Kapitalisasme, Dollar, Dan Penyakit


 Muh. Amin (Direktur Poverty Care)


Berbagai penyakit yang terus menjangkiti masyarakat sesungguhnya merupakan akumulasi  efek (cummulative effect) dominasi Kapitalisme yang menghancurkan sendi-sendi kesehatan masyarakat.  Inilah buktinya. Sekularisme yang menjadi jiwa Kapitalisme membuat ratusan juta anak manusia menderita krisis spiritual.  Akhirnya, manusia kehilangan daya kelola stress dan daya adaptif (coping mechanism)  positif yang penting untuk mempertahankan daya imunitas. Tubuh pun menjadi rentan dijangkiti berbagai penyakit seperti kanker, hipertensi dan infark miokard. Krisis spiritual juga meningkatkan penyalahgunaan NAZA, angka bunuh diri, kekerasan dan berbagai bentuk depresi.


Bisnis fast food (junk food) dan berbagai soft drink yang dikuasai oleh Multi National Coorporations turut bertanggung jawab terhadap persoalan kesehatan seperti kanker, obesitas, diabetes dan gangguan sistem percernaan.  Revolusi seks bebas yang bertanggung jawab sebagai sumber penularan utama berbagai penyakit menular seksual6 juga tak lepas dari penjajahan Kapitalisme global, yaitu melalui berbagai bentuk bisnis yang berbalut syahwat. Hal ini mengakibatkan penderita penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS, infeksi HPV (Human Papillomo Virus) meningkat pesat.  Bisnis syahwat ini pula yang menjerat ratusan ribu wanita dalam jaringan perdagangan manusia internasional. Mereka dalam tekanan fisik dan mental, putus asa dan rawan tertular berbagai penyakit menular seksual.   


Kapitalisme global jelas bertanggung jawab atas pemiskinan di negeri zamrud khatulistiwa ini.  Pemiskinan terkait erat dengan masalah kurang gizi, yang pada Ibu hamil mengakibatkan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah bahkan cacat. Selain kehilangan kecerdasan, anak penderita kurang gizi juga rentan terinfeksi, menderita berbagai gangguan fisiologis, bahkan bisa berujung pada kematian.  Kemiskinan juga mengakibatkan hampir separuh penduduk Indonesia tidak mampu mengakses air bersih dan sanitasi yang layak (UNDP, 2006). Menurut catatan Depkes tahun 2002, hanya 64,89% masyarakat yang memiliki rumah sehat dan hanya 78,45% masyarakat yang memiliki tempat-tempat umum sehat.


Indusrialisasi yang bersifat kapitalistik juga bertanggung jawab atas pencemaran lingkungan oleh berbagai limbah berbahaya yang mengakibatkan gangguan berbagai fungsi organ; juga atas kerusakan berbagai ekosistem, hilangnya paru-paru dunia serta munculnya berbagai polutan yang berperan dalam pemanasan global dan perubahan iklim global. Akibatnya adalah terjadi banjir, kekeringan dan serangan topan dan gagal panen, yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat.  Menurut Prof. Umar Fachmi, perubahan iklim global telah  mengakibatkan malaria kembali mewabah di beberapa daerah. 


Setelah membebani masyarakat dengan berbagai macam penyakit, kekuatan Kapitalisme global melalui lembaga-lembaga internasional, seperti IMF (International Monetery Fund) dan WTO (World Trade Organization) terus melucuti dan memandulkan fungsi sosial negara, termasuk kewajiban negara memberikan jaminan pelayanan kesehatan berkualitas bagi semua warga negara.


Bersamaan dengan itu, MNC (Multi National Coorporate) dan TNC (Trans Nasional Coorporation) terus mengokohkan keberadaan  lembaga-lembaga kesehatan internasional seperti WHO (World Heath Organization), CDC (Centers for Disease Control and Prevention)  dan FDA (Food and Drug  Administration) sebagai  kendaraan Kapitalisme global.  Terbongkarnya bisnis fantastis (Rp 5,220 triliun) di atas mayat penderita avian infuleanza baru-baru ini bukanlah bukti yang pertama WHO sebagai kacung Kapitalisme.  Sebab, ternyata GISN (Global Infuleanza Surveilance Network) WHO telah melakukan hal serupa terhadap berbagai seed virus influenza selama 50 tahun.


Kasus vaksin rotavirus yang menghebohkan masyarakat AS pada tahun 1999 adalah bukti lain tentang  keterlibatan lembaga bergengsi CDC dan FDA dalam kepentingan Kapitalisme global.  Vaksin yang membahayakan nyawa puluhan sampai ratusan bayi itu ternyata tetap lolos ke pasaran lebih karena pengambil keputusan di CDC dan FDA ditentukan oleh para pemilik saham di perusahaan pembuat vaksin, antara lain adalah John Modlin, yang juga memiliki saham senilai $26.000 di Merck; Paul Offit, M.D., anggota penasihat CDC yang memegang hak paten untuk vaksin rotarovirus. 


Dolar kembali menunjukkan kekuasaannya pada kasus kadar aman merkuri di dalam vaksin, yaitu memilih kompromi antara AAP, yaitu asosiasi ahli bedah Amerika, CDC dan FDA (Juli 1999). Meskipun kehadiran vaksin penuh dengan polemik, sungguh “menakjubkan” MNC mampu memandulkan daya nalar, tak terkecuali insan kesehatan, yaitu mengubah paradigma preventif  yang bersifat alamiah-konvensional—seperti mengkonsumsi gizi seimbang dan meningkatkan daya kelola stres—menjadi paradigma “preventif” dengan  vaksinasi.  Semua ini tidak terlepas dari keuntungan fantastis yang bisa diperoleh dari bisnis vaksin.  Contoh, untuk program vaksinasi HPV perorang dibutuhkan  biaya  sekitar Rp 3.000.000.


Cukup mudah menemukan tulisan tentang pembenaran harm reduction, yaitu pengurangan bahaya penularan HIV bagi pengguna narkoba dengan subsitusi metadon dan pembagian jarum suntik steril. Namun, jika ditimbang secara rasional terdapat beberapa kejanggalan atas upaya ini, dan semakin mencurigakan, ketika WHO mengalokasikan dana secara irasional untuk pencegahan HIV/AIDS, yaitu 15 kali lebih besar daripada untuk pencegahan penyakit TBC. Padahal HIV/AIDS hanya pembunuh nomor empat dunia, setelah TBC, malaria dan busung lapar (Majalah Time, 2006).


Peran lembaga-lembaga kesehatan internasional sebagai kendaraan Kapitalisme global juga terlihat nyata ketika WHO bergandengan tangan dengan raksasa-raksasa farmasi internasional seperti Bayer, Pfizer dan Aventis melalui World Economic Forum untuk menyediakan obat pada masyarakat miskin Dunia Ketiga. Banyak pihak yang meyakini rekanan ini lebih untuk kepentingan para coorporate raksasa itu.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post