Gelombang Kedua, tindakan pemerintah apa?


 Oleh: Azizah Huurun'iin


Gelombang pandemi COVID-19 datang, padahal dua tahun telah berlalu. Namun tak ada perubahan yang berarti mengenai menurunnya pasien postif. Setiap hari masiha da saja, bahkan kini gelombang besar positif corona datang.


Banyak rumah sakit tak mampu menampung pasien COVID, bahkan terpaksa mengorbankan pasien non COVID-19 yang seharusnya mendapatkan perawatan rutin di rumah sakit. Akibat penuhnya ruangan, dan kurangnya bed rumah sakit.


Bahkan akhir-akhir ini sempat beredar kabar bahwa Indonesia termasuk negara high risk positif COVID-19 didunia, yang telah ditetapkan WHO. Namun dibantah oleh dr. Siti Nadia Tarmizi, Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes. Beliau mengatakan bahwa hal tersebut adalah hoax, dan Nadia turut menuturkan sejak 11 Maret 2020, kondisi pandemi diumumkan oleh WHO sebagai pernyataan bahwa seluruh dunia berkategori risiko tinggi (high risk) penyebaran COVID-19. 


Pemerintah pun mencoba menenangkan rakyat dengan vaksinisasi, juga menenggelamkan berita-berita hoax yang mengkhawatirkan.


Namun amat disayangkan, karena pencegahan yang dilakukan pemerintah atas gelombang positif, sangat lamban.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra, meminta pemerintah untuk lebih serius dan memberikan kebijakan sebagai solusi, agar keluar dari lonjakan pandemi virus corona (Covid-19) saat ini.


Lebih lanjut, Hermawan juga mengkritik kebijakan 'gas-rem' yang seringkali jadi narasi Presiden Joko Widodo saat kasus melonjak. Menurutnya, kebijakan 'gas-rem' tak cukup kuat mengatasi pandemi, bahkan bisa jadi bom waktu. "Rem-gas, rem-gas itu adalah kebijakan terkatung-katung yang membuat kita hanya menunda bom waktu [ledakan kasus]," ujarnya.cnnindonesia.com.


Beberapa ledakan kecil seperti munculnya pasien baru setiap harinya sudah sering terjadi, pemerintah seharusnya memberikan kepekaan yang berarti untuk keberlangsungan kehidupan rakyatnya. Sudahlah ini, para rakyat ditekan oleh ekonomi yang kocar kacir. And now mereka harus menghadapi susahnya mendapat perawatan kesehatan akibat dihimpit pandemi.


Perhatian pemerintah pecah. Ekonomi, dan kesehatan rakyat. Datangnya gelombang baru COVID-19 menjadi goncangan hebat untuk pemerintah, dan seharusnya mendorong pemerintah untuk memberikan yang terbaik dan lebih. Kembali disayangkan, harapan rakyat bagai punguk merindu bulan. Tak akan terwujud.


Pencitraan khas media selalu dilakukan, tapi kerja nyata hanyalah potretan semata. 


Masih banyak rumah sakit daerah yang tidak punya fasilitas memadai untuk gelombang kedua covid. Bahkan kalau merujuk pasien ke rumah sakit pusat, maka disana dapat dipastikan sudah penuh atau kelebihan kapasitas.


Mirisnya lagi, tak sekedar ruangan yang kurang bahkan alat-alat penting sangat sulit dijangkau. Selain terbatas juga karena mahalnya. Pihak rumah sakit serba salah karena cash flow mereka juga mengecil.


Kesempatan pemerintah dalam melockdown daerah sudah lewat. Jasi sudah jadi bubur. Dan sebelum bertambah parah lagi, pemerintah harus membuat keputusan yang tepat dan mengubah keadaan 360 derajat.


Bagaimana Islam menyelesaikan persoalan kesehatan. Adalah dengan mendahulukan kepentingan rakyat. Bahkan sejak awal sistem Islam akan menegaskan perihal lockdown saat awal pandemi. Tidak seperti sekarang, terlanjur parah baru terhenyak dan sadar akan daruratnya.


Seperti pada masa kekhalifahan Umar saat terjadi penyakit menular disuatu kota maka beliau dengan tegas melarang siapapun masuk dan keluar darisana. Sehingga meminimalisir proses penularan ke kota lain. Juga agar memudahkan tenaga kesehatan dalam mengobati. Pun tenaga kesehatan tidak harus menghadapi membludaknya kurva pasien seperti sekarang. Dengan begitu masalah akan lebih cepat terselesaikan.


Rakyat sehat dengan sistem benar. Maka pemimpinnya pun akan disenangi. Tak macam sekarang, diperintah dengan sistem nano-nano, bisa berubah sewaktu-waktu. Mengkhawatirkan sekali jika sistem seperti tetap ada. Karena mau bagaimana pun jika sistem seperti ini terus memimpin, yang ada hanyalah gelombang positif covid akan trus berdatangan.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post