Formulasi Masyarakat Anti Premanisme


 Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Istilah premanisme dalam artikel ini merujuk kepada persepsi umum di masyarakat. Disebut aksi premanisme meliputi pungli (pungutan liar), balapan liar, perjudian dan tindak kriminalitas lainnya. Tentunya pembegal termasuk perampok terkategori aksi premanisme.


Pemberantasan aksi premanisme masih insidental, tergantung kebutuhan. Pada momen tertentu seperti menjelang Bulan Ramadhan dan Idul Fitri, digalakkan pemberantasan premanisme.


Pada tahun 2018, jelang Ramadhan, polres Jakut berhasil menangkap 82 pelaku premanisme. Di beberapa daerah hingga dibentuk tim khusus pemberantasan premanisme.


Di luar Ramadhan, pemberantasan premanisme dilakukan ketika terdapat banyak laporan masyarakat. Baru-baru ini Presiden Jokowi mendapat banyak keluhan dari para sopir di Pelabuhan Peti Kemas, Tanjung Priok. Banyak pungli terhadap para sopir tersebut. Sontak, Jokowi perintahkan Kapolri untuk menindaklanjuti dengan memberantas premanisme dengan besar-besaran di seluruh wilayah RI. Sepertinya presiden telah menduga kuat bahwa premanisme masih menjadi penyakit akut di masyarakat. Kasus di Tanjung Priok dijadikan sebagai barometernya. Seolah bisa dikatakan, jika di Jakarta saja sedemikian besar, tentunya premanisme sudah menjadi hantu yang menasional.


Hasilnya pada 11/6/2021, telah ditangkap 49 preman di Tanjung Priok. Pada 12/6/2021 berhasil ditangkap 100 preman di Makasar. Termasuk di Jatim, berhasil ditangkap 67 preman dari 3 lokasi yang berbeda (14/6/2021). Ketiga lokasi penangkapan tersebut adalah Tanjung Perak, Terminal Bungurasih dan Pangkalan truk Surabaya. Dan masih banyak aksi penangkapan lainnya.


Sebuah kejahatan itu terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Niat dan kesempatan berbuat jahat selalu terbuka di dalam kehidupan yang bercorak sekuleristik seperti saat ini. Tentunya tidak mengherankan bila kejahatan termasuk premanisme, seolah tiada habisnya menghantui.


Maka dari itu diperlukan sebuah formulasi pemberantasan premanisme yang ampuh dan berkelanjutan. Ampuh dalam pengertian mampu memberikan efek jera. Berkelanjutan dalam pengertian adanya tatanan masyarakat yang resisten akan aksi premanisme.


Yang mendasar adalah mengganti asas sekuler dengan menjadikan aqidah Islam sebagai asas kehidupan. Pasalnya, sekulerisme tidak memperhatikan nilai halal dan haram.Yang ada hanyalah untung rugi.


Setelah menjadikan aqidah Islam sebagai asas kehidupan, berikutnya mesti dibentuk sebuah tatanan masyarakat anti premanisme. Individu-individu yang bertaqwa akan menghilangkan niat jahat dari dalam dirinya. Di sinilah peran negara untuk membina iman taqwa warganya. Buahnya tidak hanya timbul ketaqwaan individual, akan tetapi juga adanya masyarakat yang kontrolnya kuat. Maka individu dan masyarakat tidak akan segan-segan untuk melaporkan adanya tindak premanisme di lingkungannya. 


Tentu saja negara menjalankan fungsinya dalam menjamin keamanan warganya. Satuan kepolisian akan secara berkala melakukan patroli keamanan di lingkungan warganya. Adalah sebuah kelalaian tatkala warga harus menjaga keamanannya sendiri, apalagi menggaji untuk menjaga keamanannya.


Faktor berikutnya adalah sistem sangsi yang mampu memberikan efek jera. Terhadap aksi premanisme berupa pungli, balapan liar dan perjudian, sangsinya berupa takzir. Kadar takzir ditentukan oleh kepala negara. Harta hasil pungli adalah harta khianat. Negara akan menyitanya guna kepentingan umum bila tidak diketahui pemiliknya. Pelakunya mendapat sangsi takzir berupa penjara, tasyhir (diumumkan kepada khalayak) yang kadarnya disesuaikan dengan tingkat kejahatannya. 


Adapun terkait perjudian yang disertai dengan minuman keras. Para peminum minuman keras akan terkena sangsi hudud berupa dicambuk hingga 80 kali. Untuk perjudiannya, maka kepolisian akan membubarkannya dan memberi sangsi takzir sesuai kadar kejahatan judinya. 


Sedangkan aksi premanisme berupa pembegalan dan perampokan. Sangsinya terkategori hudud. Bila hanya merampas harta, maka dipotong tangan dan kakinya secara bersilangan. Selanjutnya akan dihukum bunuh bila pembegal tersebut melakukan pembunuhan tanpa mengambil harta. Bila disertai dengan mengambil harta, maka selain dibunuh, juga dipancangkan di tiang salib. Sedangkan tatkala hanya menakut-nakuti masyarakat di jalan umum, maka sangsinya adalah pelaku diasingkan. Pastinya sangsi yang tegas sedemikian akan menimbulkan efek jera tatkala pelaksanaan sangsi tersebut dilakukan di depan khalayak umum. 


Demikianlah potret masyarakat yang anti premanisme. Kesinambungan asas kehidupan yang Islami, ketaqwaan individu, kontrol masyarakat, dan negara yang menerapkan sistem hukum yang ampuh, niscaya melahirkan pemberantasan premanisme menjadi efektif dan efisien. 


# 16 Juni 2021

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post