Mencintai Istri Dengan Tulus


 Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)


Dalam rumah tangga, Allah SWT memuliakan wanita dengan memberi peran sebagai sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (umm[un] wa rabat al-bayt) yang bertanggung jawab mengatur rumah tangganya di bawah kepemimpinan laki-laki/suami. Sebagai pemimpin rumah tangga suami wajib memimpin, melindungi dan memberi nafkah kepada anggota keluarganya (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 34). Rasulullah saw. juga bersabda, “Wanita (istri) adalah penanggung jawab dalam rumah tangga suaminya dan anak-anaknya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).


Wanita yang mulia adalah yang paling bertakwa, yaitu wanita yang beraktivitas sesuai dengan hukum syariah. Karena itu, wanita yang bertakwa adalah yang mampu menjalankan perannya dengan baik, melaksanakan kewajibannya sebagai istri dan ibu sesuai dengan tuntutan syariah Islam. Mereka mengatur rumah tangganya dengan baik hingga mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi suami dan anak-anaknya, untuk menggapai kemuliaan, yaitu menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa (Lihat: QS al-Furqan [25]: 74).


Seorang suami memang pantas untuk menghargai, menghormati, memuliakan dan menyayangi istrinya betapapun dalam pandangannya, istrinya itu banyak kekurangannya. Sebab, jika pun ukurannya dikembalikan pada standar materi, pekerjaan menjadi seorang istri/ibu rumah tangga sesungguhnya amat mahal. Bagaimana tidak?


Dari sisi waktu, jika seorang suami/ayah bekerja secara umum dari pagi sampai sore, atau paling banter sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, maka seorang istri/ibu rumah tangga bekerja kadang jauh sebelum terbit fajar dan baru berhenti setelah ‘terpejam mata suami’. Karena itu, bisa dikatakan, seorang ibu rumah tangga jauh lebih tangguh dan super ketimbang suaminya.


Dari sisi materi, di situs www.reuters.com disebutkan bahwa setelah dilakukan survei kepada 18.000 ibu rumah tangga di Toronto, Kanada, mengenai daftar pekerjaan rumah tangga mereka sehari-hari (seperti memasak, membersihkan rumah, merawat anak, mengurus keluarga, dan sebagainya), sebuah perusahaan standar penggajian mendeskripsikan nilai, harga dan gaji yang pantas atas “pekerjaan” para ibu rumah tangga ini bila mereka digaji. Di Kanada, dari sekian banyak tugas dan pekerjaan domestik, seorang ibu rumah tangga—jika digaji secara layak—pendapatan perbulannya bisa mencapai $124.000. Jumlah itu setara dengan Rp 1.736.000.000,- (baca: satu miliar tujuh ratus tiga puluh enam juta rupiah). Ini bila kurs $1= Rp 14.000,- saja.


Jika sebesar itu yang harus diperoleh oleh seorang ibu rumah tangga, tentu hanya seorang suami yang berkedudukan sebagai CEO sebuah perusahaan besar atau minimal seorang pemilik multiusaha sukses yang bisa menggaji istrinya setiap bulan. Tentu nominal tersebut terbilang sangat besar dilihat dari standar negara manapun, hatta negara paling modern dan maju sekalipun.


Karena itu, “Sebuah kesalahpahaman yang sangat jamak jika pilihan seorang wanita untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dianggap lebih mudah dan lebih ringan daripada menjadi seorang wanita karir…,” kata Lena Boltos, seorang surveyor yang melakukan survey dan kalkulasi tersebut (Hidayatullah.com, 30/3/2010).


Jika sebesar itu nilai “profesi” sebagai seorang ibu rumah tangga, maka secara berseloroh kita bisa mengatakan, betapa tidak cerdasnya seorang istri/ibu sampai rela mengorbankan urusan keluarga/rumah tangganya hanya karena sibuk bekerja dengan gaji yang tentu tidak seberapa dibandingkan dengan nominal di atas. Lebih tidak cerdas lagi jika seorang suami menganggap rendah istrinya, tidak mau menghargai dan memuliakan istrinya, hanya karena ia banyak di rumah sekadar menjalani “profesi”-nya sebagai ibu rumah tangga.


Itu dari sisi materi. Bagaimana jika dilihat dari kacamata Islam? Dalam pandangan Islam, seorang ibu rumah tangga bertanggung jawab penuh atas seluruh urusan keluarga/rumahtangganya karena posisinya sebagai umm[un] wa trabbah al-bayt (ibu sekaligus manajer rumah tangga). Ia jugalah yang bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan anak-anaknya. Seorang penyair Arab mengatakan, ”Al-Ummu Madrasah al-Ula, Idza A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khayr al-‘Irq” (Seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau mempersiapkan ia dengan baik maka sama halnya dengan engkau mempersiapkan bangsa berakar kebaikan).


Lebih dari itu, betapa mulia dan terhormatnya kedudukan seorang istri/ibu rumah tangga tergambar dalam hadis penuturan Anas ra. berikut:


Kaum wanita pernah datang menghadap Rasulullah saw. Mereka bertanya, ”Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah amal perbuatan untuk kami yang dapat menyamai amal para mujahidin di jalan Allah?” Rasulullah saw. menjawab, “Siapa saja di antara kalian berdiam diri di rumahnya (melayani suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengurus rumahtangganya), sesungguh-nya ia telah menyamai amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR al-Bazzar).

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post