Menangkal Deradikalisasi Dimulai Dari Keluarga


M. Arifin (Tabayyun Center)


Sebagai kelanjutan dari isu terorisme dan kontra-terorisme, isu radikalisme dan upaya deradikalisasi bukanlah hal baru. Sudah dicetuskan sejak sekitar 10 tahun lalu. Pada tahun 2011, misalnya, Pemerintah pernah melakukan pelarangan terhadap buku-buku Islam tertentu yang dituding mengandung konten “radikal”. Saat itu ada 9 judul buku yang dicekal peredarannya di Indonesia oleh Jaksa Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung RI. Kesembilan buku itu rata-rata terkait dengan pembahasan syariah, jihad dan khilafah. Di antaranya adalah Tafsir Fi Zhilalil Quran Jilid 2 (karangan Sayyid Qutbh, Terbitan Gema Insani, 2001; Ikrar Perjuangan Islam (karangan DR Najih Ibrahim, Pustaka Al Alaq dan Al Qowam, 2009; Khilafah Islamiyah-Suatu Realita, Bukan Khayalan (karangan Prof. Dr. Syeikh Yusuf al-Qaradawi, PT Fikahati Aneka, 2000); Syariat Islam-Solusi Universal (karangan Prof. Wahbah Zuhaili, Pustaka Nuwaitu, 2004), dsb (Eramuslim.com, 20/10/2011).


Belakangan, sebelum muncul Program Sertifikasi Da’i/Penceramah, Kemenag di bawah Yaqut, lagi-lagi motifnya tidak jauh dari “deradikalisasi”.


Jelas, upaya Pemerintah untuk terus melestarikan program deradikalisasi adalah upaya usang, selain kontraproduktif. Apalagi di tengah banyaknya isu penting yang seharusnya menjadi fokus Pemerintah seperti: penanganan bencana Covid-19 yang carut-marut, ekonomi yang makin loyo bahkan disinyalir sedang menuju resesi, korupsi yang makin menjadi-jadi, utang luar negeri yang makin tinggi, APBN yang terus mengalami defisit yang makin besar, dll.


Deradikalisasi Dampak deideologisasi tak sekadar membuat islamophobia dalam tubuh umat. Namun, yang lebih besar lagi adalah kerapuhan keluarga dan kelemahan generasi masa depan yang akan membawa pada kejatuhan negeri ini. Kejatuhan negeri akan menimpa semua kalangan, yakni penderitaan rakyat dan hilangnya kehormatan para pemimpinnya. Yang lebih dahsyat lagi adalah kelak akan menyeret para pemimpin penggadai negeri dan para penghancur identitas Islam ke lembah-lembah neraka. Na’udzubillahi min dzalik.


Untuk itu, perlu ada antisipasi keluarga Muslim dalam menghadapi bahaya yang lebih besar lagi. Upaya yang bisa dilakukan adalah:


1. Meningkatkan kesadaran kepada seluruh anggota keluarga bahwa rasa takut yang terbesar adalah ketika melepaskan Islam sebagai pedoman hidup.


Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا


Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka (QS at-Tahrim [66]: 6).


Karena itu, orangtua harus selalu membentengi anggota keluarganya dengan keimanan, agar mereka tetap berpegang teguh pada akidah dan syariah Islam meskipun arus liberalisasi terus menyeret-menyeret arah kehidupan mereka pada kesesatan. Orangtua harus lebih khawatir anak-anaknya terjerumus ke dalam kehidupan bebas jika mereka dibiarkan tanpa pembinaan Islam sama sekali.


2. Menjadikan keluarga tetap berpegang teguh pada kebenaran pemikiran Islam dan hukum-hukumnya.


Langkah yang harus ditempuh adalah dengan mempelajari al-Quran dan as-Sunnah secara sungguh-sungguh serta menjadikannya sebagai pedoman dalam berperilaku.


3. Menjadikan keluarga sebagai keluarga yang menyampaikan kebenaran di manapun berada (menjadi keluarga pengemban dakwah).


Ini akan menjadi tameng untuk menghindarkan keluarga dari kerapuhan akibat arus liberalisasi yang semakin menghebat. Allah SWT berjanji akan menolong hamba-Nya yang menolong agama Allah.


إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ


Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian di muka bumi ini (QS Muhammad [47]: 7).


Upaya menyampaikan dakwah Islam ini dilakukan sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah saw., yakni tanpa kekerasan.


4. Meyakini bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia.


Allah SWT yang menciptakan manusia, menurunkan aturan yang sesuai dengan fitrah tersebut. Sesungguhnya hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT itu mudah untuk dilakukan, ringan diterima dan nyaman untuk dilaksanakan. Hanya opini dan teror isu dari Barat yang membuat Islam tampak sulit diterapkan.


Dengan anstisipasi seperti ini, insya Allah proyek deideologisasi pada keluarga Muslim hanya akan menuai kegagalan. Keluarga Muslim harus tetap konsisten dalam mengarahkan biduk rumah tangganya menuju terwujudnya keluarga-keluarga Muslim pejuang Islam dan generasi masa depan yang memiliki keimanan yang semakin murni dan keikhlasan yang semakin dalam. 

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post