Mendidik Anak Dengan Bekal Ilmu, Keteladaan Dan Keikhlasan


 


Romadhon Abu Yafi (Bengkel IDE)


Masa anak - anak adalah masa imitasi atau peniruan, sehingga orang tua dan para pengajar di sekolah, harus memberikan contoh keteladanan yang baik untuk anak. Khususnya orangtua hendaknya mereka mengajak buah hati untuk ikut shalat, mengaji, dan melibatkannya dalam aktivitas dakwah kita adalah hal yang harus kita lakukan, untuk membentuk kebiasaan dan karakter anak.  Begitu pula memberikan keteladanan dalam berkata yang baik, berbuat baik, serta mengasah perasaan peduli dengan orang lain.


Untuk memunculkan jiwa kepemimpinannya, beri kesempatan pada anak untuk membuat keputusan, menghargai pendapat-pendapatnya, dan merangsang keberaniannya untuk tampil di hadapan orang lain.


Untuk membentuk aqidah anak, kita teruskan mengenalkan ciptaan Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta.  Selain itu berikan gambaran tentang berbagai nikmat Allah, untuk menanamkan kecintaan anak pada-Nya.  Misalnya bahwa Allah memberikan kita mata untuk melihat.  Minta anak untuk berjalan dengan mata tertutup.  Bagaimana bila Allah tidak memberikan mata untuk kita?  


Begitu pula setiap kita mendapat nikmat Allah, maka ceritakan pada anak dan ajak ia, untuk mensyukurinya.  Jelaskan bahwa Allah menyayangi kita.  Dengan memahami kasih sayang Allah, anak akan belajar untuk mencintai-Nya.  Di kemudian hari, akan mudah bagi kita untuk memotivasi anak beribadah sebagai manifestasi cintanya kepada Allah.


Kenalkan juga anak dengan rukun-rukun iman lainnya. Untuk iman kepada yang ghaib, seperti malaikat dan hari akhir, berikan dalil dari al Qur’an.  Sedang keimanan terhadap al Qur’an, kita bisa jelaskan melalui bahasa sederhana, misalnya dengan penganalogan buku panduan bagi penggunaan alat tertentu di rumah kita.  Buku panduan penggunaan kompor misalnya.  Bila kita langsung menggunakan kompor gas yang belum pernah kita kenal sebelumnya, maka bisa terjadi kesalahan yang berakibat fatal. Hidup adalah hal yang lebih penting dan lebih rumit.  Maka Al Qur’an adalah buku manual manusia, agar tidak salah langkah menggunakan hidupnya.


Tanamkan kecintaan anak kepada Rasulullah saw dengan menceritakan kisah-kisah perjuangan beliau, sifat-sifat beliau yang utama, dan kecintaan beliau kepada umat.  Jelaskan juga, bahwa cara kita mencintai beliau adalah dengan menjadikan beliau sebagai idola kita, teladan kita, mentaati semua ajarannya dan menjauhkan diri dari apa yang beliau larang dan tidak suka.


Sedangkan iman kepada qadha dan qadar Allah, dapat kita jelaskan dari fakta yang ada di sekitar kita serta cerita-cerita, bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita, sekalipun kadang tidak sesuai dengan keinginan kita.


Ajak anak untuk menghafal surat-surat yang lebih panjang dari juz amma.  Tidak sulit insya Allah, bila kita terus menerus mengulangnya. Anak memiliki kemampuan hafalan yang kuat.  Sedangkan untuk belajar membaca Al Qur’an, bisa dimulai pada usia ini namun tidak dipaksakan.  Usia ideal bagi anak untuk belajar membaca adalah 7 tahun.  Bila kita berkeinginan memulainya sebelum itu, buatlah suasana belajar menjadi suasana bermain yang anak merasa nyaman di dalamnya.  Tanpa tekanan, paksaan, atau unsur menyalahkan.


Untuk memotivasi anak dalam berbuat di usia ini, kita gunakan arah motivasi mendekat, yaitu motivasi yang membuat anak terdorong untuk melakukan hal yang ia anggap menyenangkan.  Bukan motivasi menjauh, yakni menakut-nakuti anak untuk menghindar dari suatu perbuatan.  


Contoh motivasi mendekat adalah kalau ia berbuat kebaikan, maka Allah akan memberikan pahala dan akan menyayanginya.  Bila Allah sayang, maka Allah akan membalas dengan surga yang penuh dengan kenikmatan.  Hal tersebut, akan membuat anak merasa bahwa Allah adalah dzat yang penyayang.


Sebaliknya, memberikan motivasi menjauh seperti bila ia berbuat maksiat Allah akan menghukumnya, atau nanti akan memasukkannya ke neraka, dapat menciptakan image di benak anak bahwa Allah itu kejam. Dengan demikian, kenalkan anak terlebih dahulu dengan surga.  Bila ia telah tamyiz, mampu membedakan baik buruk dengan konsekuensinya, baru kenalkan anak pada konsep dosa dan neraka.


Motivasi mendekat, dapat pula diberikan melalui pemberian hadiah dan pujian. Hadiah tidak selalu dalam bentuk materi, namun bisa berupa cium sayang, pelukan, acungan jempol dan sebagainya. Sedang untuk pujian, selama tidak terkait dengan ibadah, pujian sah-sah saja diberikan. Namun bila terkait dengan ibadah, seperti anak melakukan shalat, pujian harus kita ubah, bukan dengan mengatakan “anak umi shalih”, namun katakan “Allah pasti akan memberimu pahala yang besar,” atau “anak umi pasti akan disayang Allah.”  Hal itu, untuk menghindarkan anak dari sifat riya, yaitu beramal untuk mendapatkan pujian.


Di usia ini anak sudah bersosialisasi dalam kelompok. Untuk mencetak anak dengan karakter pemimpin,  yang terpenting adalah menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.  Rasa percaya diri dapat ditumbuhkan bila kita membentuk konsep diri yang positif pada anak.  Konsep diri, yaitu cara pandang anak terhadap dirinya, bila positif, seperti aku anak pintar, anak shaleh, aku bisa, dan sebagainya, akan membuat anak menghargai dirinya sendiri dan menempatkan diri dalam relasi yang setimbang dalam pergaulan kelompok.


Suasana rumah yang terbiasa memberikan penghargaan kepada anak, memberikan kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapat dan membuat keputusan, memberikan kepercayaan pada anak untuk mengerjakan tugas-tugas yang mampu dikerjakan anak, serta menganggap anak memiliki posisi yang penting dalam keluarga, akan membentuk  sikap kepemimpinan pada anak. Sikap tersebut dipupuk terus agar, dengan harapan kelak akan lahir seorang pemimpin besar.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post