Istiqomah Dalam Kebenaran (2)


 Muhammad Amin,dr,MKed.Klin. SpMK


Rasul saw. juga bersabda:


اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا …


Beristiqamahlah kalian dan kalian tidak akan mampu (melakukannya secara sempurna) (HR Ahmad, Ibn Majah, ad-Darimi dan Malik).


Karenanya, beliau dalam kesempatan lain bersabda:


سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا


Beristiqamahlah secara hakiki dan berusahalah mendekati keistiqamahan yang hakiki itu (HR al-Bukhari dan Muslim).


Kaidah yang harus dijadikan pegangan adalah sabda Rasul saw.:


فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ


Jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah dan jika aku memerintahkan suatu perkara maka lakukan sesuai kemampuan kalian (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban)


Jadi, kita harus sungguh-sungguh berusaha semaksimal mungkin untuk istiqamah; yaitu menetapi keimanan, tauhid dan akidah Islam yang benar dan lurus; serta menetapi ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini pada dasarnya adalah hakikat ketakwaan itu sendiri.


Para ulama menjelaskan, agar bisa tetap istiqamah, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama: mewujudkan keimanan yang benar, lurus dan berpengaruh. Keimanan harus senantiasa diperbarui. Di antaranya dengan me-refresh metode meraih keimanan; me-refresh bukti, dalil dan argumentasinya yang pasti dan terus dijaga dan dipertegas; terus diingat dalam hati, diucapkan dengan lisan dan menghadirkan makna-makna keimanan yang syar’i; menghadirkan kesan di dalam benak atas kenikmatan surga, pedihnya siksa neraka dan apa saja yang wajib diimani; juga terus menghadirkan kesadaran akan murâqabah Allah dan bahwa Allah Mahatahu. Semua itu merupakan dorongan terbesar untuk bersikap istiqamah. Keistiqamahan akan berbanding lurus dengan benar dan lurusnya keimanan serta tingkat pengaruh keimanan itu dalam diri kita. Dalam hal ini amal-amal ibadah dan zikir sangat besar faedahnya.


Kedua: menjaga keikhlasan semata karena Allah dan untuk meraih ridha-Nya. Sebab, setan tidak akan bisa menggoda hamba-Nya yang ikhlas (QS al-Hijr: 39-40; Shad [38]: 82-83).


Ketiga: menuntut ilmu syariah, ilmu tentang halal dan haram. Sebab, seseorang tidak mungkin berlaku lurus tanpa mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang. Kemudian berpegang pada kaidah amal, yaitu berpikir dan mencari tahu hukumnya, baru memutuskan untuk mengambil dan melakukannya atau tidak.


Keempat: senantiasa membina kesabaran dalam segala keadaan saat mendapat kenikmatan maupun ketika tertimpa musibah; terus membangun sikap qanâ’ah (rasa syukur dan merasa cukup) atas pemberian dari Allah SWT.


Kelima: teman dan lingkungan yang salih dan kondusif untuk istiqamah. Sebab, orang-orang Mukmin saling tolong-menolong di antara mereka di dalam keimanan dan ketaatan. Rasul juga bersabda:


الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ


Seseorang itu sesuai dengan agama temannya. Karena itu, hendaklah siapapun dari kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman (HR Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).


Di sinilah pentingnya berjamaah. Para ulama memperingatkan bahwa setan lebih mudah memperdaya orang yang sendirian dan jauh dari orang yang berjamaah.


Keenam: senantiasa instrospeksi diri sendiri sehingga dengan cepat akan bisa tahu dan sadar akan terjadinya penyimpangan. Jadi, ‘alarm’ pendeteksi kemaksiatan dan penyimpangan harus selalu on dalam diri kita.


Ketujuh: berdoa memohon kepada Allah perlindungan dari kebengkokan dan memohon taufik, pertolongan dan bantuan Allah untuk bisa istiqamah.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post