Menolak Fitnah Atas Khilafah Sebagai Ideologi Penebar Teror


 Oleh Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Momen 1 Juni 2021 yang diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, mestinya menjadi momen introspeksi bangsa ini. Apakah Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara sudah bisa dilaksanakan dengan murni dan konsekwen ataukah belum? 


Justru di dalamnya diulas tentang kewaspadaan terhadap ideologi transnasional radikal. Bahkan Tenaga Utama Staf Kepresidenan, Donny menyatakan ideologi transnasional radikal itu memecah belah karena menghalalkan kekerasan dan menyebarkan ketakutan. Ideologi ini bisa bersumber dari agama hingga kebudayaan. Ia menambahkan ideologi Khilafah HTI sebagai satu contoh.


Menilik pernyataan tersebut, patut untuk dicermati beberapa hal berikut ini. 

Pertama, pernyataan bahwa Khilafah sebagai ideologi merupakan kesalahan fatal. Tidak masuk akal bila setingkat negara tidak mampu mendeteksi keberadaan Khilafah bukan sebagai ideologi. 


Tentunya pelabelan "Ideologi Khilafah" berpotensi membawa dampak besar dan membahayakan. Betapa tidak. Konsekwensinya adalah umat akan menjauh dari upaya membicarakan Khilafah, apalagi untuk memperjuangkannya. Pola pikir yang terbentuk pada umat adalah Khilafah bukan lagi dipandang sebagai bagian dari ajaran Islam. Akan tetapi sebagai ideologi yang berbeda dengan Islam.


Sebagaimana rekomendasi Rand Corporation, untuk menangani kalangan Islam fundamentalis atau radikalis adalah dengan dikerdilkan. Tokoh-tokohnya dikucilkan. Keberadaannya harus dijauhkan dari mayoritas kaum muslimin yang termasuk tradisionalis.


Padahal ajaran tentang Khilafah berada dalam kitab-kitab fiqih para ulama. Khilafah menjadi bagian dari syariat Islam yang dikaji bersamaan dengan syariat yang lainnya. Bahkan al-imam al-ghazali menyatakan dalam al-Iqtishad fil i'toqad bahwa agama itu asas, dan kekuasaan adalah penjaganya. Dan setiap hal yang tidak punya asas, maka akan rusak. Dan setiap hal yang tidak ada penjaganya, maka akan segera lenyap. 


Dari sini bisa dipahami bahwa Khilafah itu kekuasaan yang menjaga pelaksanaan Islam. artinya Khilafah merupakan sistem kepemimpinan Islam.


Kedua, mengenai Khilafah itu penebar kekerasan dan ketakutan. Pastinya ini adalah fitnah keji terhadap ajaran Islam.


Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya sebagai berikut ini. 


وعد اللّه الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الارض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم امنا....  الخ

"Alloh telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal sholih di antara kalian, bahwa sungguh Kami akan jadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana kaum sebelum mereka berkuasa. Dan Kami sungguh akan menguatkan agama yang diridhoiNya. Dan Kami akan mengganti keadaan mereka dari ketakutan menjadi tenteram amanah... (An-Nisa ayat 55).


Ayat tersebut jelas menunjukkan fungsi keberadaan kekuasaan di tengah-tengah umat Islam. Menjaga agama dan mewujudkan ketenteraman merupakan buah kekuasaan Islam.


Al-Imam Ibnul Mubarak memberikan penjelasan berikut ini. 


لولا الخلافة لم تؤمن لنا سبل. وكان اضعفنا نهبا لاقوانا

Kalau sekiranya bukan karena Khilafah niscaya tidak aman jalanan-jalanan kita. Sedangkan orang-orang lemah berada dalam dominasi kalangan yang lebih kuat.


Khilafah dalam sepak terjangnya selalu memasuki suatu kota dengan menebarkan keselamatan dan kedamaian. Bagaimana wajah al-Andalusia berubah menjadi mercusuar peradaban dan kemajuan ilmu setelah berada dalam kekuasaan Islam di sana. Kota Cordoba menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Keadaan ini terus berlangsung hingga ratusan tahun.


Begitu pula penaklukan Konstantinopel. Sebagai pemenang, Sultan Muhammad Al-Fatih justru memasuki kota dengan rendah hati. Jaminan keamanan bagi seluruh penduduk diberikan. 


Ini sekelumit kisah Indah di masa kepemimpinan Islam. Islam telah mampu melebur antara masyarakat pendatang dengan penduduk lama.


Berbeda halnya dengan kebobrokan dari Ideologi Sekulerisme dengan Demokrasinya. Atas nama investasi, SDA negeri ini telah digadaikan. SDA dikangkangi oleh korporasi. Akibatnya rakyat merasakan susahnya hidup di tanah mereka sendiri. Kejahatan kemanusiaan sudah tidak bisa dihitung. Bahkan berita kejahatan menjadi menu harian berita TV.  Disintegrasi bangsa, penistaan terhadap Islam dan lain-lainnya. Demikianlah teror terhadap masyarakat yang menjadi buah pahit dari kehidupan sekuleristik.


Dalam skala dunia internasional. AS yang mengklaim sebagai kampium demokrasi, sepak terjangnya membahayakan kemanusiaan. Atas alasan kepemilikan senjata pemusnah massal, AS menyerang Irak di 2003. Kejahatan AS di Vietnam melalui agen Orange, dukungan AS terhadap Israel guna membantai Palestina, dan lainnya. Ini semua hanya menunjukkan satu hal bahwa Demokrasi adalah alat penjajahan. Jika demikian, bukankah Sekulerisme Demokrasi itu yang pantas disebut sebagai Ideologi Transnasional yang radikal,  yang terbukti menyebarkan teror dan ketakutan. Lantas mengapa negeri ini mengadopsinya dalam penyelenggaraan pemerintahannya??


Jadi adanya rivalitas ideologi merupakan sebuah keniscayaan. Hanya saja kita akan mengambil ideologi yang mana untuk digunakan dalam mengatur kehidupan. Jika Sekulerisme dengan Demokrasinya sudah tidak mampu untuk memperbaiki kehidupan, maka satu-satunya jalan adalah dengan mengambil ajaran Islam secara utuh. Utuhnya penerapan Islam adalah melalui tegaknya kekuasaan Islam yakni al-Khilafah. 


# 05 Juni 2021

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post