Ogah Mengikuti Pemimpin Yang Bermaksiat


 Agus Kiswantono


Allah berfirman:


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ


Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta ulil amri di antara kalian. (QS an-Nisa’ [4]: 59).


Abu Hurayrah menuturkan bahwa Nabi saw. juga pernah bersabda:


«مَنْ أَطَاعَنِيْ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي»


Siapa saja yang menaatiku, dia telah menaati Allah; siapa saja yang bermaksiat kepadaku, dia telah bermaksiat kepada Allah; siapa saja yang menaati pemimpinku, dia telah menaatiku; siapa saja yang berbuat maksiat kepada pemimpinku, dia telah bermaksiat kepadaku. (HR Mutaffaq ‘alayh).


Anas bin Malik juga pernah menuturkan bahwa Rasulullah pernah bersabda:


«اِِسْمَعُوْا وَأَطِيْعُوْا وَإْنْ اِسْتَعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيْبَةٌ»


Dengar dan taatilah pemimpin yang diangkat untuk memimpin kalian sekalipun dia seorang budak hitam yang (rambut) kepalanya seperti kismis (kriting). (HR al-Bukhari).


Abu Dzar juga menuturkan:


«أَوْصَانِي رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيْعَ وَلَوْ لِعَبْدٍ مُجْدَعِ اْلأَطْرَافِ»


Rasulullah saw. berwasiat kepadaku agar aku mau mendengar dan taat sekalipun pemimpin itu seorang budak yang hilang anggota badannya. (HR Muslim).


Abu Hurayrah juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:


«عَلَيْكَ بِالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَعُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَأَثَرَةِ عَلَيْكَ»


Engkau wajib taat (kepada pemimpin) dalam apa yang engkau sukai dan engkau benci, dalam kesempitan dan kelapanganmu, serta dalam keputusan atasmu. (HR Muslim).


Nabi saw. juga pernah bersabda:


«مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً»


Siapa saja yang keluar dari ketaatan dan memecah-belah jamaah lalu mati maka matinya adalah mati Jahiliah. (HR Muslim).


Rasulullah juga pernah bersabda pada Haji Wada’, sebagaimana dituturkan Abu Umamah al-Bahili:


«اُعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَصَلُّوْا خَمْسَكُمْ وَصُوْمُوْا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوْا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيْعُوْا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوْا جَنَّةَ رَبِّكُمْ»


Sembahlah Tuhan kalian, tunaikanlah shalat lima waktu, puasalah pada bulan Ramadhan, bayarlah zakat harta kalian, dan taatilah orang yang mengatur urusan kalian (amir), niscaya kalian akan masuk surga Tuhan kalian. (HR Ibn Khuzaymah, Ibn Hibban, dan al-Hakim).


Rasulullah saw. juga pernah berkhutbah di ‘Arafah dan bersabda:


«إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبْشِيٌ فَاسْمَعُوْا لَهُ وَأَطِيْعُوْا مَا قَادَكُمْ مِنْ كِتَابِ اللهِ»


Jika seorang budak Habsyi diangkat menjadi pemimpin kalian maka dengar dan taatilah selama ia memimpin kalian dengan Kitabullah. (HR Abu Bakar al-Khalal).


Abu Dzar juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:


«إِسْمَعُ وَأَطِعُ لِمْنْ كَانَ عَلَيْكَ»


Dengar dan taatilah orang yang memimpin kalian. (HR Ibn Abi Hasyim).


Namun demikian, tidak ada ketaatan kepada pemimpin dalam kemaksiatan yang tidak diragukan dan diperselisihkan lagi bahwa hal itu adalah kemaksiatan. Abdullah bin Umar menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda ;


«السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِي مَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذاَ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ»


Wajib mendengar dan taat atas setiap Muslim dalam apa yang disukai dan yang dibenci selama tidak diperintah untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintah untuk berbuat maksiat, ia tidak wajib mendengar dan taat. (HR al-Bukhari dan Muslim).


‘Ali menuturkan bahwa Rasulullah saw. juga pernah bersabda:


«لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ»


Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kemakrufan. (HR Ahmad).


Di antara ketaatan kepada pemimpin adalah menjalankan semua ketetapan, perintah, dan ‘azimah-nya. Dalam al-Ghiyâts Al-Juwayni menyatakan bahwa Imam wajib secara pasti diikuti dalam apa yang dipandang sebagai hasil ijtihadnya. Melanggar perintah yang diserukan imam secara pasti akan berakibat diperangi, sekalipun perintah itu asalnya zhannî. Kaidah ushul fikih yang masyhur menyatakan:


أَمْرُ اْلإِمَامِ نَافِذٌ ظَاهِراً وَبَاطِناً


Perintah imam harus dilaksanakan secara lahir maupun batin.


Sementara itu, berkaitan dengan ‘azimah, yang dimaksud adalah perintah yang sungguh-sungguh dan penting. Ibn Manzhur berkata di dalam Lisân al-‘Arab: ‘Azamtu ‘alayka. Maksudnya, “Aku memerintahmu dengan perintah yang sungguh-sungguh.” Itulah ‘azimah. An-Nawawi juga menyatakan hal senada. Perintah orang yang menangani urusan kita wajib ditaati, kecuali dalam perkara maksiat. Demikian kata Ibn Manzhur.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post