Konsep Evaluasi Pendidikan Dalam Sistem Khilafah


 Indarto Imam (Ketuan ForPEACE)


Tujuan pendidikan pada Madrasah Ibtidaiyah, Mutawasithah dan Tsanawiyah atau SD-SMP-SMU dalam Negara Khilafah adalah: Pertama, membentuk Generasi Berkepribadian Islam. Yaitu membentuk pola tingkah laku anak didik yang berdasarkan pada akidah Islam, senantiasa tingkah lakunya mengikuti Al Qur’an dan Al Hadis). 


Kedua, Menguasai Ilmu Kehidupan (Keterampilan dan Pengetahuan). Yaitu menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi  untuk mengarungi kehidupan yang diperlukan, agar dapat berinteraksi dengan lingkungan, menggunakan peralatan, mengembangkan pengetahuan sehingga bisa inovasi dan berbagai bidang terapan yang lain. Ketiga,  Mempersiapkan anak didik memasuki jenjang sekolah berikutnya.


Pada tingkat perguruan tinggi ilmu yang didapat tersebut bisa dikembangkan sampai derajat  pakar di berbagai bidang keahlian, ulama’, dan mujtahid.


Evaluasi pendidikan dalam sistem pendidikan pada masa Khilafah Islamiyah handal dan dilakukan secara komprehensif, untuk  mencapai tujuan pendidikan. Ujian umum  diselenggarakan untuk seluruh mata pelajaran yang telah diberikan. Ujian dilakukan secara tulisan dan lisan.


Munadhoroh adalah teknik ujian lisan mengenai suatu ilmu. Ujian lisan ini merupakan teknik ujian yang paling sesuai untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa untuk memahami pengetahuan yang telah dipelajari. Ujian lisan dilakukan baik secara terbuka maupun tertutup.


Di samping itu tentu ada ujian praktek pada keahlian tertentu.  Siswa yang naik kelas atau lulus harus dipastikan mampu menguasai pelajaran yang telah diberikan dan mampu mengikuti ujian sebaik-sebaiknya. Tentu saja siswa-siswa yang telah dinyatakan kompeten/lulus adalah siswa-siswa yang betul-betul memiliki kompetensi ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya dan bersyakshiyah Islamiyah atau memiliki pola tingkah laku yang Islami.


Pada masa pemerintahan Khalifah Al Fatih, pendidikan Islam semakin maju. Karena Al Fatih adalah Khalifah yang hebat. Di samping mampu menaklukkan Konstantinopel, sebuah kota pertahanan militer paling kuat saat itu, beliau juga sangat perhatian terhadap pendidikan. Khalifah Al Fatih rahimallahu anhu mengeluarkan hartanya pribadi untuk membangun sekolah-sekolah di seluruh kota besar dan kecil.  


Sebagai kepala Negara, Khalifah Al Fatih menetapkan manajemen sekolah, mengatur dalam jenjang dan tingkatan-tingkatan, menyusun kurikulum pada setiap level, termasuk sistem ujian untuk semua siswa.


Lebih dari itu Muhammad Al Fatih sebagai kepala Negara Khilafah yang wilayahnya sangat luas sekitar 2/3 dunia, masih menyempatkan waktu untuk memonitor  dan membimbing pendidikan rakyatnya. Bahkan Al Fatih tidak jarang datang ke sekolah, mendengarkan bagaimana guru mengajar. Beliau juga mengunjungi saat siswa ujian. Dan perhatiannya pada dunia pendidikan juga ditunjukkan dengan memberikan hadiah pada siswa berprestasi, padahal pendidikan diselenggarakan Negara Khilafah untuk rakyatnya secara gratis.


Pada tingkat perguruan tinggi sistem ujian yang handal meliputi ujian praktek, ujian tertulis dan ujian lisan. Ujian Lisan diadakan secara terbuka, para penguji bisa guru/dosen/profesor yang mengajar di lembaga pendidikan tersebut. Untuk suatu keahlian tertentu penguji dari internal dan eksternal. Ulama’ dan para intelektual manapun berhak untuk menguji.


Hak- hak istimewa setelah lulus ujian, boleh melakukan perbuatan: Mengajarkan ilmunya; Meriwayatkan hadits Rasulullah yang berasal dari guru-gurunya; Berfatwa, Mengobati penyakit, bila sudah menguasai ilmu kedokteran; Meracik obat, bila sudah menguasai ilmu obat-obatan; dan lain lain.


Dari uraian di atas terbukti hanya dengan sistem Pendidikan Islam yang berada dalam naungan pemerintahan Islamlah, Ujian bisa beres dan mencapai tujuan pendidikan Islam bisa tercapai secara sempurna. Hanya Khilafah lah yang memfasilitasi kewajiban kaum muslimin berpendidikan. Sabda Rasulullah:


 طلب العلم فريضة على كل مسلم


Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim


Oleh karena itu kita harus meninggalkan sistem pendidikan sekuler.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post