Memberi Utang Salah Satu Bentuk Taqarrub Kepada Allah Swt.


 Abu Inas (Tabayyun Center)


Al-qardhu berasal dari kata qaradha–yaqridu–qardh[an]. Secara bahasa arti asalnya adalah al-qath’u (potongan). Utang disebut qardh[un] karena kreditor (yang memberi utang) seakan telah memotong dari harta miliknya sepotong harta yang ia utangkan. Di dalam berbagai kamus dikatakan bahwa al-qardhu adalah harta yang diberikan untuk dibayar kembali belakangan.


Memberi utang kepada orang yang sedang kesulitan merupakan salah satu bentuk taqarrub kepada Allah Swt. Memberi utang bagi kreditor hukumnya sunnah. Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:


مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ


Siapa saja yang meringankan suatu kesulitan dunia dari seorang Mukmin niscaya Allah meringankan darinya kesulitan akhirat. Siapa saja yang mempermudah orang yang sedang mengalami kesukaran niscaya Allah memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim niscaya Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba selama hamba menolong saudaranya (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).


Ibn Mas’ud ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِماً بِقَرْضٍ مَرَّتَيْنْ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَةٍ مَرَّةٍ


Tidaklah seorang Muslim memberi utang sebanyak dua kali kepada Muslim yang lain kecuali (pahalanya) seperti sedekah satu kali (HR Ibn Majah, Ibn Hiban dan al-Baihaqi).


Adapun bagi pihak yang berutang (debitor), berutang hukumnya mubah. Hal itu karena Rasul saw. juga pernah berutang. Aktivitas Beliau itu bukan merupakan penjelasan atas suatu perintah. Juga tidak ada pujian atasnya; tidak tampak maksud taqarrub di dalamnya. Karena itu, berutang hukumnya adalah mubah.


Utang merupakan akad. Karena itu, akad utang itu harus memenuhi rukunnya, yaitu: (1) Dua pihak yang berakad yaitu al-muqridh (kreditor/pemberi utang) dan al-mustaqridh (debitor/yang berutang). (2) Ijab dan qabul, yang bisa menggunakan lafal qardh, atau salaf, atau yang maknanya sama, yaitu utang. (3) Harta yang diutang.


Akad utang merupakan akad pemindahan kepemilikan (‘aqd tamlîk) sehingga harus dilakukan oleh orang yang secara syar’i boleh melakukan tasharruf. Dalam akad utang pihak kreditor memindahkan kepemilikan hartanya kepada debitor. Itu menunjukkan kreditor haruslah pemilik harta yang diutangkan atau orang yang diizinkan oleh pemilik harta tersebut.


Akad utang tidak sempurna kecuali dengan serah-terima. Jika harta yang diutang termasuk harta yang ditakar, ditimbang atau dihitung maka harus diserahterimakan zatnya. Al-Mustaqridh (debitor) baru boleh melakukan tasharruf terhadap harta itu setelah diserahterimakan kepadanya zat harta itu. Artinya, harta itu harus sudah di dalam genggamannya. Harta selain yang ditakar, ditimbang dan dihitung, begitu selesai akad, kepemilikan harta itu sah berpindah kepada al-mustaqridh (debitor). Artinya, begitu selesai akad, al-mustaqridh langsung bisa melakukan tasharruf terhadapnya meski harta itu belum ia pindahkan atau belum ia pegang (belum berada di dalam genggamannya).


Harta yang diutang secara umum ada dua jenis. Pertama: harta ghayr mitsliy[an], yaitu barang yang tidak mempunyai padanan dan tidak bisa dicarikan padanannya seperti hewan, kayu bakar, pakaian, properti dan barang sejenis yang hanya bisa dihitung berdasarkan nilainya. Secara lebih spesifik utang harta jenis ini disebut dayn. Dayn juga mencakup utang berupa kompensasi harta lain dalam akad pertukaran harta yang penunaiannya ditunda setelah tempo tertentu atau harga barang yang disepakati akan dibayar setelah tempo tertentu.


Kedua: harta yang bersifat mitsliy[an] (memiliki padanan dan bisa dicarikan padanannya). Contoh: beras jenis tertentu, kain jenis tertentu, emas, perak, uang dan sejenisnya. Secara umum barang yang standarnya takaran, timbangan dan hitungan, termasuk harta jenis ini. Secara lebih spesifik utang harta jenis ini disebut qardh[un]. Utang dalam bentuk qardh[un] ini harus dikembalikan dengan harta yang sama baik dari sisi jenis, jumlah maupun sifatnya.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post