Khusyuk Dalam Ketaatan (1)


 Rahmad Abu Zaky (Majelis Taklim Al Ukhuwah)


Khusyû’ (khusyuk) adalah bentuk mashdar (gerund) dari khasya’a–yakhsya’u–khusyû’[an]. Ibn Manzhur di dalam Lisân al-‘Arab menyatakan khasya’a-yakhsya’u-khusyû’[an]- wa ikhtasya’a-wa takhasya’a artinya melemparkan pandangan ke arah tanah dan menundukkannya serta merendahkan suara. Menurut al-Jurjani di dalam At-Ta’rifât, al-khusyû’, al-khudhû’ (ketundukan) dan at-tawâdhu’ (kerendahan hati) maknanya sama. Rawas Qal’ah Ji di dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’ menyatakan bahwa khusyuk adalah khada’a wa dzalla (tunduk dan rendah), melemparkan pandangan ke tanah, merendahkan suara dan anggota-anggota badan tenang. Menurut Murtadha az-Zubaidi di dalam Tâj al-Urûs, di antara makna khusyuk adalah as-sukûn (tenang) wa at-tadzallul (rendah/tunduk). Di dalam hadis Jabir ra. disebutkan bahwa Nabi saw. pernah datang dan berkata, “Siapa diantara kalian yang suka Allah berpaling darinya?” Jabir ra. berkata, “Fa khasya’nâ,” yaitu khasyînâ wa khadha’nâ (Kami pun takut dan tunduk).


Di dalam al-Quran kata khasya’a dan bentukannya dinyatakan 17 kali di 16 ayat. Di antaranya dengan makna al-khudhû’ wa adz-dzullu (tunduk dan rendah) (QS Thaha:108; al-Qamar: 7); as-sukûn wa ath-thuma’nînah (ketenangan) (QS al-Mu’minun: 2); khawf (takut) dan tawadhu’ (QS al-Baqarah: 45); serta tandus dan kering (QS Fushshilat: 39).


Al-Quran menyatakan pujian kepada orang-orang yang khusyuk secara umum baik laki-laki maupun perempuan; mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar (QS al-Ahzâb: 35) yaitu surga. Secara khusus, Allah SWT menilai orang yang khusyuk di dalam shalatnya sebagai orang yang beruntung/muflihûn (QS al-Mu’minun: 2). Juga dinyatakan bahwa meminta pertolongan dengan menetapi kesabaran dan dengan shalat hanya terasa ringan bagi orang yang khusyuk (QS al-Baqarah: 45). Semua itu menunjukkan bahwa khusyuk secara umum atau secara khusus di dalam shalat itu diperintahkan. Pernyataan adanya ampunan dan pahala besar yang akan diperoleh orang yang khusyuk; pernyataan bahwa khusyuk akan menjadikan ringan untuk meminta pertolongan dengan menetapi kesabaran dan dengan shalat; dan pernyataan orang yang khusyuk di dalam shalatnya sebagai orang muflih, semua itu merupakan indikasi (qarînah) yang menunjukkan perintah khusyuk itu bersifat tegas, sehingga khusyuk secara umum atau secara khusus khusyuk di dalam shalat adalah sesuatu yang wajib.


Para ulama menjelaskan pengertian khusyuk tersebut dengan berbagai ungkapan. Menurut al-Junaid, khusyuk adalah kerendahan hati dihadapan Zat yang Mahatahu atas yang ghaib. Hasan al-Bashri mengartikan, khusyuk adalah rasa takut yang langgeng bersemayam di dalam hati. Menurut Ibn al-Qayim al-Jawziyah di dalam Madârij as-Sâlikîn, khusyuk adalah berdirinya hati dihadapan Rab dengan tunduk dan rendah”. Dan khusyuk itu adalah makna yang muncul dari pengagungan dan kecintaan kepada Allah; kerendahan dan kelemahan dihadapan Allah. Sedangkan al-Jurjani memaknai khusyuk itu sebagai keterikatan kepada kebenaran (inqiyâd li al-haqq).


Menurut Imam Ibn Taimiyah di dalam Majmû’ al-Fatâwâ, khusyuk itu mengandung dua makna: pertama, tawadhu’ dan tadzallul (kerendahan dan kehinaan dihadapan Allah). Kedua, ketenangan dan thuma’ninah. Hal itu adalah keniscayaan dari kelembutan hati dan menafikan kekerasan dan kekesatan hati. Jadi khusyuk itu adalah rasa takut kepada Allah yang ada di dalam hati dan tampak diatas aspek lahiriah.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post