Jangan Terjebak Figur Capres


Adam Syailindra (Koordinator Forum Aspirasi Rakyat)


Pemilihan Presiden berikutnya masih 3 tahun lagi, tapi sejumlah parpol sudah bersiap-siap mencari capres yang akan dijagokan. Pertama muncul nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, lalu Gubernur Jawa Tengah yang juga Politisi PDIP Ganjar Pranowo, selanjutnya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.


Selain itu, dalam survei itu muncul juga Ketua Umum Partai Gerindra yang juga Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).


Tak hanya para figur laki-laki, ada pula lembaga survei yang merilis mengenai tokoh dari kalangan perempuan yang turut berpotensi maju sebagai capres 2024 mendatang.


Yaitu, eks Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, eks Wali Kota Surabaya yang kini menjabat Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.


Walau berulangkali dibuat kecele dengan hasil pemilu — baik pemilu legislatif maupun presiden –, juga dalam pilkada, rakyat masih tetap percaya bahwa pergantian kepemimpinan adalah solusi bagi masalah bangsa. Mereka masih termakan pola lama; bila pemimpinnya baik maka nasib rakyatnya akan baik, bila pemimpinnya buruk maka nasib rakyatnya akan buruk.


Padahal jika direnungkan, meski sudah berulangkali berganti kepemimpinan, sejak masa orde lama hingga orde reformasi, kondisi negeri ini justru kian memburuk. Inilah bukti persoalan bangsa ini bukan hanya pada suksesi kepemimpinan. Siapapun yang akan menjabat tampuk kekuasaan akan tetap menjalankan pola pemerintahan yang sama; demokrasi di atas landasan sekulerisme. Hasilnya? Tetap sengsara.


Meski di orde reformasi kehadiran parpol Islam dan sejumlah kecil syariat Islam dilaksanakan, tapi tak sebanding dengan kemunkaran yang terjadi. Perzinahan kian merebak, kejahatan meningkat dan penyelewengan kekuasaan serta korupsi menggila. Rakyat cukup dipuaskan dengan amalan zikir dan shalawat berjamaah, tarawih bersama pejabat, dsb. Sementara semangat untuk melaksanakan syariat Islam tetap dikerdilkan bahkan mengalami stigmatisasi. Dicap radikal bahkan dituduh menjadi inspirasi gerakan terorisme.


Tidak usah heran pula bila melihat rakyat dan pejabat negeri ini bisa bermuka dua. Di satu kesempatan hadir di majlis taklim bersama alim ulama dan habaib, tapi di saat lain hadir di panggung hiburan bersama biduanita yang sensual, atau terlibat suap menyuap. Bahkan mereka juga ikut-ikutan membebek agenda Barat untuk memerangi perjuangan penerapan syariat Islam. Al-Quran menggambarkan sifat dan sikap seperti itu sebagai milik orang-orang munafik yang diancam ditempatkan di keraknya neraka.


Allah SWT. juga telah mengingatkan kita agar tidak mengangkat orang-orang yang lebih condong pada kekufuran dan kezaliman sebagai pemimpin, karena mereka hanya akan mengantarkan umat ini pada kesengsaraan yang lebih dalam lagi.


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا ءَابَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu sebagai pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan (QS. at-Taubah [9]: 23).


Para pemimpin seperti itu hanya akan memikirkan kepentingan diri mereka sendiri. Bagaimana mereka bisa peduli pada rakyat, kalau Allah SWT. yang telah menciptakan dan memberikan rizki pada mereka saja sudah diabaikan?


Persoalan sesungguhnya umat hari ini adalah tidak diterapkannya hukum Allah. Bukankah Allah telah menurunkan al-Quran yang menjelaskan jawaban atas segala persoalan umat manusia? Bukankah ayat-ayat al-Quran itu yang banyak dibaca di bulan nan agung ini? Lalu kenapa hukum-hukum yang al-Quran yakni hukum-hukum Allah terus saja diabaikan? Maka saatnya kita sudahi semua itu dengan segera berjuang penuh kesungguhan untuk menerapkan Syariah Islam secara kaffah. Jika tidak bagaimana nanti kita menjawab pertanyaan Allah berikut ini?


أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ


Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50)

 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post