatan dalam ibadah haji. Semestinya, ketaatan itu tidak hanya dipraktekkan di dalam ibadah haji, namun juga dalam semua hukum syariah lainnya.


Hadits di atas memang untuk haji. Untuk perkara lainnya dijelaskan dalam banyak dalil lainnya. Sepert firman Allah SWT: Wamaa aatakumu al-Rasûl fakhudzûhu wa maa nahaakum 'anhu fanthuu, QS al-Hasyr ayat 7. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.


Lafadz mâatau “segala sesuatu” dalam ayat ini bermakna umum, meliputi semuanya. Tidak terbatas hanya dalam haji.


Jika dalam haji harus menaati ketentuan syara’nya, demikian pula dalam urusan lainnya. Kalau dalam haji taat memakai baju putih tak berjahit, di luar haji juga tak berani memakai baju yang membuka aurat.


Jika dalam haji tidak berani mengubah tempat wuquf, semestinya juga tidak berani mengubah hukuman potong tangan bagi pencuri menjadi hukuman penjara.


Jika dalam ibadah haji tidak berani mengubah urutan tatacaranya, semestinya juga tidak berani mengubah sistem pemerintahan khilafah yang ditetapkan syara’ menjadi sistem demokrasi, monarki, atau lainnya.


Demikian juga berbagai hukum dalam sistempemerintahan, ekonomi, pendidikan, pergaulan, sanksi hukum, politik luar negeri, dan lain-lain.


Sungguh aneh jika ada seorang Muslim yang hanya mau menaati ketentuan syara’ dalam haji, namun dalam hukum lainnyamenolak. Bukankah semua hukum itu datang dari Dzat yang sama, yakni Allah SWT; dibawa oleh rasul yang sama, yakni Nabi Muhammad SAW? Lalu atas dasar apa ada sebagian hukum yang ditaati, sementara sebagian lainnya ditolak?


Dalam khutbah haji wada’, Rasulullah SAWtelah memerintahkan umatnya untuk berpegang tegung kepada Al Qur'an.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post