Membayar Hutang Sebelum Ajal Datang


 Abu Inas (Tabayyun Center)


Syariah menetapkan, akad utang tidak boleh dijadikan sebagai cara untuk memperoleh penghasilan, juga bukan sarana untuk melakukan eksploitasi. Syariah melarang utang yang melahirkan tambahan manfaat, baik berupa manfaat lain atau tambahan jumlah harta yang diutang. Tambahan itu adalah riba. Jika tambahan itu disyaratkan di dalam akad maka itu adalah riba dan hukumnya haram. Ali ra. berkata:


إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً


Sesungguhnya Nabi saw. telah melarang utang yang menarik suatu manfaat (HR al-Harits bin Abi Usamah).


Ibn al-Mundzir menyatakan, para Sahabat Nabi saw. telah berijmak bahwa kreditor, jika mensyaratkan kepada debitor suatu tambahan atau hadiah, lalu ia memberi utang berdasarkan hal itu maka mengambil tambahan itu adalah riba. 


Jika tidak disyaratkan di dalam akad, maka jika tambahan itu berupa tambahan jumlah harta yang sama maka jelas itu adalah riba. Jika tambahan itu berupa harta lain seperti dalam bentuk hadiah atau manfaat seperti tumpangan maka itu juga tidak boleh; kecuali yang biasa terjadi diantara keduanya sejak sebelumnya dan bukan karena akad utang itu. Yahya bin Abiy Ishaq al-Huna’i menuturkan, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra., tentang seseorang yang mengutangi (memberi qardh) saudaranya harta, lalu saudaranya itu memberinya hadiah. Anas ra., berkata, Rasulullah saw. pernah bersabda:


إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَى لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلاَ يَرْكَبْهَا وَلاَ يَقْبَلْهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ جَرَى بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ


Jika salah seorang di antara kalian memberi utang (qardh), lalu ia diberi hadiah (oleh pengutang) atau si pengutang membawanya di atas hewan tunggangan maka jangan ia menaikinya dan jangan menerima hadiah itu, kecuali yang demikian itu biasa terjadi di antara keduanya sebelum utang-piutang itu (HR Ibn Majah).


Ada hadis penuturan Abu Rafi’ ra.:


Nabi saw. pernah berutang seekor anak unta. Lalu datanglah unta sedekah. Kemudian Nabi saw. menyuruhku untuk membayar anak unta itu. Aku berkata, “Saya tidak menemukan selain unta yang lebih baik berupa unta umur enam tahun.” Rasul saw. bersabda:


أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً


Berikan kepadanya. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang lebih baik pengembaliannya (HR al-Bukhari, Muslim, Malik, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).


Dari hadis tersebut jelas pengembalian yang lebih baik itu tidak disyaratkan sejak awal, tetapi murni inisiatif debitor (al-mustaslif). Itu juga bukan tambahan atas jumlah sesuatu yang diutang karena tidak ada tambahan atas jumlah unta yang dibayarkan dan tidak ada pula tambahan apapun atas unta yang diutang. Itu tidak lain adalah pengembalian yang semisal dengan apa yang diutang; seekor hewan dengan seekor hewan, namun lebih tua dan lebih besar tubuhnya. Itulah yang dimaksud dengan pengembalian yang lebih baik (husn al-qadhâ’).


Secara syar’i husn al-qadhâ’ hukumnya boleh. Husn al-qadhâ’ adalah mengembalikan utang semisal apa yang diutang (jumlah dan jenisnya) tetapi dengan kualitas atau ukuran lebih baik. Jika diperhatikan, husn al-qadhâ’ ini bisa dilakukan dalam utang yang berbentuk dayn dan tidak dalam qardh[un]. Utang dalam bentuk qardh[un] harus dikembalikan dengan harta yang sama baik jenis, ukuran, sifat, dan jumlahnya.


Memberi tangguh kepada orang yang kesukaran saat jatuh tempo, baik dalam utang berupa dayn ataupun qardh, hukumnya sunah (QS al-Baqarah [2]: 280). Memberi potongan, utang baik sebagian atau semua, hukumnya juga sunah. Abu Qatadah berkata, bahwa Rasul saw. pernah bersabda:


مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ


Siapa yang senang diselamatkan Allah dari kesulitan pada Hari Kiamat maka hendaknya memberi keringanan kepada orang yang sedang kesukaran atau menggugurkan utangnya (HR Muslim).


Pengurangan utang itu harus inisiatif murni dari kreditor dalam bentuk tabarru’ (pemberian). Pengurangan utang itu tidak boleh disyaratkan sejak awal di dalam akad, baik jumlah, kualitas atau ukurannya. Pengurangan itu juga tidak boleh diberikan sebagai kompensasi dari percepatan pembayaran utang baik permintaan dari kreditor atau dari debitor. Sebab, yang demikian adalah riba.


Rasul saw. pernah bersabda:


نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ، حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ


Jiwa seorang Mukmin tergantung karena utangnya hingga hutangnya dibayarkan (HR Ahmad, ad-Darimi, Ibn Majah dan at-Tirmidzi).

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post