Pentingnya Sikap Wara' (1)


 Abu Inas (Tabayyun Center)


Wara’ secara bahasa berasal dari wari’a – yari’u–wara’[an]; artinya al-kaff (mencukupkan diri dari sesuatu) dan al-‘iffah (menahan diri dari sesuatu yang tidak seharusnya); bisa juga artinya taharruj (menahan diri dari—atau menjauhi—sesuatu).


Menurut Ibn al-Atsir di dalam An-Nihâyah, wara’ pada asalnya adalah mencukupkan diri dari apa-apa yang haram dan menjauhinya, lalu juga digunakan untuk menyebut: mencukupkan diri dari apa saja yang mubah dan halal. Rasul saw. pernah bersabda:


فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِيْنُكُمْ اَلْوَرَعُ


Keutamaan ilmu lebih aku cintai daripada keutamaan ibadah dan sebaik-baik agama kalian adalah wara’ (HR al-Hakim, ath-Thabarani dan al-Bazzar).


Nabi saw. juga pernah berpesan kepada Abu Hurairah ra. (juga kepada kita):


كُنْ وَرَعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ


Jadilah orang yang wara’, niscaya kamu menjadi manusia yang paling tunduk dan patuh (HR Ibn Majah, at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan ath-Thabarani).


Lalu wara’ yang disyariatkan itu seperti apa? Sejumlah ulama mendefinisikan wara’ sebagai berikut:


• Wara’ adalah meningalkan semua syubhat, meninggalkan semua yang tidak bermanfaat bagi Anda dan meninggalkan apa saja yang lebih (dari mencukupi) (Ibrahim bin Adham).


• Wara’ adalah menjauhi syubhat karena khawatir terjatuh di dalam yang haram (Sayid al-Jurjani di dalam At-Ta’rîfât).


• Wara’ adalah meninggalkan apa saja yang ditakutkan bahayanya di akhirat (Imam Ibn al-Qayim di dalam Madârij as-Sâlikîn).


• Wara’ adalah wara’ dari apa-apa yang ditakutkan akibatnya (di akhirat), yaitu apa-apa yang telah jelas keharamannya dan dari apa saja yang masih diragukan keharamannya dan jika ditinggalkan tidak menimbulkan mafsadat yang lebih besar daripada bila dilakukan (Imam Ibn Taimiyah).


• Wara’ dalam istilah syar’i adalah meninggalkan apa-apa yang meragukanmu, menghilangkan apa saja yang bisa mendatangkan aib bagimu, mengambil yang lebih dipercaya (diyakini) dan membawa diri pada yang paling hati-hati (Syaikh Shalih bin Munjid).


Meninggalkan apa-apa yang haram merupakan keharusan setiap Muslim. Setiap Muslim juga harus sekuat mungkin meninggalkan apa saja yang makruh. Ini merupakan sikap dasar setiap Muslim.


Sikap wara’ merupakan sikap utama yang mengantarkan seorang Muslim meraih derajat yang mulia. Rasul saw. memberikan petunjuk tentang bagaimana seorang Muslim bersikap wara’:


مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ


Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Ibn Hibban dan al-Baihaqi)


Imam Ibn al-Qayim menjelaskan bahwa hadis ini bersifat umum mencakup meninggalkan semua yang tidak bermanfaat baik berbicara, melihat, mendengar, memegang, berjalan, berpikir dan seluruh gerakan lahir maupun batin. Hadis ini telah cukup dan menyeluruh menjelaskan tentang wara’.


Ini adalah sikap wara’ paling tinggi yang oleh Imam al-Ghazali disebut wara’ ash-shiddiqîn, yaitu meninggalkan hal mubah yang tidak bermanfaat dalam menguatkan ibadah atau ketaatan. Muslim yang memiliki wara’ pada tingkatan ini akan selalu bertanya pada dirinya sendiri, “Adakah manfaat bagiku untuk menguatkan ibadah, melakukan ketaatan dan meningkatkan taqarrub kepada Allah jika aku mengkonsumsi, menggunakan atau melakukan hal mubah ini?” Jika tidak ada, hal mubah itu pun ia tinggalkan. Ini seperti Rasul saw. yang tidak mau tidur menggunakan alas yang empuk dan lebih memilih tidur beralaskan tikar tipis agar mudah bangun untuk shalat malam; seperti sikap Umar bin al-Khaththab ra. yang tidak mau makan roti karena Rasul saw. dan Abu Bakar dulu tidak memakannya; juga seperti sikap orang yang sedikit makan, menghindari makanan berlemak, kue, dsb, agar tidak kegemukan sehingga bisa shalat tahajud dan melakukan ketaatan dengan baik.

Post a Comment

Post a Comment (0)

Previous Post Next Post