Kala Pemimpin Tidak Tegas


 Eko Susanto 


Kadang-kadang pemimpin tidak menyuruh secara tegas, tetapi ia menjelaskan keinginannya dengan menguatkan satu perkara atas perkara yang lain. Karena itu, sekalipun di sana terdapat ruang pilihan terhadap perkara yang tidak dikuatkan oleh pemimpin (amir) dan bahwa tidak ada keberatan atas orang yang menyalahi keinginan amir, lebih utama untuk melakukan perkara yang dikuatkan dan dikehendaki amir—jika keinginannya itu semata-mata karena ketamakannya terhadap balasan yang baik di sisi Allah. Ibn ‘Asakir menuturkan riwayat dari Sayf bin ‘Umar. Ia berkata:


Pada saat perang ke Syam, Abu Bakar pernah menulis surat kepada Amr. Isinya demikian, “Sesungguhnya aku mengirimmu untuk suatu aktivitas yang telah Rasulullah saw. serahkan kepadamu suatu kali dan mengkhususkannya kepadamu pada saat yang lain….Sebenarnya aku lebih suka jika Abu ‘Abdullah menggantikanmu, karena itu lebih baik bagimu dalam kehidupan dan kedudukanmu; kecuali perkara itu lebih kamu sukai.”


‘Amr lalu membalas surat itu, “Sesungguhnya aku adalah salah satu di antara anak panah Islam dan sesungguhnya Anda adalah pelemparnya setelah Allah. Karena itu, lihatlah yang paling kuat dan paling afdhal….”


Ibn ‘Asakir menuturkan riwayat dari Ibrahim bin Abi ‘Abalah. Ia berkata:


Hisyam bin ‘Abd al-Malik mengutusku seraya berkata, “Wahai Ibrahim, aku telah mengenalmu sebagai kanak-kanak, dan aku telah mengujimu sebagai orang yang besar….Aku mengangkatmu untuk menangani kharaj Mesir.”


Lalu aku berkata, “Sesuatu yang menjadi pandangan Anda, wahai Amir al-Mukminin, semoga Allah memberikan balasan dan pahalanya kepada Anda. Sedangkan sesuatu yang menjadi pilihanku, aku tidak punya hasrat untuk menangani kharaj Mesir, dan aku tidak memiliki kekuatan.”


(Ibrahim berkata), Hisyam pun marah dan memerah wajahnya; kedua matanya melotot. Hisyam memandangku dengan pandangan murka kemudian ia berkata, “Engkau mengurusinya dengan taat atau dengan tidak suka!”


Lalu aku diam hingga aku melihat kemarahannya telah reda dan wajahnya telah berbinar. Aku lalu berkata, “Wahai Amir al-Mukminin, bolehkan aku berbicara?”


Ia berkata, “Ya.”


Aku berkata, “Sesungguhnya Allah Swt. berfirman dalam al-Quran:


إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا


Sesungguhnya Kami telah menyampaikan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. (QS al-Ahzab [33]: 72).


Karena itu, demi Allah wahai Amir al-Mukminin, Allah tidak marah kepada mereka ketika mereka menolak dan tidak membenci mereka ketika mereka tidak suka menerima amanah itu. Lalu pantaskah Anda marah kepadaku ketika aku menolak? Janganlah membenciku ketika aku tidak mau (menerima amanah Anda).”


Lalu Hisyam tertawa hingga nampak gigi gerahamnya, kemudian berkata, “Wahai Ibrahim engkau menolak tidak lain karena engkau orang yang paham. Sungguh, aku rela terhadap (pilihan)-mu dan memaafkanmu.”

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post